Monday, May 16, 2011

Phileo Love



“Kalau boleh tau, berapa persen kemungkinan loe bakal jatuh cinta sama gue?”

“Saat ini gue juga bingung untuk menjawab. Tapi kalo insist mungkin 74% forecastnya.”

“Jangan pernah jatuh cinta sama gue yah.. Cinta Cuma bikin hubungan kita gak asik. Yaa jaim lah.. Yah sebel2an lah.. I just never wanna loss you.”

”Kalau elo, gak ada kemungkinan jatuh cinta yah? Sama gue pastinya.”

”Gue nyaman berinteraksi dengan loe. I don’t know.. kalau rasa nyaman itu meningkat.. Gue rasa, I can’t refuse to fall in love with you.”
*Sebuah jawaban yang seharusnya adalah “You know, it’s hard for me not to fall in love with you..”

Picture source : www.poundingheartbeat.com

You are the Unexpected Person


"Rejection doesn't hurt. Expectation does."

Untuk menghabiskan waktu saat akhir pekan, biasanya saya mampir ke pusat perbelanjaan yang banyak tersebar di Jakarta Raya, ini yang sering disebut dengan mall. Dalam keramaian mall ada yang menarik perhatian saya. Senyum-senyum penuh ketulusan yang tak pernah henti mengembang saat menawarkan aplikasi kartu kredit. Entah berapa orang yang telah mereka tawari untuk mengisi aplikasi tersebut. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan orang. 

Satu hari dengan iseng saya mencoba untuk berjalan beberapa kali melewati stand aplikasi tersebut. Saat itu, kurang lebihnya 5 kali saya bolak-balik. Begitu terkejutnya saya saat senyum-senyum penuh ketulusan itu tetap mengembang ke arah saya dan dengan semangat yang sama mereka tetap menawari saya untuk melakukan aplikasi produk kartu kredit mereka.

Entah apa yang saya rasakan saat itu. Yang pasti, dada saya tiba-tiba berdegup tak henti, seakan menampar hati ini..

Jelas dalam ingatan saya, setiap tahun baru dengan berbagai pesta perayaannya, saya pun selalu menuliskan resolusi yang ingin saya gapai dalam waktu satu tahun ke depan. Memang, saya bukanlah orang yang masuk dalam golongan Result Oriented. Kalau boleh mengelompokkan diri, saya lebih senang berada dalam kelompok Process Oriented, di mana proses dalam setiap pencapaian menjadi terasa lebih bermakna ketimbang pencapaian itu sendiri. Banyak tantangan yang harus dihadapi sebagai orang yang masuk dalam golongan ini. Saya harus siap menerima setiap kejutan yang ada saat proses berlangsung. Kejutan berupa kegagalan atau keberhasilan dalam sebuah proses pencapaian.

”Apakah saya masih bisa tersenyum dengan tulus dan dengan semangat yang sama tetap berdiri tegak menghadapi kegagalan dalam sebuah proses pencapaian?”

Terkadang dalam proses pencapaian bukanlah kegagalan yang kita takutkan. Kita lebih khawatir bahwa proses yang terjadi tidak sesuai dengan yang apa kita harapkan. Padahal sadar atau tidak, kegagalan adalah sebuah hal wajar terjadi. Kegagalan mengingatkan kita untuk melihat kembali seberapa besar usaha kita. Kegagalan mengingatkan kita kembali untuk berserah Kepada-Nya yang selalu ada saat kita gembira, sedih, galau, berhasil, atau dalam keadaan terpuruk sekalipun.

Masalahnya adalah, bagaimana sikap kita dalam menggapai sebuah ekspektasi? Apakah kita lebih suka mengejarnya dengan sekuat tenaga, memastikan semua tahap dari proses pencapaian berhasil dijalankan? Ataukah menjalani semua dengan penuh ketulusan. Meyakini bahwa akan berhasil mendapatkan hasil yang terbaik dari proses yang dijalani. Baik atau buruk proses yang dijalani, toh itu hanyalah tahap dalam pencapaian yang menjadikan kita lebih baik lagi dari hari ke hari...

Something Gonna Happen


"Terus, kira-kira ending nya apa? Sad or Happy Ending"

Did you think about the ending?
Should I have to choose it, between happy or sad ending? Is it would be end up?
If you think about the ending, I would prepare my own parachute that help me fall down safely to the ground.


And it's okay if you have to go away
Oh just remember the telephone work in both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I'll think the bells inside
Have finally found you someone else and that's okay
Cause I'll remember everything you sang..

-Jason Mraz on You and I Both-

Sunday, May 15, 2011

After Life


Sewaktu sekolah menengah atas, saya memiliki beberapa teman yang saat itu terkumpul dalam sebuah grup band beranggotakan 5 orang. Dengan alibi membangun keakraban antara personil yang satu dengan yang lainnya, berkumpul menjadi sebuah ritual bagi kami. Aktivitas berkumpul ini bisa kami lakukan di mana saja sesuai dengan ide yang muncul saat itu.

Suatu hari di malam minggu, kami memutuskan untuk mencari angin malam di sebuah pantai terkenal di Jakarta, Ancol. Di sana kami dengan perlengkapan seadanya, yaitu tikar, gitar, dan beberapa makan kecil mencoba mengisi malam kami itu dengan berbagai kegiatan tawa dan canda. Ada-ada saja ulah kami saat itu, dari bernyanyi setengah berteriak di tengah pantai, sampai mengintipi orang yang sedang asik memadu kasih di pantai itu (pantai ini memang terkenal dengan mobil goyang dan juga perahu goyang.. bahkan pohon dan motor pun ikut bergoyang. hihihihi).

Tanpa terasa, keasyikan kami berjalan sangat cepat sampai-sampai saat kami lihat jam tangan kami masing-masing, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 (waktu Indonesia bagian barat, tentunya). Dan entah mengapa, waktu yang telah larut ini memberi kami inspirasi untuk menguji nyali muda kami saat itu. Kuat dalam ingatan kami, saat itu sedang tren beberapa film hantu lokal di beberapa bioskop (pada saat itu, film horor sedang jaya tanpa ada embel esek-eseknya).

Kebetulan, dalam area Ancol ada sebuah kuburan Belanda yang terkenal yaitu, Ereveld. Dan menjadi sangat kebetulan, pantai tempat kami bercanda tawa itu letaknya dekat dengan areal perkuburan tersebut. Entah ide gila apa yang ada saat itu, akhirnya kami semua sepakat untuk mengunjungi kuburan tua itu.

Dalam 5 menit saja, kami sampai di depan perkuburan tersebut. Kuburan itu terlihat terawat dengan baik. Kebetulan saat itu pintunya sedang tertutup, jadi kami hanya memandanginya dari balik pagar seakan-akan sedang ingin mencari teman untuk kami ajak bermain.. Tanpa diduga, saat itu seorang Bapak menghampiri kami. Bapak itu mengaku sebagai si penjaga pintu dan menawarkan kami masuk ke dalam areal perkuburan itu. Dengan sedikit ngeri, kami pun menerima tawaran sang bapak untuk masuk ke dalam areal perkuburan. Tentunya ajakan itu kami terima setelah memastikan bahwa kaki si Bapak penjaga pintu memang benar menginjak tanah. (hehehe...)

Karena areal perkuburan ini terawat dengan baik, kesan horor seperti adegan di film pun tidak begitu kental mengelilingi kami. Dan kami pun mengakhiri tour kuburan kami malam itu di Ancol dengan selamat dan tidak mengajak ’makhluk’ terbaring itu bersama kami pulang.

Ternyata pengalaman itu membuat kami ketagihan dan ingin mencoba dengan kuburan yang punya predikat ’Lebih Seram’ lainnya. Dan mulailah, setiap minggu nya kami berjalan-jalan malam mengelilingi ibukota seperti tim pencari hantu dalam film ’Jailangkung’ atau film-film horor lainnya. Namun, tetap dalam upaya uji nyali tersebut kami pun membawa atribut keagamaan, in case untuk menangkal ada makhluk yang ingin ikut dengan kami atau pun sekedar ingin berkenalan dengan masuk ke dalam tubuh dari salah satu di antara kami. (membayangkannya saja saya sudah merinding apalagi sampai kejadian.. Amit..amit...).

Dari kuburan Jeruk Purut sampai Rumah Kentang di Pondok Indah pun sudah kami sisir. Sederhana saja, kami hanya ingin merasakan kengerian yang terjadi dari setiap cerita misteri yang pernah kami dengar. Padahal, setelah kami semua beranjak dewasa kami baru sadar bahwa aktivitas kami ini bukanlah sebuah prestasi yang dapat dibanggakan. Karena toh, setiap kuburan yang kami datangi hanya berisi seonggok tanah yang di dalamnya hanyalah sebuah jasad terbaring yang tentunya sudah tak bernyawa lagi. Toh semua jasad terbaring itu dulunya pun sama seperti kami, yaitu manusia.

Mungkin yang membedakannya adalah cerita-cetia yang terbangun masyarakat tentang sepak terjang orang per orang yang sudah tanpa nyawa itu. Ada yang akhirnya dikenang sebagai orang yang memiliki banyak jasa dan kebaikan.. Mungkin juga ada yang lebih dikenal dengan sebagai sosok misteri yang mungkin dapat menumbuhkan rasa penasaran kepada setiap manusia yang masih hidup di dunia ini. Dan akhirnya, seperti apa kita nanti akan dikenang, semua itu kembali kepada masing-masing dari kita. Apakah akan dikenang sebagai seorang yang memberikan banyak kebaikan dan inspirasi. Ataukah kita akan dikenang dengan penuh kengerian dan misteri yang akan nembuat bergidik banyak manusia yang masih hidup di dunia ini setelah kita beristirahat dan masuk ke alam yang lain.

Sampai Kapan

Diriku cinta dirimu dan hanya itulah satu yang aku tak jujur kepadamu...

Apple on the Treetop


‘Loe tuh sebagai perempuan terlalu perfect, Mba.. Gue aja adore sama loe. Sebagai perempuan, loe tuh terlalu kuat mba.. Makanya loe harus dapat pasangan yang lebih dari loe segalanya. Lebih dalam hal pengetahuan, idealisme hidup, karir, cara pandang. Yah.. semua hal deh, dia harus lebih dari loe. Dan banyak teman-teman tuh yang adore juga sama loe, seperti gue mengidolakan loe, Mba”

Dari sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh teman saya melalui media chatting BlackBerry Messenger saya mendapatkan kata-kata ini. Terus terang, saat mendapatkan pengakuan dari teman saya ini, bukan rasa senang atau pun tersanjung yang muncul dalam benak dan hati saya. Namun rasa resah dan khawatir yang tiba-tiba terlintas.

Sehebat dan sesempurna itukah saya dimata rekan-rekan saya?Betulkah hanya seorang laki-laki yang sama sempurnanya yang bisa mendapatkan saya? Wuahhh, bakal ribed juga yah hidup gue? Orang bakal ngeri bergaul sama gue nih. Am I too perfect?

Karena ternyata bukan hanya teman saya ini yang berani mengutarakan pendapatnya kepada saya. Suatu hari saya pun pernah mendapatkan penilaian yang sama dari seorang teman yang baru mengenal saya beberapa minggu terakhir ini.

’Loe terbuat dari apa sih, Dess? First impression gue sama loe tuh perempuan yang mandiri. Bisa menjalani hidup sendiri tanpa orang lain. Perempuan seperti loe akan membuat orang lain penasaran. Namun, sepertinya dahan yang menahan loe itu terlalu kuat dan tinggi yah.’

Sekali lagi muncul pertanyaan yang sama, Am I perfect person? Pertanyaan itu berulang kali terngiang dalam benak dan hati saya.. Selama ini saya menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Mencoba mengikuti naluri dalam meraih mimpi.. Menjalani hidup apa adanya.. Mencoba mengusahakan yang terbaik untuk diri dan keluarga. That’s it.. Nothing special I think..

Memang tidak bisa dipungkiri, menyenangkan memang bisa menjadi seseorang yang berarti dan memberikan inspirasi kepada orang lain. Namun, menurut saya, apalah artinya saya bila akhirnya saya hanya bisa bertengger di atas pohon saya dan menjadi begitu tinggi untuk orang lain. Ibarat sebuah apel yang ranum karena matang di pohon, tentunya apel itu akan menjadi berguna bagi orang lain saat sudah dipetik dan dapat dinikmati dan memberikan manfaat bagi orang lain. Entah itu membuat orang lain menjadi lebih sehat akibat mendapatkan vitamin yang terkandungnya atau sekedar rasa bahagia karena mendapatkan rasa manis buah yang matang ranum itu.

Begitu pun saya. Diri ini akan menjadi berguna untuk orang lain bukan karena orang lain melihat saya hebat atau lebih dari orang lain. Mendapatkan banyak decak kagum dan pujian. Namun, saya akan merasa lebih berguna bila bisa menorehkan rasa bahagia dalam hati banyak orang.

Dan berharap akan datang seseorang dengan penuh keberanian memanjat ke atas dahan pohon apel itu dan dengan penuh kesajahaan membawa saya dengan aman sampai ke bawah dan membiarkan diri ini lebih banyak lagi memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar pohon itu.

*Image diambil dari Profile Picture tetangga sebelah dalam contact list BlackBerry Messenger

Saturday, May 14, 2011

Mencari Si Mitri


Dalam sebuah perjalanan, pikiran saya tiba-tiba melayang ke masa 8 tahun lalu saat saya masih menggunakan rok berwarna abu-abu dengan kunciran dan dandanan super cupu. Sangat jelas dalam ingatan saya, saat itu saya begitu penasaran akan kehidupan saya di masa periode usia 25 tahun.

Saat itu saya bertanya-tanya,

Pada usia itu, kira-kira apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya akan menjadi seorang wanita karier? Apakah saya sudah menikah dan membina sebuah keluarga? Memiliki seorang atau dua orang anak yang lucu sambil membina karier bersama dengan suami saya.

Dari pertanyaaan dan angan tersebut, mulailah saya bertanya dalam diri saya. Yang saya bayangkan saat itu adalah, setelah SMA, saya akan masuk perguruan tinggi dan setelahnya menikah dengan laki-laki yang menjadi kekasih saya saat itu. Sebuah pikiran yang terlalu serius untuk anak seusia saya pada saat itu.

Keseriusan itu, coba diimani oleh saya. Selepas SMA, saya belajar dengan rajin dan menjalani beberapa hubungan personal yang serius. Karena dalam benak saya, di antara usia 25, saya sudah akan membangun sebuah kehidupan yang mandiri baik dari segi finansial maupun dalam kehidupan personal.

Dalam hal pendidikan dan mengejar gelar sarjana, tentunya keseriusan saya ini tidak perlu diragukan lagi. Saya berhasil menyelesaikan study saya selama 3 tahun 9 bulan. Begitu pun dengan urusan percintaan atau personal. Betapa saya ingat, saat di awal kuliah saya sempat berpacaran serius dengan seorang kakak kelas yang nyatanya berbeda keyakinan dengan saya. Saat itu, keseriusan saya terwujud dari banyaknya membaca literatur tentang hubungan beda identitas dan juga intensif beraktivitas dengan dia dan keluarganya. Begitu pun sebaliknya. Tak lepas juga dari ingatan saya, bagaimana kami telah membuat sebuah bagan rencana kami setelah saya menyelesaikan studi. Dan di sana tertulis, pada usia 25 saya sudah akan memiliki seorang anak. Saat itu semuanya terasa begitu dekat, jelas, dan terukur.

Nyatanya setelah bagan itu tercipta, kami malah memutuskan berpisah. Seketika itu, rasa dan kecocokan antara kami hilang menguap begitu saja. Setelah itu saya membina hubungan serius saya dengan pria yang lainnya. Mendekati usia 25 tahun, hubungan kami memasuki tahun keempat, dan begitu optimisnya saya akan rencana seperti saat SMA dulu. Namun, realita berkata lain. Satu minggu setelah saya berusia 25 tahun, kami sepakat mengakhiri hubungan kami.

Ternyata, realita baru ini menghenyakkan saya akan sebuah kewajiban baru bagi saya untuk tetap bersemangat memenuhi cita-cita masa muda saya. Memang, saat itu beberapa ’proposal’ rasa diberikan kepada saya. Dan tugas saya hanya satu, Mencari Chemistry untuk setiap proposal yang ada.

Bila berbincang tentang chemistry atau lebih sering saya sebut sebagai Si Mitri (agar terlihat lebih akrab dan bersahabat dengan mahkluk yang satu ini), tentu akan banyak pendapat untuk setiap orang. Hampir semua orang di dunia merasa yakin bahwa Si Mitri memiliki peran yang sangat penting dalam hubungan personal kita dengan orang lain, entah itu dengan keluarga, teman, pasangan hidup, atau bahkan dengan musuh sekalipun Si Mitri tetap memiliki sebuah peran yang penting. Dalam aktivitasnya, makhluk ini mampu menjadikan sebuah pengalaman penuh dengan rasa.

Mengutip sebuah pernyataan seorang teman yang membangun hubungan rumah tangga atas hasil dari sebuah perjodohan, ”Rasa cinta dan kecocokan datang karena terbiasa. Terbiasa beraktivitas bersama, berkomunikasi berdua. Jadi buat apa pusing dengan Si Mitri. Toh, dia hanya bumbu rasa ajah.”

Lain lagi, pendapat teman saya yang lainnya, ”Buat apa ada Si Mitri. Emang nya dia bisa bikin kita kenyang dan bahagia. Toh, yang penting punya pasangan yang modalnya besar, jadi bisa memenuhi rasa bahagia kita lahir bathin.”

Atau curahan hati seorang sahabat yang sudah sangat merindu pasangan hidup di sampingnya. ”Kenapa yah.. gue selalu nervous saat ketemu orang yang menurut gue udah sesuai kriteria gue banget. Akhirnya gue malah gak dapet apa-apa dari dia dan Cuma gigit jari karena udah keburu jiper sama itu sosok sempurna.”

Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman orang di sekeliling saya mengenai Si Mitri.

Entahlah.. Saya sendiri pun bingung bila harus berpendapat akan makhluk yang satu ini. Namun sampai saat ini saya sangat mengimani peran dari makhluk yang satu ini dalam menentukan arah perasaan saya. Karena saya setuju dengan kata-kata seorang pujangga bahwa, ”Cinta bukan hanya sekedar karena terbiasa, namun lebih karena adanya kecocokan jiwa.”

Teringat akan janji masa muda dulu dan realitas yang menyadarkan bahwa saya sudah tidak muda lagi. Muncul pertanyaan berulang kali dalam benak saya.

Apakah saya akan berkeras untuk menemukan Si Mitri atau membiarkan Si Mitri yang akhirnya akan menemukan saya?

Sunday, May 01, 2011

Jejak Kaki

Hari ini saya telah merencanakan sebuah petualangan untuk mengisi aktivitas kosong dalam akhir minggu ini. Petualangan ini berawal dari sebuah kegiatan iseng mendaftarkan diri dalam sebuah kompetisi nasional yang diadakan oleh sebuah portal fashion online. Dari pendaftaran ini, ternyata saya lolos tahap awal, yang berarti harus mengikuti tahap selanjutnya untuk sessi foto dan wawancara.

Sebenarnya, saya bukanlah tipe manusia yang antusias mengikuti kompetisi seperti ini.. Apalagi setelah tau lokasi foto dan interview yang sangat jauh letaknya dari rumah, menambah rasa malas dalam diri. Tapi untuk kali ini, saya mencoba keluar dari zona nyaman saya dan bertekad untuk mengikuti tahap selanjutnya. Bukan karena hadiah yang sangat menggiurkan, namun lebih kepada rasa ingin tahu dan sekedar melepas penat dalam diri saya.

Entah apa yang menggerakkan saya, semangat itu begitu besar. Pagi-pagi sekali setelah sempat menyapa Tuhan terlebih dahulu, saya berangkat ke lokasi acara dengan menggunakan transportasi favorit saya. Lalu dengan diantar oleh seorang bapak ojek, saya pun meluncur ke sana.

Memang, pilihan menggunakan ojek langganan untuk menuju ke lokasi foto dan interview bukanlah sebuah pilihan yang bijaksana. Selain karena biaya yang relatif mahal, saya pun menjadi tidak terbiasa untuk mengenal dan memahami angkutan umum yang telah tersedia. Namun, apalah artinya semua itu, toh esensinya sama saja. Yang penting, saya dapat sampai tepat waktu di lokasi, entah menggunakan ojek, angkutan umum, ataupun kendaraan pribadi. Toh itu hanya sekedar preferensi dari masing-masing orang dalam mencapai tujuan.

Setelah sampai di sana, saya mengikuti beberapa tahap dari foto, membuat video profile, dan juga interview dengan panitia pelaksana. Semua aktivitas itu berjalan lancar dan cepat, tidak sesuai bayangan bahwa kan ramai dan penuh antrian.

Setelah dari sana, saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat di pusat kota untuk membeli sebuah kado untuk mama yang esok hari akan berulang tahun. Kali ini, saya memutuskan untuk menyimpan uang saya dengan menahan diri pergi menggunakan taksi. Pilihan saya jatuh pada Trans Jakarta, yang kebetulan ada persis di depan gedung acara tersebut. Trans Jakarta adalah kendaraan khusus yang disediakan oleh pemerintah, yang mampu membawa kita ke beberapa tempat hanya dengan sekali bayar tiket. Dengan diiringi alunan lagu dari pemutar lagu dikantong , saya begitu menikmati setiap detik dan pemberhentian yang ada.

Karena menggunakan Trans Jakarta , saya diharuskan untuk berpindah armada untuk menuju tempat tujuan. Dari pemberhentian terakhir armada pertama menuju ke armada kedua, saya harus melalui sebuah jembatan panjang yang menghubungkan keduanya. Saat berjalan dalam jembatan itu, ada sebuah rasa yang bergejolak dalam diri saya.

Sepanjang jembatan itu. saya memperhatikan orang-orang yang berjalan di sekitar. Ada beberapa orang yang berjalan dengan ritme yang sangat cepat bahkan setengah berlari. Ada juga yang berjalan santai sambil bercanda dengan teman-temannya. Ada juga yang berjalan lambat dengan muka menerawang ke arah jalan atau bahkan tertunduk dalam melihat setiap langkah yang diambilnya. Kalau saya memilih untuk berjalan santai sambil memperhatikan sekitar saya. Dan saat itu, hati ini begitu bergolak entah mengapa.


Seketika itu, munucul banyak pertanyaan dalam diri ini.

"Apakah orang yang jalan cepat seakan terburu-buru karena memang ingin mengejar sesuatu atau karena memang gaya jejak kakinya memang seperti itu?"

Atau...

"Mereka yang berjalan lambat sambil menerawang entah ke mana, juga memiliki emosi yang sama dengan orang yang memilih untuk berjalan cepat?"

Terkadang kita tidak pernah sadar akan setiap jejak kaki yang kita lakukan. Tidak pernah sadar, bahwa jejak kaki yang kita lakukan adalah representasi dari emosi yang kita rasakan saat itu. Apakah jejak kaki kita adalah jejak santai, jejak terburu-buru, jejak penuh amarah, jejak kesedihan, jejak penuh kegembiraan, jejak harapan, jejak penuh optimisme, atau jejak dengan makna yang lain.

Setiap jejak kaki hari itu, seakan menghenyakkan saya dalam kesadaran. Saat ini, saya berada dalam ambang kebingungan atas apa yang saya rasa dan saya harapkan dalam hidup saya. Buktinya, hari itu di atas jembatan panjang itu, saya berjalan hanya dengan jejak jejak kaki pasti namun gontai, seakan ingin berempati atas perasaan hati ini. Yah.. memang semua akan kembali kepada saya.. Tetap melakukan jejak kaki sesuai perasaan ini, atau mengubah perasaan ini menjadi lebih baik dengan kembali mengatur jejak kaki saya agar lebih berdaya dan penuh semangat atas sebuah harapan yang seakan tak akan pernah kunjung padam.

Friday, April 22, 2011

Life with No Regrets

‘Jadi Paskah tahun ini hasil perenungannya apa nih?’

Dari kalimat tanya yang terlontar dari sebuah chatting melalui Blackberry Messenger, saya memulai perjalanan refleksi saya hari itu.

Memang selama 40 hari masa Pra-Paskah tahun ini, saya banyak menghabiskan waktu saya dengan bekerja keras pagi sampai malam. Moment yang saya ingat selama 40 hari in hanyalah sebatas ritual yang dilaksanakan di Gereja. Sepertinya tidak ada suatu hal yang istimewa yang saya lakukan selama 40 hari ini. Karena jujur, saya masih sibuk dengan kegalauan hati yang kunjung habis. Sehingga makna sebuah masa Pra-Paskah terasa kering dalam hati saya. Tapi ada sebuah pernyataan dari seorang pastor yang saya ingat sampai dengan detik ini.

Saat itu, dalam ruang berukuran 1 x 2 meter, saya bersujud di depan seorang pastor untuk melakukan pengakuan atas dosa yang saya lakukan. Setelah melakukan pengakuan atas beberapa kesalahan, sang pastor mulai memberikan nasihat kepada saya. Namun, di tengah nasihat tersebut, saya memotongnya dengan berucap,

’Oh iya Pastor, ada satu hal yang saya masih pendam. Saya masih belum bisa memaafkan seseorang yang menyakiti hati saya teramat dalam. Saya masih marah dengan dia sampai dengan saat ini.’

Dengan sebuah senyum simpul, Pastor itu mendengarkan kesalahan terbesar saya saat tersebut, lalu dia berucap,

’ Dalam hidup ini, Tuhan dengan baik mau memberikan pengampunannya kepada kita. Kamu senang gak kalau kesalahanmu diampuni oleh Tuhan? Jadi sudah sewajarnya kalau kita diberikan pengampunan oleh Tuhan, kita juga mau membagikan pengampunan itu kepada orang-orang di sekitar kita, terutama yang menyakiti kita teramat dalam.’

Dalam seketika itu, ingin rasanya air mata ini menghambur deras dari sudut mata saya, namun coba saya tahan dengan sepenuh usaha. Ada rasa sesal yang mendalam atas sikap saya ini. Sesal akan banyak hal. Sesal atas sebuah kegagalan ’prestasi’ hidup yang pernah terjadi. Namun, lebih menyesal lagi bahwa selama ini saya menanam rasa marah berlarut dan tidak pernah dengan tulus memberikan pengampunan itu.

Setelah kejadian itu, saya sadar bahwa penyesalan akan menahan kita untuk maju melangkah dalam hidup. Penyesalan hanya akan membuat kita terdiam meratap hidup yang harusnya terus berjalan ke depan. Yah.. karena hari esok lah yang akan dapat kita usahakan,  bukan sebuah masa lalu yang telah menjadi sebuah prasasti hidup yang hanya bisa kita kenang dan menjadikannya sebuah pengalaman dan pelajaran.

Sekarang tugas saya adalah memberikan pengampunan itu kepada mereka yang menyakiti saya teramat dalam. Bukanlah sebuah kata pengampunan yang mudah terlontar dari bibir saya. Namun, pengampunan dengan ketulusan hati ini. Karena suatu hal yang dimulai dengan ketulusan, pasti akan berbuah baik di akhir cerita.

Sunday, April 17, 2011

Bonus of Making Sincere Relationhip

‘Sebenernya, yang lagi loe cari tuh calon suami atau sekedar teman ngobrol sih?’

Sebuah pertanyaan sederhana yang cukup menghujam jantung hati saya. Setelah mendapat pertanyaan itu, seketika saya langsung terdiam layu. Tak menyangka prosesi curhat saya harus diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang saya sendiri pun tidak tahu jawabannya. Namun, saat itu saya merasa semakin tersudut dengan pertanyaan itu, saya impulsif menjawab,

‘Yah.. yang gue cari sekarang emang calon suami.. Secara umur udah seperempat abad nih..’

Jawaban impulsif yang terlontar dari bibir saya ini, langsung diamini oleh teman saya ini. Dengan hasil analisa atas perilaku saya selama ini, teman tersebut langsung menambahkan beberapa hasil observasinya terhadap saya.

‘Coba deh, loe pikirin lagi. Ada identitas orang itu yang berbeda sama loe des. Loe kan anaknya serius kalo mau menjadikan seseorang itu temen loe. Loe harus tau dulu semua hal dari A sampai Z nya orang itu. Kalo loe yakin, bahwa sesuai sama criteria, loe baru jalanin. Bener kan? Lagian, gue lihat laki itu gak cocok deh sama loe yang serius dan sulit di direct sama laki-laki’

Damn !! Mendengar penjelasannya yang terlalu premature itu, saya pun semakin layu dan kuncup. Hujanan penilaian terhadap personalitas itu begitu membuat saya enggan berkonsentrasi melanjutkan kerja pada pagi itu. Lalu mulai muncul banyak pertanyaan dalam diri saya.

‘Apakah benar, gue ini orang yang selalu serius dalam menjalani hidup?’

‘Apakah salah, jika saya ingin tahu identitas orang lain, yang sudah saya ketahui bahwa orang tersebut memiliki intensi yang lebih dari sekedar menjadi teman dengan saya?’

‘Apakah benar, saya terkesan begitu keras kepalanya, sehingga terkesan sebagai perempuan yang tidak mau diarahkan oleh mahkluk bernama laki-laki?’

Atau, jangan-jangan, teman saya yang baik ini sebenarnya belum begitu mengenal saya apa adanya. Belum mengerti siapa saya sebenarnya. Bahwa dalam dunia profesionalitas, saya harus mencitrakan diri saya sebagai orang yang lebih menggunakan mindset atau kemampuan analisa berpikir ketimbang dengan perasaan. Sehingga teman saya yang baik ini akan jarang sekali melihat saya menggunakan kepekaan perasaan saya selama berinteraksi di dunia professional.

Selain itu, saya yakin bahwa hampir semua orang di belahan dunia ini akan bertanya lebih detail mengenai identitas seseorang saat muncul intensi lebih dalam menjalin sebuah hubungan pertemanan. Intensi yang lebih dari sekedar teman. Karena disadari atau tidak, konsep Bhineka Tunggal Ika yang selalu dipelajari saat sekolah dulu hanya efektif dijalankan dalam konsep pertemanan dan hubungan professional, namun tidak dengan konsep mencari pasangan hidup. Karena sederhananya, dalam mencari pasangan hidup, seseorang tidak hanya menjalin hubungan dengan sang kekasih, namun juga dengan seluruh keluarga dari kekasihnya itu. Dan masih banyak keluarga Indonesia yang ingin bahwa keturunannya dapat menjaga adat istiadat leluhur dengan memiliki pasangan hidup yang sama identitasnya dengan yang mereka miliki. Begitupun dengan keluarga saya yang masih memegang teguh adapt istiadat leluhur dalam menjalankan kehidupan kami. Jadi, kesimpulannya adalah wajar bila saya bertanya dan mempertimbangkan lebih detail identitas dari seseorang yang memiliki intensi lebih terhadap diri saya.

Untuk pertanyaan terakhir, ‘Apakah saya perempuan yang sulit diarahkan oleh mahkluk yang bernama laki-laki?’. Untuk pertanyaan ini, saya menyadari dan mengakui bahwa saya memang seorang perempuan yang selalu mencoba untuk hidup mandiri dan memiliki visi-misi ke depan dalam hidup saya. Namun bukan berarti saya seorang perempuan yang keras kepala yang tidak bisa dan tidak mau diarahkan oleh laki-laki. Saya orang yang amat senang untuk dimanja dan diberi pengertian oleh pasangan saya. Dengan sebuah kesabaran dan pengertian, seorang laki-laki akan dapat berhasil mendapatkan hati dan perasaan saya. Otomatis di tahap tersebut, arahan hidup orang tersebut akan saya selalu saya pertimbangkan. Karena saya pun paham benar, bahwa sebagai perempuan saya adalah second person setelah pasangan saya. Pun, saya paham benar bahwa sebagai adanya kewajiban seorang perempuan menjaga wibawa dari pasangan hidupnya. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk saya tidak mengikuti arahan hidup yang diberikan oleh pasangan saya kelak.

Dari semua hal tersebut muncul kesimpulan lain lagi dalam diri saya. Prosesi curhat dalam lingkungan professional memang tidak akan efektif. Pemilihan pasangan hidup sebaiknya akan saya konsultasikan kepada teman yang memang pernah menjadi saksi mata atas semua perilaku personal saya, bukan teman yang melihat saya dari sudut pandang profesionalitas. Dan tentunya, selalu saya akan menempatkan pertimbangan keluarga sebagai prioritas pertama.

Jadi, daripada kuncup dan layu memikirkan pertanyaan dan analisa prematur teman saya itu, lebih baik saya sibuk membuka diri dan hati saya. Sekedar berteman baik pun tidak ada salahnya dilakukan. Bahwa suatu saat nanti, dari sekian teman laki-laki yang ada akhirnya saya pilih menjadi seorang pasangan hidup, itu adalah sebuah bonus dari ketulusan akan sebuah hubungan pertemanan.

Wednesday, April 13, 2011

My Heart is Open Recruitment

Biasanya setiap bulan, setelah segelintir uang masuk kedalam rekening sebagai upah rodi bekerja, saya selalu menahan diri untuk tidak berbelanja, paling tidak sampai dengan tanggal 15 setiap bulannya. Hal ini selalu saya lakukan, untuk menghindari terjadinya puasa , karena uang hasil kerja lenyap bergantikan sepatu, tas ataupun dres-dress lucu yang semakin memenuhi lemari.

Kalau bicara masalah aktivitas yang paling digemari perempuan sejagad raya ini, pastilah tak akan ada habisnya. Setiap bulan selalu ada saja trend atau model terbaru yang selalu menggoda mata ini untuk mengambil dan membelinya..  Apalagi di jaman serba mudah sekarang ini, dimana hampir semua toko di pusat perbelanjaan selalu dilengkapi dengan bermacam fasilitas bayar yang semakin mempermudah para perempuan untuk berbelanja. Selain itu ada banyak tawaran dari institusi kredit yang siap sedia menyediakan berbagai kartu ajaib. Yah, kartu ajaib yang hanya dilengkapi dengan verifikasi tanda tangan, barang-barang nan lucu pun siap untuk dibawa pulang.

Untungnya, saya bukan tipe perempuan yang senang berbelanja. Saat ingin membeli sebuah barang, selalu ada banyak hal yang dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum akhirnya menggesekkan kartu debit eletronik ke mesin cashier. Secara otomatis, otak ini langsung berimaji dengan banyak pertanyaan. Akan digunakan dengan apa barang ini? Apakah sebelumnya sudah punya barang serupa? Apakah terlihat bagus saat digunakan? Apakah di masa mendatang, barang ini dapat terus dipakai atau sekali pakai akan buang? Apakah harganya masuk akal? Apakah nyaman saat memakainya? Apakah barang ini cocok dengan saya? Apakah barang ini mewakili pribadi saya? Dan yang paling penting untuk dijawab adalah, Apakah barang ini worth it saya miliki karena saya butuh atau sekedar saya kagumi?

Untuk pertanyaan yang terakhir tadi, seringkali saya membutuhkan waktu 20-60 menit untuk mendapatkan jawabannya (wahhh... lama juga yah? Saya baru sadar).  Ternyata sekedar mencari jawab atas pertanyaan itu otak saya terpaksa untuk bekerja keras. Ternyata untuk menemukan jawaban atas kebutuhan dan sekedar rasa kagum membutuhkan proses yang luar biasa panjang.

Kadang kita merasa tertarik bahkan jatuh cinta terhadap sebuah barang. Rasa ketertarikan kita membuat kita untuk berusaha mencari kelebihan, bahkan keunikan dari barang tersebut. Ketertarikan itu kadang kala membuat kita penasaran lebih lanjut, sehingga beberapa usaha dilakukan, seperti mencari informasi dari internet, tanya ke teman yang berpengalaman, maupun datang langsung ke tokonya untuk bertanya kepada penjual ataupun berinteraksi langsung dengan barang tersebut. Setelah informasi itu ada, lalu kita pun akan berpikir apakah kita langsung membeli untuk memilikinya atau mengurungkan niat sebentar, karena ternyata harganya mahal dan kita belum cukup mampu untuk memilikinya. Mungkin setelah sekian usaha dilakukan, kita akan merasa mampu untuk mendapatkan barang tersebut. Atau mungkin, kita pergi dan tidak jadi membeli, karena kita anggap barang itu tidak cukup berarti kita miliki.

Bila dilihat dari proses persepsi yang sedemikian rumit, mungkin hal inilah yang menjadi jawaban atas kendala saya dalam menentukan pasangan. Saya terkadang butuh waktu yang sangat lama untuk memastikan seseorang akan saya jadikan pasangan atau tidak. Memang lamanya relatif, tergantung interaksi dan kecocokoan dengan orang tersebut. Dan yang paling penting adalah, Apakah laki-laki ini cukup worth it untuk saya menjalin hubungan dengannya atau tidak? Apalagi untuk sebuah hubungan yang serius, banyak hal yang saya proyeksikan dan saya imajikan untuk masa depan. Namun, mengingat umur saya yang sudah tak muda lagi, kadang saya menjadi gundah gulana. Apakah  saya akan melakukan pilihan impulsif dengan banyak orang dan melakukan banyak hubungan trial-eror... atau tetap pada kebiasaan saya dalam memilih.. Kembali merenung dan merasa dalam waktu yang relatif lama untuk mendapatkan satu pilihan yang tepat untuk sebuah masa depan cinta...

Monday, April 11, 2011

Kicauan Monolog #1

10th April 2011

10:16 pm
Terdampar di pojok ruang ini.. Sendiri selalu

10:17 pm
Enjoy talk to myself.. Alone..Again..

10:20 pm
Stuck here, with no movement

11:58 pm
If only there were signs to show me which direction I should go


11th April 2011

05:50 am
Selamat pagi Tuhan pemberi rezeki kehidupan.. Semoga semangat yang Kau berikan selalu berkobar dalam diriku..

06:40 pm
Doohh.. Situ kayak Insert deyh.. Gosyip aja sukanya

06:51 pm
Anjrit.. Tiba-tiba galau sendiri denger lagunya 'You Are My Everything' 98 Degress.. Am I Okay?

07.15 pm
Tanpa rasa sama sekali.. *bingung to the max

07:18 pm
Mati satu, gak tumbuh-tumbuh

07:22 pm
Ingin bicara tak tau katakan apa, pada siapa, karena apa, jadi mengapa, inginkan kapan, akankah dimana, bagaimana caranya

07:22 pm
Hati bicara, bibir terdiam...

07:30 pm
My eyes are no tears to cry

*Kicauan Monolog absurd yang entah untuk siapa dan mengapa.. Hanya terlontar begitu saja..

Sunday, March 27, 2011

My Confession

Beberapa waktu membiarkan diri ini bebas dengan romansa, ternyata dapat membuat otak ini bekerja dengan baik.

Diawali dengan mendengarkan sebuah lagu yang membuat otak ini berpikir logis, yaitu lagu yang dibawakan oleh Maliq & D’Essential berjudul ’Coba Katakan’ dan ’Mata Hati Telinga’. Saat itu, melalui sebuah acara musikal tahunan yang digelar oleh Java Musikindo aku mendengar lagu tersebut. Saat mendengarkan, sebuah tamparan besar mendarat pada hatiku. Setelah itu, coba kucari lagu tersebut melalui alat pencari lagu di internet untuk meresapi arti dari setiap kata dalam syair itu.

Aku tak ingin terus terdiam menanti harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
-Coba Katakan (Maliq & D’Essential)-

Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga
-Mata Hati Telinga (Maliq & D’Essential)-

Lagu ini memaksaku untuk melakukan flashback ke waktu 3 bulan sebelumnya. Di mana saat itu aku baru saja memutuskan untuk tidak bersama dengan dia yang sudah 4 tahun bersamaku. Yang kuingat, tidak ada rasa sedih, kecewa, atau pun marah dalam hati ini. Yang ada hanya rasa hambar dan hampa.

Lalu, aku bertemu dengan kamu.. Yah kamu, dengan mimpi yang kupikir akan kamu tawarkan kepadaku. Saat itu, aku ingat betul bagaimana perasaanku mulai bodoh dan logikaku sama sekali tidak dapat berjalan normal dalam mempersepsikan perhatian yang kamu berikan itu. Sikap mu itu aku persepsikan sebagai sebuah pengharapan untuk ku. Yang dibelakang baru kusadari bahwa hal itu hanyalah sebuah egois ku saja untuk mencari sebuah romansa yang hilang. Yah, romansa 4 tahun yang tiba-tiba hilang seketika. Romansa yang seharusnya ada di sampingku dan temaniku menjalani hidup. Romansa 4 tahun yang terlanjur aku bunuh dan mati. Pencarian yang membuat kita berdua terjebak dalam romansa yang tidak seharusnya kita jalani.

Namun, sampai sekarang aku tak pernah mengerti apa yang ada dalam hatimu saat itu. Karena setiap romansa yang coba kubangun, kamu respon dengan sebuah perhatian dan harapan. Namun, aku tak akan pernah salahkan kamu atas sikapmu.. Tak akan pernah sedikit pun. Karena aku sadar, ini seluruhnya adalah kesalahan persepsiku. Karena saat itu tak kusadari bahwa hatiku sedang sakit dan hancur berkeping. Dan dengan segala egoisku, aku memaksa dirimu untuk mengisi rasa itu.

Dari awal pun aku sadar, tak mungkin menyuburkan harapan ini. Terlalu banyak yang berbeda di antara kita. Walaupun aku terlalu percaya diri dengan mengatakan dalam diri bahwa aku siap berjuang di atas perbedaan ini. Tetap saja, harapan itu hanyalah sebuah fatamorgana dalam pikiranku semata. Karena toh akhirnya kita tidak akan pernah bersama. Bukan karena perbedaan antara kita.. Tetapi karena memang harapan itu tak pernah ada.

Mungkin sampai sekarang, aku tak pernah mengungkapkan ini kepada kamu. Karena biarlah, rasa dan harapan itu terbang bersama asa ku. Sudah cukup bagiku dan segala kebodohanku menorehkan rasa tidak nyaman itu dalam hatimu.

Hanya satu harapanku, engkau menemukan tulisanku ini. Aku hanya berharap bahwa kesalahan ku dapat kamu maafkan dan tetap menjadikannya sebuah kenangan antara kita berdua. Kenangan akan sebuah kebodohan luar biasa yang aku lakukan.

Harapanku, kita dapat baik-baik saja kembali seperti dulu sebelum semua kebodohan ini ada.. Kembali saling menyapa tanpa adanya rasa.. Kembali saling membagi senyum simpul dengan segala ketulusan..


*Untuk kamu, yang pernah menjadi bulan dalam fatamorgana langitku...

Thursday, March 10, 2011

Mata Hati Telinga (by Maliq & d'Essentials)


Satu cerita tentang manusia
Coba ‘tuk memahami arti cinta
Benarkah cinta diatas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya

Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia

Reff:
Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta ooo..
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga

Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan

Back to Reff: 2x

Buka mata hati telinga
Buka mata hati telinga
Coba kau buka mata hati telinga
Mata hati telinga

Sebuah lagu yang akhirnya berhasil membuat gue bangkit dari Galau yang selama ini meraja hati... Stop to blame myself.. 

Tuesday, February 22, 2011

#Random Word 6

Teganya kamu,
Biarkan sayap patah ini habis terkulai kupakai terbang menggapaimu.
Tapi..
Tak pernah kau raih aku dan biarkan aku jatuh telak tanpa sayapku.

*Summary / pesan singkat based on previous blog #random wokrs 5*

#Random Words 5

Saat sayap ini patah
Kupaksakan untuk terus terbang
Tak ingin kujatuh dan terluka parah
Karena ku yakin akan dapat terus terbang
Menuju bintang dan rembulan yang tawarkan rasa

Rasa sakit ini kubiarkan hilang tertiup angin
Rasa sakit ini kuyakin kan kering saat terbang lintasi hamparan samudra raya
Dinginnya malam, tak kuhiraukan
Ku hanya mau gapai indah rembulan dengan segala asa

Kubiarkan sayapku kebal akan luka
Kubiarkan ragaku mati rasa
Kubiarkan hatiku tetap berjuang demi indahnya sang rembulan

Namun, tak kusadari
Rasa sakit ini semakin menggerogoti
Sakit ini semakin membunuh raga
Sakit ini semakin melukai hati

Saat ini aku sadar, aku lelah......
Ku sadar ku tak akan sampai ke sana
Ku merasa ku tak akan gapai bintang dan rembulan

Karena semua itu hanya fatamorgana
Yang terlalu berlebih untuk kurasa
Kukira bintang dan rembulan inginkan aku ke sana
Ternyata mereka terlalu jauh untuk kugapai
Sekuat tenaga ini kuterus terbang hanyalah sia-sia
Yang ada, kukorbankan sayap patah ini
Yang sudah tak tersisa lagi

Kuputuskan untuk menyerah
Terbunuh malam
Dan jatuh dalam kubangan yang dalam
Kuharap sayapku tumbuh lagi
Sambil sendiri dalam perenungan,
Memandang bintang dan rembulan yang semakin redup
Yang tak akan berikan senyum itu lagi padaku

Tapi ku disini kan jadi sahabatmu paling setia
Temani engkau wahai bintang dan rembulan dalam kelamnya malam...

Got failed and fall in love in the same time made me so stupid.

Wednesday, February 16, 2011

#Random Words 4

When we spent times together, I feel so damn happy...
When we seperated, I feel so damn bad...
They say, it will be temporary illusion of love
But, why it takes so long time for me missing you everyday?
Is it called Love..?

Just feel it and go with no expect to any....


*Inspiring from 'Hello Stranger'

Tuesday, February 15, 2011

Curhat Sahabat : Masa Depan Cinta

Di sebuah pagi, dalam sebuah ruangan 3x5 m
Saat itu matahari masih menyelinap masuk melalui jendela yang ada dalam ruang itu..
Dimulai dengan sebuah cerita dari serangkaian mawar putih dan pink yang diberikan semalam kepada teman saya oleh seorang laki-laki..
Tentu saja rasa penasaran yang tinggi menghinggap untuk tahu bagaimana buket mawar itu diberikan dalam kepada teman saya ini..

Dalam rangkaian kata-kata, teman saya menceritakan bagaimana sang pemuda yang selama ini memberi perhatian kepadanya memberikan kejutan manis, semanis cerita dalam dongeng putri dan pangeran berkuda putih..

Rangkaian mawar itu diberikan untuk memulai rangkaian kejutan manis yang lainnya.
Hamparan bunga sepanjang jalan menuju balkon untuk mereka makan malam..
Keromantisan yang semakin lengkap dengan iringan lagu cinta yang dimainkan dengan seorang pianis handal..
Namun, semua kejadian manis dan romantis itu menimbulkan sebuah kebimbangan baru yang menjalar dalam hati teman saya ini..
Bagaimana tidak, saat ini dia sudah bersama dengan orang lain..
Walaupun, sudah hampir 5 atau 6 bulan ini hubungan mereka merenggang akibat kekecewaan yang pernah ditorehkan oleh laki-laki itu ke dalam hati teman saya ini..
Bagaimana setelah hampir 5 tahun mereka bersama, ternyata banyak hal dan nilai hidup yang berbeda di antara mereka berdua..
Bagaimana ekspektasi di antara mereka berdua dalam melihat masa depan sudah berbeda arah pandangan..

Lalu, bagaimana dengan laki-laki bak pangeran berkuda putih yang memberikan serangkaian keromantisan dalam hati teman saya ini..?
Mulailah dia bercerita, bagaimana selama ini laki-laki itu datang dalam hidupnya..
Awalnya, teman saya merasa dia bukan orang yang akan diberikan kesempatan untuk masuk dalam hidupnya
Namun, ada sesuatu yang berbeda ditawarkan oleh laki-laki ini kepada dia.
Bukan semata-mata menjual dan mengumbar keromantisan..
Namun, laki-laki itu datang dengan sejuta harapan untuk masa depan cinta yang lebih baik.
Sejuta harapan yang didasari oleh nilai-nilai hidup yang akan memampukan sebuah kehidupan cinta yang penuh dengan ketulusan, kejujuran, dan rasa aman..

Mulailah dari sana, saya dan dia mulai menyimpulkan bagaimana seharusnya masa depan cinta
Bagaimana hidup ini akan lebih indah dan sempurna bila seseorang mencintai kita apa adanya
Bagaimana hidup percintaan kadang harus berakhir dengan sebuah logika..
Sebuah logika.. bukan karena ada yang salah dengan cinta yang telah terbangun selama ini..
Namun, logika tentang harapan akan sebuah kehidupan cinta di masa depan..
Yang menyadarkan bahwa tidak semata-mata cinta yang lama telah terjalin selalu berakhir hingga ke
jenjang yang lebih sempurna lagi, yaitu sebuah perkawinan..

Selintas, masih jelas dalam ingatan saya, seorang rekan kerja yang suatu hari memberikan kabar,

"Girls.. Gue mau dilamar nih.."

"Wuahhh... selamat yah... Akhirnya yahh setelah 7 tahun pacaran, dilamar juga loe sama orang ini"

"Ehh.. ehh.. bukan sama dia gue bakal married.. Sama anaknya temen nyokap gue"

"Haaahhh !!! kok bisa.. Gilakkk loe.. Emang gak cinta loe sama pacar loe yang 7 tahun niihh?"

"Cinta lah.. gilak apah udah 7 tahun.. Tapi dia ternyata bukan orang yang gue cari.. Belum dewasa.. Dia bukan buat gue deh kayaknya.. Kalau sama anaknya temen nyokap yang dijodohin ke gue.. orangnya dewasa.. dan bisa kasih hubungan yang nyaman buat gue.. Dan point yang lebih penting adalah, dia bisa jadi sosok suami yang akan ngemong dan mengarahkan gue sebagai istri.."

"Hmmm.. yah.. yah... Tapi gilak ahhh loe.. coba dipikir lagih.. Emang cinta 7 tahun gak cukup.. Kasihan kaleee tuh orang.. Udah spend time lama sama elo, terus loe tinggalin gituh ajah"

"Lebih kasihan lagih, kalau ternyata pas gue kawin sama dia, kita gak cocok dan dia tersiksa kawin sama gue."

Dari pengalaman teman saya ini, mulailah kami membuka paradigma baru akan sebuah masa depan cinta.
Untuk sebuah masa depan cinta harus dengan dimulai dengan sebuah keberanian yang luar biasa..
Keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan keberanian untuk mengungkapkan segala logika
Logika yang mungkin akhirnya harus dimenangkan untuk memberikan ruang kepada hati ini untuk tidak terlampau jauh untuk sakit hati dan akhirnya menyesal telah salah melangkah..
Logika, untuk mengakui ketidakcocokan fundamental yang akan menyebabkan hubungan penuh kompromi karena sebuah keterpaksaan..

Toh.. kita semua tentunya ingin yang terbaik untuk diri kita..
Terbaik bukan semata-mata secara lahiriah..
Namun, lebih penting lagi mendapat yang terbaik dalam kecocokan jiwa dan rasa..
Rasa akan nilai hidup..
Karena dengan nilai-nilai inilah sebuah hidup akan menjadi lebih hidup dengan saling melengkapi.

Surat Cinta Untukmu

'Pagiii... apa kabar?
Lagi apa di sana?
Have a nice day yah....
Udah makan kan...
Udah pulang..?
Hari ini pasti capek banget yah...
Tapi hari ini lancar kan kerjaannya..?
Yau dah.. sekarang istirahat yahh...
Nite...'

'Pagi... Semangat yahhh..
Hari ini gue pulang dulu.. Makasi udah ditemenin jalan-jalan..
Gonna miss this city... and gonna miss you...'

Barisan kata membentuk dialog yang muncul setelah moment itu hadir dalam hidupku..
Sebenarnya, tak pernah ku duga akan jadi begini..
benar-benar tak pernah terbayangkan.. aku jadi tergila akan sikapmu dan selalu penasaran akan hatimu..

Masih jelas dalam ingatanku, saat kamu sapa aku dengan senyum termanismu..
Kamu tanya kapan kita bisa bertemu... Untuk sekedar memberikan buah tangan untukku..
Aku tak tahu apa maksud mu saat itu... Saat kamu menghampiriku, menjadikan banyak kata sebagai dialog antara aku dan kamu.. Saat kamu menyebut hal itu sebagai sebuah tindakan yang terlalu agresif..
Nope.. I just like you treat me like this..
Datang dalam hidupku.. Penuhi hidupku dengan senyummu yang selalu penuh semangat dan optimisme..
Saat bola mata itu isyaratkan sesuatu yang indah...
Saat kamu perhatikan aku dari jauh.. dan diam-diam beri perhatian lewat pesan singkat melalui BBM..

Kamu mulai sapa hatiku...
Buat jantung ini bergelora saat dekat denganmu..
Kamu beri aku senyum itu..
Kamu beri perhatian itu..
Kamu beri rasa nyaman itu..

Namun.. entah mengapa sekarang kamu lebih banyak diam.. seribu kata..
Namun gesture tubuh itu tak ingin isyaratkan diam..
Entah apa yang ada dalam pikiranmu...
Apakah ada hal yang salah dalam kata atau sikapku..
Kau buat hati ini naik dan jatuh begitu drastis..

Please.. say something to make me knowing better about you..
Saat ini, aku hanya berharap mengenal kamu dan hatimu lebih dalam lagi
Saat ini, aku hanya berharap bisa bicara banyak dengan mu, tentang banyak hal..
Tentang hidupmu.. tentang dirimu.. tentang kesukaanmu.. tentang aktivitasmu.. tentang harapanmu..

Namun.. bila memang kamu tak ingin bicara tentang itu semua dengan ku, katakan saja..
Bila kamu tak ingin aku mengenalmu lebih jauh ungkapkan saja..

Aku tak akan kecewa dengan itu..
Karena 2 bulan ini mengenalmu telah membuat hidupku penuh warna
Buat aku bersabar dan belajar mengertimu apa adanya..
Walaupun, sekarang.. di sini.. Aku selalu menunggu kata darimu..
Menunggu jawaban darimu..
Apakah kita akan mulai mengenal satu sama lain..?


Kisah dalam sebuah penggalan lagu, yang kamu nyanyikan dengan penuh penghayatan saat itu di sampingku..
"Apa salahku
Kau buat begini
Kau tarik ulur hatiku
Hingga sakit yang ku rasa
Apa memang ini yang kamu inginkan
Tak ada sedikitpun niat ‘tuk serius kepadaku
Katakan yang sebenarnya
Jangan mau tak mau seperti ini"


My Life Character

Kata orang, gue tuh anaknya serius banget..
Padahal, muka gue nih serius gini, cuma dibuat untuk projek pencitraan hidup gue..
Bak Pak Beye yang menggunakan trik pencitraan dalam strategi politiknya, begitu pun gue yang menggunakan trik muka serius dalam stratgei kehidupan gue..

Entah disengaja atau tidak, Tuhan memang membuat segala sesuatu yang ada di dunia ini seimbang..
Muka serius gue diciptakan seimbang dengan proses otak gue yang kadang-kadang lebih banyak output konyolnya dibandingkan dengan seriusnya..

Sebenernya sih dulu cita-cita pengen jadi pelawak macem Nicta Gina alias Jeng Kelin, atau gak Fitri Tropica dengan gaya kejut seluruh tubuh..
Tapi apa daya, gak pernah lolos casting, karena cetakan muka gue lebih pas kalo jadi peran antagonis macem pembunuh berdarah dingin atau gak jadi tokoh teroris di pedalaman afrika yang siap melakukan bom bunuh diri.

Gue sendiri juga bingung yah dengan hidup gue yang tergolong gak pernah serius.. *menurut gue lohh yahhh
Selain itu juga, dengan kapasitas CPU (otak) gue yang kadang lebih banyak lemotnya dibandingin normal, somehow gue berusaha dengan sangat keras untuk menyimbangkan cetakan muka gue yang udah terlanjur diciptakan serius oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Gue kadang membayangkan dunia gue nih, sebagai dunia dengan banyak karaktek animasi dan kartun.. Macem Power Ranger, Cibhi Maruko Chan, Satria Baja Hitam, Saint Seiya, Dragon Ball, Candy-Candy, Totally Spies, dan banyak karakter animasi lainnya.

Kalau gue mengidentikan diri gue sendiri lebih dekat dengan Candy-candy..
Yah.. candy-candy dengan semua karakternya : clumsy, tomboy, ceria, konyol, ugal-ugalan, dan terkadang melowwww bgt....

Tapi di satu sisi, sebagai seorang karyawan di salah satu perusahaan automotif besar di Indonesia, pencitraan menjadi sosok yang serius kerap gue pergunakan untuk menjaga profesionalitas..

Sometimes, I missed to be me as Candy-candy character..
Feel free.. can do what I want..

Daaarrrr.. udah jam 3 sore ajah...
Asyik bengong dan utak atik blog.. Sampe lupa deyhh punya janji deadline sama bos....
Kerjaan belom kepegang sama sekali.. Mood beloman ngumpul nihhhh... Ampyuuunnn deyhhhh..
Oke.. It's time for being serious person againnnn....
huuuuffhhhhh...