Friday, September 09, 2011

The Most Guilty Pleasure : Upil

Sekali waktu, saya sempat bertanya, ‘Apa sih gunanya upil?
 
Apakah sekedar dikorek lalu ditempelkan di bawah meja belajar atau dinding kamar? Atau bisa untuk koleksi, kita masukan ke dalam kotak korek api lalu suatu hari nanti, mungkin sudah 10 atau bahkan 30 kotak terkumpul sepanjang hidup kita. Atau benda imut yang satu ini bisa kita jadikan senjata dalam sebuah pertarungan saat tawuran antar kampung. Mungkin lawan kita akan menyerah saat kita ingin menempelkan upil kita kepada mereka, ketimbang kita mengacung-acungkan golok atau parang kepada mereka.
 
Hmmmm.. atau lebih kreatif lagi, upil bisa kita bentuk bulat seperti  kelereng, dikeringkan, lalu dijadikan semacam pernak pernik, mungkin gantungan kunci atau apapun lah yang membuat benda ini terlihat lebih indah.
 
Seketika itu juga saya bertanya, ‘Apa yah kira-kira motivasi Tuhan menciptakan upil dalam tubuh kita?’ Benda itu seringkali kita paksa keluar dari hidung kita saat merasa nafas kita mungkin sudah terasa sesak dengan keberadaan upil yang berdesakan di dalamnya. Sebuah pertanyaan lebih mendalam lagi muncul dalam benak saya, ‘Mengapa upil ada untuk dibuang?’, ‘Apakah keberadaannya senista itu sehingga malu untuk diakui?’ Malah kadang kita harus bersembunyi terlebih dahulu saat ingin mengeluarkannya agar tidak dicap sebagai orang yang tidak tahu etika.
 
Padahal, saya kadang berterima kasih kepada makhluk imut yang satu ini. Dia selalu menemani saya saat suka dan duka. Dia selalu ada dan rela saya tarik paksa saat saya sedang merasa kesepian, sendirian. Dan mulai berpikir, daripada bengong gak karuan, lebih baik saya mengupil. Dia pun selalu ada saat saya sedih. Upil rela mencairkan dirinya dan meluncur bebas bersama air mata saya yang menyasar masuk ke rongga hidung, seakan dia begitu mengerti kesedihan saya. Dan yang paling mengharukan bagi saya, makhluk imut ini selalu ada untuk mengingatkan betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh ini. Karena semakin dia banyak hadir, menandakan bahwa lingkungan hidup kita ini banyak mengandung udara kotor yang terhisap melalui rongga hidung. Namun, dia rela untuk menjauhi kita saat tubuh kita berada dalam lingkungan yang memiliki udara yang bersih.
 
Upil… walaupun kau makhluk kecil yang terkadang dikucilkan dalam pergaulan bangsa. Selalu terbuang dan dicibir orang. Namun, hadirmu begitu memikat. Tak pernah kau tinggi hati walaupun memiliki sejuta manfaat. Kau tak pernah malu saat aku menyangkal merindumu.
Kau memberi insiprasi dalam hidupku. Tak pernah pamrih dalam hidup. Tak pernah menuntut walau dikucilkan dalam pergaulan. Ku doakan semoga suatu saat nanti, Tuhan kan mengangkat derajat kalian para upil menempati tempat terhormat dalam jajaran semesta raya ini.

*Renungan (aka hasil begongan) sepanjang jalur selatan menuju pantura, Mudik 2011

No comments: