Sunday, July 15, 2012

I Wish I was a Fixer

'I will build you a town if the world fell down
I wish I was that guy...'

Song : Frank D. Fixer
Artist : Jason Mraz
Album : LOVE, 2012

Saturday, July 14, 2012

Place with No Sincerity

Sesaat tersenyum
Sesaat merasa terdampar
Sesaat tertawa
Sesaat terkucilkan

Mencari hati dalam setiap tumpukan lembar kertas
Ritme penuh stimulus respon yang kadang tak dimengerti
Sitmulus respon yang terasa tak berarti
Karena hati yang tak kumiliki

Semua hanya logika dan perasaan
Logika dan perasaaan akan sebuah peran
Kumpulan adegan dalam sebuah panggung sandiwara
Tidak ada realita di sana

Panggung sandiwara dengan puluhan topeng di sana
Yang tak pernah tau apa yang ada dibaliknya.
Mencipta bingung aku dalam jiwa.
Sekaligus kagum akan seni kelicikan tingkat atas

Kucoba tampil dengan jiwa dan raga yang apa adanya
Namun, ku merasa makin teraniaya
Akhirnya putuskan untuk gunakan salah satunya
Satu topeng yang membuat yang berkuasa menjadi senang
Topeng rakyat jelata
Dengan harapan masih ada keserhanaan dan ketulusan dalam hati dan jiwa.
Tapi mengpa..
Makin lama kupakai topeng ini makin tersesat kurasa.



Friday, July 13, 2012

N.0.L




Nol.
Nihil dan kosong.
Tapi tetap sebuah nilai.

Nol.
Memenangkan perkalian.
Tidak perlu dipangkatkan.
Karena akan bernilai nol.

Aku mungkin nol.
Nihil.
Kosong.
Tapi tetap bernilai.

Mungkin tanpa arti.
Tapi tetap ada.

Di hatimu.

Karya Valiant Budi Yogi, @vabyo (dalam novel Joker)

Monday, July 09, 2012

Respect from Rejection


“Live without Pretending,
Love without Defending
Listen without Defending
Speak without Offending”


Suatu hari saya terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman. Dia menceritakan pengalaman hidupnya, yang menurut pandangan saya tidaklah mudah. Kegagalan, penolakan seringkali mewarnai hidupnya. Bagaimana tidak, dari pengalaman beberapa kali tinggal kelas sampai beberapa kali ditolak macam-macam perempuan kerap hadir di hidupnya.

Pernah saya bertanya kepada si teman ini,’Apa sih rasanya gagal dan ditolak berkali-kali?’

Dia hanya menjawab, ‘Yah enjoy ajah. Gue mah sedihnya bentar. Paling besoknya udah lupa dan happy lagih.’

Jujur saja, saya bukan termasuk dalam golongan orang yang kebal akan kegagalan. Dari kecil ibu saya selalu memacu anak-anaknya untuk meraih yang terbaik dalam setiap hidup kami. Dulu jaman sekolah, minimal nilai yang saya dapatkan harus ada di angka 9. Bila di bawah itu, siap-siap saja mendengarkan serangkaian ocehan berdurasi 3 sks. Kuliah pun saya usahakan selesai dalam 3,5 tahun. Tak hanya itu, saya belajar sungguh-sungguh untuk dapat menduduki kursi barisan depan saat wisuda dengan undangan khusus untuk orang tua. Saat bekerja pun setiap proses interview selalu saya lewati dengan baik. Saya pikir dengan melalui semua itu dengan baik, hidup saya akan berjalan mulus. Prestasi akademis bagus, punya jiwa pemberani dan pantang menyerah ternyata belum cukup bagi saya untuk menjalani hari-hari ini.

Sedikit sekali pelajaran hidup saya tentang kegagalan. Dan jujur, agak menyesal juga sih kenapa dulu gak pernah belajar hal itu dengan baik. Dulu saya sekeras tenaga berusaha agar tidak gagal. Berusaha mengontrol semua hal dalam hidup saya agar apa yang saya lakukan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Dan sekarang saya hanya bisa menatap bingung hidup saya saat kegagalan dan penolakan itu datang kepada saya.

Mungkin kalau gagal karena gak meraih apa yang dicita-citakan menurut saya pribadi relatif mudah untuk dilalui. Kalau gagal langsung catat dan ingat untuk kesempatan lain lebih baik lagi. Atau dapat dirumuskan, gagal itu terjadi akibat setting target terlalu tinggi atau kita kita sebenarnya tidak mampu meraih apa yang kita ingikan. Bila setting target terlalu tinggi dan kita belum mampu meraihnya, usahakan lebih keras sampai target itu tercapai. Namun, kacaunya saat ini saya merasa lelah terlalu banyak berlari. Lelah terlalu banyak menggapai. Yah, saya lelah.

Lain halnya dengan makhluk bernama penolakan. Sepertinya makhluk yang satu ini terasa lebih sadis dibanding kegagalan. Karena hal ini tidak hanya menyangkut diri kita saja, tapi juga orang lain.

Beberapa bulan terakhir akibat sebuah adaptasi akan sebuah perubahan ada beberapa situasi yang membuat saya merasa gak nyaman secara mental. Walaupun dari luar kelihatan saya baik-baik saja, tapi dalam hati rasanya pahit juga. Dalam proses adaptasi ini, suatu ketika saya tidak diikutsertakan dalam sebuah acara yang biasanya saya selalu in charged di dalamnya. Saat tahu saya tidak diinformasikan dan juga tidak diikutsertakan, seketika itu saya merasa ditolak mentah-mentah. Marah, kecewa, sedih bercampur aduk jadi satu. Sebenarnya bisa saja saya marah kepada mereka yang berbuat demikian. Tapi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja. Mencoba memahami walau sendiri.

Lain lagi pengalaman dalam sebuah adaptasi pergaulan, ternyata survive di kalangan dewasa lebih sulit daripada pergaulan di kalangan remaja. Kotak-kotak pemisah antar golongan ternyata lebih terlihat wujudnya dibanding saat remaja dulu. Dalam pergaulan di kalangan dewasa, ternyata orang lebih senang ngomong ’di belakang’ ketimbang jujur apa adanya. Di depan kita baik belum tentu sama di belakangnya. Awalnya memang ada rasa gak nyaman di hati saya. Tapi sekali lagi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja, dan mecoba memahaminya walau sendiri.

Dulu saat kecil sampai remaja, saya selalu berusaha membuat semua orang menerima dan menyukai saya. Saya berusaha keras atau mungkin sangat keras untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tidak sampai di sana saja, saya senang menjadi orang yang lebih dipercaya dalam sebuah kelompok. Dan saya berusaha keras atau bahkan sangat keras untuk itu. Namun, rasanya sekarang ini saya pun lelah untuk berusaha. Yah, saya lelah bahkan sangat lelah...

Rasa akibat penolakan memang sakit dan memberikan bekas rasa kecewa dalam hati. Namun, di titik itu saya mencoba merenungkan kembali rasa itu dan ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Mungkin, masih banyak hal yang perlu kita koreksi dari sikap kita. Atau memang kita harus menyadari, kalau kita gak bisa membuat semua orang itu menerima kita dan selalu sependapat dengan kita. Karena harus disadari, walaupun makhluk sosial, manusia itu unik dengan kombinasi karakteristik dan logika masing-masing. Jadi sah-sah saja bila kadang kita merasa gak mendapatkan ’Klik’ dengan tipe orang tertentu yang karakter dan logikanya berbeda dengan kita. Dari sana saya baru tersadar, hidup ini memang penuh perbedaan. Yang penting gimana kita mau menyadari perbedaan itu dan akhirnya mau membangun rasa hormat terhadap orang lain. Bahasa kerennya Respect.

Membangun hubungan personal dengan orang lain memang penting. Terutama dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi gak penting juga untuk membangun hubungan personal terlalu dalam dan memaksa semua orang untuk masuk dalam kehidupan pribadi kita. Membuat semua orang menyukai kita sama mustahilnya seperti kita ingin menjilat mata sendiri. Yang kita perlu hanya Respect  dengan semua orang yang kita kenal gak peduli apa pangkat jabatannya. Karena dari Respect yang kita taburkan untuk orang lain, suatu saat nanti kita pun akan menuai Respect itu sebagai buah dari perbuatan kita.

So, enjoying yourself and let’s make this world more beautiful..

Monday, July 02, 2012

Thousand Words



Tahun ini aktivitas menulis saya sangat berkurang drastis. Block Writing kerap menimpa.
Padahal berbagai ide dan tema tulisan begitu banyak bermunculan di otak saya, namun tidak satupun berhasil menjadi sebuah tulisan.

Entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk menyambungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat lengkap. Padahal ribuan kata seringkali melintas di otak ini. Ternyata ribuan kata itu tidak mampu tertuang menjadi sebuah cerita. Kusadari sulit mencipta emosi yang biasa mampu melekatkan setiap kata yang terangkai. Setiap kali aku mencoba menulis, emosi itu tak pernah muncul.

Dan saat merangkai tulisan ini pun, saya baru tersadar emosi itu ternyata hilang dari diriku. Entah di mana kutinggal mereka. Atau mereka yang dengan sengaja meninggalkan aku.

Entah mengapa aku sampai tak tersadar mereka hilang. Mungkin semenjak aku memutuskan untuk tidak memiliki tujuan apapun yang ingin aku raih di tahun ini. Atau mungkin, akibat efek situasi kondisi pekerjaan yang membuatku frustrasi hinggi lebih memilih cuek dengan permasalahan yang ada sehingga benar-benar tidak peduli lagi.
Entah lah. Yang pasti aku rindu dengan semua perasaan yang membuncah dalam hati saat aku menenggelamkan waktu ku dalam tulisan. Saat aku dan hanya diriku yang dapat merasakan semua. Seakan semua hidup kembali. Hidup dalam duniaku.

Monday, May 28, 2012

Riding The Change















It's time to proving all theory that I've been read. Semangat !!
Kalau hanya ketakutan dan mengeluh tanpa pernah ada sikap dan aksi sama ajah bohong.
Nikmati setiap perubahan selagi masih muda dan masih bisa. Itung2 buat jadi cerita ke anak cucu nanti pas udah uzur.
Gimana loe bisa bertahan dan berbuat lebih baik atas perubahan, kalo gak pernah mau ngerasain yg nama nya perubahan. Challenge your limit !
(Talk to myself on twitter, 2011)

Dalam durasi satu tahun terakhir banyak sekali perubahan besar dalam siklus hidup saya. Dari urusan pribadi sampai urusan pekerjaan. Ibarat kata pepatah, ‘hidup itu bagaikan sebuah roda, kadang di bawah kadang juga di atas’. Dan mungkin seperti itulah hidup saya sekarang, sedang berada dalam posisi di bawah

Semua gelombang perubahan besar ini berawal dari ketidakjelasan situasi yang menimpa urusan personal dan juga pekerjaan. Tahun 2010 yang diwarnai dengan banyak prestasi dan kesempatan mulai memasuki babak baru yang ternyata lebih gelap dari yang pernah berlalu. Ketidakjelasan akan sebuah hubungan yang harus berakhir menandai mulainya babak gelap itu. Masalah ini membuat saya berusaha struggling dari situasi yang ada dan menjaga agar masalah ini tidak berdampak kepada sisi kehidupan yang lain. Dan benar saja, mulai terlihat sedikit pencerahan di pertengahan 2011. Di saat sedang mencoba menikmati manis itu kembali dan menyeimbangkan dengan sisi kehidupan lain, yaitu keluarga dan pekerjaan, muncullah awan hitam lainnya. Kali ini ketidakjelasan muncul dalam pekerjaan saya. Perusahaan tempat saya bekerja mengalami merger oleh grup, banyak rekan yang mengundurkan diri termasuk departemen head kami. Adaptasi organisasi berdampak pada ketidakjelasan target dan proses pekerjaan yang harus saya lakukan.

Jujur, saya sempat putus asa atas situasi seperti ini. Walau sudah pernah membaca buku “Who Move My Cheese” yang berisir mengenai Change Management , tetap saja perubahan ini tidak menjadi lebih mudah untuk saya. Awalnya saya sangat optimis dengan perubahan yang terjadi. Kapan lagi dapat menjadi saksi sejarah dan mengalami langsung kisah perubahan sebuah organisasi besar. Namun, yang terjadi sesungguhnya tidak semudah yang tertuang dalam banyak buku mengenai Change Management  yang banyak dijual di toko-toko buku. Organisasi berubah menjadi lebih lambat. Ketiadaan kepemimpinan menjadikan kami seperti ayam tanpa induknya. Saya dan teman-teman yang berfungsi menjaga regulasi perusahaan berubah bagai singa tanpa taring. Yang membuat saya makin frustasi adalah tidak adanya kejelasan dalam penentuan target kerja. Mau ke kanan, ke kiri, atau maju? Sama sekali tidak ada arahan. Sebagai seorang yang pekerja keras, penentuan target menjadi suatu hal yang penting untuk saya. Adanya target mempermudah saya untuk menentukan dan mencapai apa yang saya cita-citakan. Dan bukannya hanya terpekur diam tanpa aksi. Sudah puluhan kali mencoba menggali dan mencari ide dan menawarkan kepada organisasi. Namun puluhan kali pula akhirnya saya hanya gigit jari. Saking putus asanya saya sempat menulis sebuah umpatan yang kepada diri sendiri,

‘2012, Tahun tanpa goal setting. Hidup segan disuruh mati ogah.’

Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Mungkin rasa kesal saya terhadap situasi mencapai level tertinggi. Yahh… Jujur, memang tahun 2012 ini saya gak punya plan apa-apa. Kalau ditanya, apa rencana saya tahun ini. Saya akan jawab dengan jujur, ”Gak Ada.”  Yaaa..  karena memang gak ada rencana pencapaian apa-apa di tahun ini. Terdengar aneh memang, namun itulah yang terjadi.

Di awal saat gelombang perubahan itu datang saya menjadi sangat optimis dan bekerja sangat keras untuk lebih memahami situasi dan mencapai apa yang menjadi target selanjutnya. Namun, ternyata semua itu menjadi sulit, karena ternyata perubahan situasi yang tejadi membuat semuanya kembali ke titik nol. Ibarat mengikuti lomba pacu kuda, saya sebagai joki ingin kuda saya berlari 100 km/jam, tapi ternyata kuda yang saya tumpangi hanya berjalan dalam kecepatan maksimal 40 km/jam. Saat saya memacu kuda lebih cepat berlari, saya hanya mendapat tolakan dari sang kuda yang sekarang lelah berlari dan ingin berjalan santai. Dan akhirnya keinginan berlari saya ini hanya menjadi sebuah keinginan belaka saja. Semakin cepat saya memacu sang kuda berlari kecang membuat saya semakin cepat terjatuh. Sehingga jawaban, “Gak ada rencana pencapaian apa-apa” yang saya lontarkan, rasanya cukup pas dan menenangkan buat saya. Ternyata sekedar menahan keinginan berlari dan mengikuti ritme sang kuda, membuat saya jauh lebih menikmati hidup saya. Mungkin, memang sekarang saatnya saya menikmati jalan santai saya bersama sang kuda atau memilih mencari dan mendapatkan kuda baru yang memiliki kecepatan yang saya harapakan? Entahlah, mari menikmati saja apa yang terjadi, karena, Kalaupun benar saya pejalan yang lambat, tetapi saya tidak akan berjalan mundur” (@ais_training on twitter, May 7th)

Thursday, January 26, 2012

Macet di Otak, Macet juga di Hati

Mencari foto-foto atau pun gambar menarik di halaman google merupakan sebuah aktivitas yang menarik untuk saya. Ada sebuah hal menarik saat menemukan gambar-gambar unik di halaman ini. Namun, yang terkadang menjadi menarik ada beberapa gambar sederhana yang banyak memuat makna. Salah satu gambar favorit saya adalah sebuah gambar tentang kemacetan jalan raya yang sebelumnya sudah pernah saya posting dalam blog ini. Lihat : 'Traffic of Life' , August 25th 2011
















Sebenarnya, saat ingin melakukan posting akan gambar ini, banyak hal yang ingin saya tuliskan sebagai narasi gambar tersebut. Namun, beberapa kali mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan, selalu saja terserang block writing.

Beberapa waktu lalu saat mengalami masalah hati, sengaja saya melihat kembali tulisan-tulisan serta gambar yang pernah saya posting ke dalam halaman blog pribadi ini. Saat kembali melihat gambar ini, entah mengapa gambar ini terus muncul dalam benak saya dan terus terngiang. Antara tersindir dan tertampar hati saya melihatnya kembali. Namun, coba saya abaikan saja perasaan itu.

Keesokan harinya, di dalam kemacetan pagi hari ini berlokasi di sebuah angkutan umum, sebuah refleksi akan gambar ini seakan kembali menampar hati saya. Saat berada di tengah kemacetan jalan tak berujung ada rasa kesal. Mungkin kesal karena perjalanan kita menjadi lebih lama sampai dari biasanya. Kesal karena banyak waktu terbuang. Dan lebih kesal lagi, ketika ternyata tidak ada kecelakaan ataupun perbaikan jalan yang menyebabkan terjadinya kemacetan. Selain itu, belum lagi kesal karena lalu lintas yang makin semrawut akibat ulah banyak pengendera yang menyalip dari kanan ataupun kiri kendaraan. Belum lagi suasana di dalam angkutan umum yang penuh dengan asap kendaraan dan juga hawa panas. Dalam keadaan seperti ini ada rasa iri dengan para pengguna kendaraan pribadi yang seakan terlihat lebih nyaman di dalam kendaraan mereka. Namun, seandainya ada kesempatan untuk saya pindah ke kendaraan lain yang lebih nyaman, apakah saya yakin dapat menghindari kemacetan yang ada?

Toh, pindah ke dalam kendaraan yang lain tidak membuat kita lebih cepat sampai ke tujuan kita. Masalah nyaman dan tidak nyaman kan tergantung persepi setiap orang. Dan perasaan nyaman dan tidak nyaman tergantung bagaimana kita bisa menikmati suasana. Bisa dengan tidur sejenak bila memang masih mengantuk, mendengarkan mp3, baca buku, sambil ngobrol bila sedang bersama teman, atau berdoa mendekatkan diri sama Tuhan (woooww, tumben pikiran saya lagi lempeng).

Dan sebuah kesimpulan muncul dalam benak saya (maaf bila terlalu naive, saya pun sedang belajar untuk mencapai ini). Kemacetan adalah sekedar situasi gak menyenangkan dalam perjalanan kita. Namun untuk sampai ke tujuan kemacetan itu harus dilalui kan? Seperti hidup, saat terjadi banyak masalah dan membuatnya seakan tidak ada harapan. Kita harus tetap setia dan tekun menjalaninya. Karena walaupun perlahan, semua itu akan membawa kita sampai ke tujuan.

Sebuah kalimat gak berperasaan menampar hati saya saat menuliskan posting ini :
”Bila sudah tau dalam hidup dan cinta itu selalu muncul masalah. Mengapa kita terus menggerutu atau memilih untuk menyerah. Just Enjoy it  with smile. Because life would give you smile back”