Showing posts with label Random Perception. Show all posts
Showing posts with label Random Perception. Show all posts

Monday, July 09, 2012

Respect from Rejection


“Live without Pretending,
Love without Defending
Listen without Defending
Speak without Offending”


Suatu hari saya terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman. Dia menceritakan pengalaman hidupnya, yang menurut pandangan saya tidaklah mudah. Kegagalan, penolakan seringkali mewarnai hidupnya. Bagaimana tidak, dari pengalaman beberapa kali tinggal kelas sampai beberapa kali ditolak macam-macam perempuan kerap hadir di hidupnya.

Pernah saya bertanya kepada si teman ini,’Apa sih rasanya gagal dan ditolak berkali-kali?’

Dia hanya menjawab, ‘Yah enjoy ajah. Gue mah sedihnya bentar. Paling besoknya udah lupa dan happy lagih.’

Jujur saja, saya bukan termasuk dalam golongan orang yang kebal akan kegagalan. Dari kecil ibu saya selalu memacu anak-anaknya untuk meraih yang terbaik dalam setiap hidup kami. Dulu jaman sekolah, minimal nilai yang saya dapatkan harus ada di angka 9. Bila di bawah itu, siap-siap saja mendengarkan serangkaian ocehan berdurasi 3 sks. Kuliah pun saya usahakan selesai dalam 3,5 tahun. Tak hanya itu, saya belajar sungguh-sungguh untuk dapat menduduki kursi barisan depan saat wisuda dengan undangan khusus untuk orang tua. Saat bekerja pun setiap proses interview selalu saya lewati dengan baik. Saya pikir dengan melalui semua itu dengan baik, hidup saya akan berjalan mulus. Prestasi akademis bagus, punya jiwa pemberani dan pantang menyerah ternyata belum cukup bagi saya untuk menjalani hari-hari ini.

Sedikit sekali pelajaran hidup saya tentang kegagalan. Dan jujur, agak menyesal juga sih kenapa dulu gak pernah belajar hal itu dengan baik. Dulu saya sekeras tenaga berusaha agar tidak gagal. Berusaha mengontrol semua hal dalam hidup saya agar apa yang saya lakukan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Dan sekarang saya hanya bisa menatap bingung hidup saya saat kegagalan dan penolakan itu datang kepada saya.

Mungkin kalau gagal karena gak meraih apa yang dicita-citakan menurut saya pribadi relatif mudah untuk dilalui. Kalau gagal langsung catat dan ingat untuk kesempatan lain lebih baik lagi. Atau dapat dirumuskan, gagal itu terjadi akibat setting target terlalu tinggi atau kita kita sebenarnya tidak mampu meraih apa yang kita ingikan. Bila setting target terlalu tinggi dan kita belum mampu meraihnya, usahakan lebih keras sampai target itu tercapai. Namun, kacaunya saat ini saya merasa lelah terlalu banyak berlari. Lelah terlalu banyak menggapai. Yah, saya lelah.

Lain halnya dengan makhluk bernama penolakan. Sepertinya makhluk yang satu ini terasa lebih sadis dibanding kegagalan. Karena hal ini tidak hanya menyangkut diri kita saja, tapi juga orang lain.

Beberapa bulan terakhir akibat sebuah adaptasi akan sebuah perubahan ada beberapa situasi yang membuat saya merasa gak nyaman secara mental. Walaupun dari luar kelihatan saya baik-baik saja, tapi dalam hati rasanya pahit juga. Dalam proses adaptasi ini, suatu ketika saya tidak diikutsertakan dalam sebuah acara yang biasanya saya selalu in charged di dalamnya. Saat tahu saya tidak diinformasikan dan juga tidak diikutsertakan, seketika itu saya merasa ditolak mentah-mentah. Marah, kecewa, sedih bercampur aduk jadi satu. Sebenarnya bisa saja saya marah kepada mereka yang berbuat demikian. Tapi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja. Mencoba memahami walau sendiri.

Lain lagi pengalaman dalam sebuah adaptasi pergaulan, ternyata survive di kalangan dewasa lebih sulit daripada pergaulan di kalangan remaja. Kotak-kotak pemisah antar golongan ternyata lebih terlihat wujudnya dibanding saat remaja dulu. Dalam pergaulan di kalangan dewasa, ternyata orang lebih senang ngomong ’di belakang’ ketimbang jujur apa adanya. Di depan kita baik belum tentu sama di belakangnya. Awalnya memang ada rasa gak nyaman di hati saya. Tapi sekali lagi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja, dan mecoba memahaminya walau sendiri.

Dulu saat kecil sampai remaja, saya selalu berusaha membuat semua orang menerima dan menyukai saya. Saya berusaha keras atau mungkin sangat keras untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tidak sampai di sana saja, saya senang menjadi orang yang lebih dipercaya dalam sebuah kelompok. Dan saya berusaha keras atau bahkan sangat keras untuk itu. Namun, rasanya sekarang ini saya pun lelah untuk berusaha. Yah, saya lelah bahkan sangat lelah...

Rasa akibat penolakan memang sakit dan memberikan bekas rasa kecewa dalam hati. Namun, di titik itu saya mencoba merenungkan kembali rasa itu dan ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Mungkin, masih banyak hal yang perlu kita koreksi dari sikap kita. Atau memang kita harus menyadari, kalau kita gak bisa membuat semua orang itu menerima kita dan selalu sependapat dengan kita. Karena harus disadari, walaupun makhluk sosial, manusia itu unik dengan kombinasi karakteristik dan logika masing-masing. Jadi sah-sah saja bila kadang kita merasa gak mendapatkan ’Klik’ dengan tipe orang tertentu yang karakter dan logikanya berbeda dengan kita. Dari sana saya baru tersadar, hidup ini memang penuh perbedaan. Yang penting gimana kita mau menyadari perbedaan itu dan akhirnya mau membangun rasa hormat terhadap orang lain. Bahasa kerennya Respect.

Membangun hubungan personal dengan orang lain memang penting. Terutama dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi gak penting juga untuk membangun hubungan personal terlalu dalam dan memaksa semua orang untuk masuk dalam kehidupan pribadi kita. Membuat semua orang menyukai kita sama mustahilnya seperti kita ingin menjilat mata sendiri. Yang kita perlu hanya Respect  dengan semua orang yang kita kenal gak peduli apa pangkat jabatannya. Karena dari Respect yang kita taburkan untuk orang lain, suatu saat nanti kita pun akan menuai Respect itu sebagai buah dari perbuatan kita.

So, enjoying yourself and let’s make this world more beautiful..

Monday, July 02, 2012

Thousand Words



Tahun ini aktivitas menulis saya sangat berkurang drastis. Block Writing kerap menimpa.
Padahal berbagai ide dan tema tulisan begitu banyak bermunculan di otak saya, namun tidak satupun berhasil menjadi sebuah tulisan.

Entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk menyambungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat lengkap. Padahal ribuan kata seringkali melintas di otak ini. Ternyata ribuan kata itu tidak mampu tertuang menjadi sebuah cerita. Kusadari sulit mencipta emosi yang biasa mampu melekatkan setiap kata yang terangkai. Setiap kali aku mencoba menulis, emosi itu tak pernah muncul.

Dan saat merangkai tulisan ini pun, saya baru tersadar emosi itu ternyata hilang dari diriku. Entah di mana kutinggal mereka. Atau mereka yang dengan sengaja meninggalkan aku.

Entah mengapa aku sampai tak tersadar mereka hilang. Mungkin semenjak aku memutuskan untuk tidak memiliki tujuan apapun yang ingin aku raih di tahun ini. Atau mungkin, akibat efek situasi kondisi pekerjaan yang membuatku frustrasi hinggi lebih memilih cuek dengan permasalahan yang ada sehingga benar-benar tidak peduli lagi.
Entah lah. Yang pasti aku rindu dengan semua perasaan yang membuncah dalam hati saat aku menenggelamkan waktu ku dalam tulisan. Saat aku dan hanya diriku yang dapat merasakan semua. Seakan semua hidup kembali. Hidup dalam duniaku.

Tuesday, October 11, 2011

I Love You from the Start

Percaya gak sih dengan yang namanya takdir?

Apa bener semua jalan hidup ini sudah diatur oleh Tuhan? Apa benar semua tujuan hidup kita sudah digariskan? Apakah benar jodoh kita telah ditentukan sejak lahir? Bicara soal takdir dan jodoh, setiap orang pasti berbeda-beda pengalaman yaa.

Dalam sebuah perbincangan malam dengan nyokap, doi sempet cerita ‘gosip’ terbaru yang dapat menjadi bahan cerita kita berdua.

‘Tau gak sih, kalau mantanmu tuh sekarang udah punya pacar baru?’

‘Ya elah maa, kan aku udah cerita. Pacarnya sekarang itu temen waktu kuliah. Wong sidang skripsinya aja bareng. Kayaknya waktu dulu di kampus, aku beberapa kali lihat mereka ngobrol sih. Emang kelihatannya udah deket dari dulu. Mungkin dulu belom ada kesempatan kali yah.’

‘Iyaaa.. denger-denger tuh dia sebelum jadian sama kamu udah nembak itu perempuan, tapi di tolak. Udahan gitu jadian deh sama kamu. Eh, sekarang mereka jadian deh.’

‘Iya sih, aku tau kok. Lagian waktu terakhir-akhir sama aku udah terasa banget kok. Hubungannya mereka udah intens banget. Yah, kalo sekarang malah jadian yah mudah-mudahan namanya jodoh.’
----------------------------------------------------------------------------

Di lain kesempatan, seorang teman bercerita tentang nasib percintaannya,

‘Gue akhirnya milih dia jadi cowok gue.’

‘Bagus deh. Secara kan loe temen baik sama dia dari dulu.’

‘Iya sih. Sebenernya gue udah naksir nih anak dari dulu jaman gue remaja. Jaman masih cupu. Tapi entah tiba-tiba dia ngilang karena masuk asrama. Gue menjalin cinta sama siapa, dia pun sama siapa.. dan sekarang kita ngerasa ternyata saling sayang. Ya udah deh, jadian ajah.’
---------------------------------------------------------------------------

Atau sebuah perbincangan penuh kebingungan antara teman,

‘Kemarin gue pulang kampung halaman yah…  Terus ketemu sama temen satu geng waktu SMA gitu. 
Eh, masa 3 di antara mereka tuh kayak orang tukeran pasangan aja yaaa.. Mantannya si B sekarang suaminya A. Mantannya A sekarang suaminya C dan mantannya C suaminya si B. Gila yaaaa.. emang mereka gak ngerasa aneh yah satu sama lain?’

‘Aneh gimana maksudnya?’

‘Yah aneh lah.. emang gak aneh apa ngebanyain dulu pada mesra-mesraan pas pacaran. Ciuman lah, pelukan lah.. kan aneh’

‘Iya sih kalo di pikir-pikir aneh yah. Secara pasti kan pas mereka remaja saling curhat yah?’

‘Nah itu dia. Secara kan gue dulu satu geng sama mereka. Dari berempat, Cuma gue aja yang nikah sama orang di luar lingkungan pergaulan kita pas remaja.’

‘Yaaahh.. namanya juga dulu masih cinta monyet. Gak nyangka  pas udah dewasa rasanya beda kali. Just only Heaven knows about love, kan.. Kita mah tinggal ngerasain dan ngejalanin’
----------------------------------------------------------------------

Kita gak akan pernah tau yah, kemana hati ini akan mengarah. Kepada siapakah kita akan membagi suka, duka, kangen, manja, marah, sedih bersama. Dalam kamus hidup gue, jatuh cinta itu enaknya emang harus pada pandangan pertama. Dengan orang yang gak pernah kita kenal, saling liat-liatan, kenalan nanya nama, akhirnya ngobrol tentang kesukaan atau kegiatan masing-masing, sampai akhirnya memutuskan untuk barengan menjalani hidup berdua dalam hubungan pacaran.

Inget banget deh jaman remaja dulu sampe ngucap sumpah kalo gue gak akan pernah suka apalagi pacaran sama temen baik. Kebayang aja kan, saat kita udah tau baik buruknya temen kita, bahkan sampe busuk-busuknya kelakuan dan pemikiran dia, ternyata kita jatuh cinta sama dia. Ngobrolin hal-hal romantic sama dia, which is dulu kita goblog-goblog’an bareng. Dan ternyata.. sumpah itu akhirnya balik ke gue. Gak pernah kira, bahwa sekarang gue memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria yang gue udah tau dari kecil. Pria yang berhasil membuat hati ini yakin bahwa gak ada salahnya kok pacaran sama temen sendiri. Malahan bagus, kita udah pernah saling kenal, udah tau sedikit karakter baik dan buruk sampe gokilnya kita.

Jujur, saat remaja dulu memang gue pernah terpesona sama pria ini saat dia berlaga di atas panggung bersama dengan gitarnya. Namun, saat itu kupikir hanyalah sebuah rasa kagum semata dan gak pernah ada niatan untuk melanjutkan ke niat yang lebih serius. Dia pernah menjalin cerita sama siapa dan gue pun punya banyak cerita cinta. Tapi entah kenapa, ada angin atau karena mantra apa, cinta tumbuh dalam persahabatan gue dan dia.

Dan sekarang, setelah hati ini memutuskan untuk menjalin hidup bersama dengan dia. I just realize that I love him from the start.


Monday, September 26, 2011

S.A.L.T

‘Ada yang bilang, dangdut tanpa goyang bak sayur tanpa garam. Kurang enak, kurang sedap.’


Dalam sebuah kesempatan hang out  bersama dengan teman-teman, kami memilih warung bakso terdekat untuk menjadi tempat kami berbagi tawa dan canda. Seperti biasa, sesampainya di sana kami langsung menyebutkan spesifikasi pilihan bakso kami. Sembari menunggu pesanan, kami tertawa bercanda lepas. Dari cerita seputar yang baru jadian, atau yang sedang deg-degan nunggu tanggal pernikahannya. Sampai ritual cela-celaan atas kebodohan-kebodohan yang pernah kami lakukan.

Kurang lebih 10 menit kemudian, datanglah mangkok-mangkok bakso pesanan kami. Dan seperti biasanya, saya lebih suka makan bakso dengan bumbu original / polos tanpa ada campuran saos, kecap, sambal, garam, ataupun cuka. Menurut saya makanan dapat dikatakan nikmat bila dari rasa originalnya saja sudah menggoyangkan lidah. Namun berbeda pendapat dengan beberapa teman saya. Menurut mereka, meracik kembali rasa makanan yang dipesan merupakan satu seni yang memerlukan bakat tertentu. Jadi wajib untuk mereka, menambah cita rasa sebuah makanan itu dengan sambal, saos, kecap, cuka, dan ataupun garam.

Yah, memang kalau kita ngobrolin soal makanan memang setiap orang punya kekhasan masing-masing. Tapi, maaf, untuk kali ini saya bukan akan membahas soal selera makan. Karena ngobrol soal selera makan bak ngobrolin soal agama atau keyakinan, yang gak pernah ada ujungnya. Toh, semua itu tergantung oleh kesukaan masing-masing orang.

Nah, balik lagi soal beberapa bumbu penyedap makanan. Ada banyak sekali bumbu masakan dari cabe, bawang merah-putih, lada, kemiri, jahe, kunyit, pala, daun salam, dan masih banyak yang lainnya. Namun, ada satu bumbu yang selalu hadir dalam setiap masakan, yaitu garam. Masih ingat dalam ingat saya saat masih belajar masak. Mama selalu bilang,

“Kalau masak bumbu paling dasar itu garam, gula, dan bawang putih. Tapi dari semuanya, yang gak pernah boleh lupa adalah garam.’

Benar juga sih, terbayang aja sebuah masakan tanpa garam, rasanya akan hambar luar biasa. Kalau dipikir-pikir, luar biasa juga benda kecil yang satu ini. Hanya sedikit saja takarannya, menjadikan masakan luar biasa terasa nikmat. Kalau kata Mbak Inul, Sang Ratu Ngebor, ‘Dangdut tanpa goyang bagai sayur tanpa garam’.
Saya pun teringat sebuah kalimat dari seorang teman yang sekarang menjadi orang yang mengisi hati saya.

‘Iyah, sebuah hubungan cinta juga perlu garam loh.’

‘Haahh !! kok bisa.’

‘Iyah, bisa lah. Garam bahasa inggrisnya kan SALT’

‘He eh.. terus..?’

‘Iyah, hubungan cinta juga butuh SALT : Sacrifice, Attention, Loyalty, Trust. Coba deh, hilangin salah satu komponennya, dijamin hubungan jadi garing, hambar.’

Seketika itu pun, saya mengamini apa yang dikatakan olehnya. Memang sih, sebuah hubungan cinta gak pernah ada rumusan pastinya, seperti kalau kita belajar aljabar. Tapi 4 komponen dalam SALT saya rasa menjadi sebuah komponen mendasar dari sebuah hubungan.

Memang seketika itu juga, saya mencoba bertanya lebih dalam lagi tentang makna SALT ini. Jangan sampai 4 huruf ini sekedar menjadi sebuah konsep khayalan tingkat tinggi, di mana sulit menemukan realita praktisnya.
Mulailah, saya menggali lebih dalam lagi dengan beberapa pertanyaan bak seorang wartawan .

‘Oke.. Kalo kita ngobrol soal Sacrifice atau pengorbanan, kayaknya kok yang terlintas di dalam otak ini cuma pengorbanan tulus dan sejati dari Tuhan kepada manusia yah? Apakah ada pengorbanan tulus ala manusia? Tulus ikhlas tanpa pamrih?’

‘Hmmm… Iya juga yaaa.. Kalo ngobrolin Sacrifice yang kebayang cuma hubungan Tuhan dan manusia.. Let me think… ‘

‘Tuh kan… aku juga udah cari di google, tentang sacrifice ini yang muncul gambar salib dan yang berbau keagamaan lainnya.’

‘Hmmm.. menurut aku, saat kita menyerahkan diri kita untuk orang yang kita sayangi. Pengorbanan di sini sederhananya dapat berupa pengorbanan secara emosional.’

‘Maksudnya?’

‘Di mana kita mau menerima orang yang kita kasihi apa adanya. Mau memaafkannya saat dia berbuat kesalahan dan tetap menyayanginya. Mau menerima kembali mereka saat mereka melakukan penghianatan kepada kita. Pengorbanan diri yang dimaksud adalah penyangkalan kita atas emosi-emosi negative yang muncul dan mengalahkan diri atas kemarahan, kekecewaan, kesedihan yang kita rasakan. Pengorbanan tulus ikhlas yang menghidupkan.’

‘Woooowwww. Dahsyat yaa.’

Seketika itu juga, saya merasakan ini pendapatnya benar-benar nyata. Siapa sihh yang gak pernah ngerasa sakit hati saat menjalin hubungan dengan orang lain. Kalo kata pepatah, ‘Kalau gak mau sakit hati yah jangan jatuh cinta donk.’

Saya mulai terhanyut dalam diskusi benda kecil bernama SALT ini, dan lanjut ke akronim kedua, yaitu dari kata Attention. Pasti semua dari kita dengan baik dapat mengartikan kata Attention atau Perhatian dalam arti kata bahasa Indonesia nya. Sesuai dengan kata dasarnya, yaitu HATI, perhatian dapat bermakna, segala sesuatu yang dilakukan dengan hati. Membuat orang lain merasa bahwa mereka ada dalam hati kita sudah cukup mewakili kata ini.

Untuk akronim ketiga, yaitu Loyalty mungkin suatu hal yang mudah terucap, namun sulit dijalani. Siapa sih, di dunia ini orang yang ingin diduakan atau ditigakan oleh pasangannya? Tapi, siapa pula di dunia ini yang mampu dengan baik menolak ajakan untuk sekedar mencari ‘Refreshing’ dalam sebuah hubungan yang sudah tahunan dan terasa mulai berkurang gregetnya. Siapa di dunia ini yang belum pernah sama sekali punya pengalaman suka, sayang, atau bahkan sekedar mengagumi orang lain selain keluarga atau pasangannya? Tapi semua pasti setuju, kalau dalam sebuah hubungan, kita ingin mendapatkan pasangan yang setia gak cuma sekedar di mulut, tapi juga di hati.

Nilai sebuah kesetiaan tidak hanya sekedar memenuhi atas janji kita kepada orang lain. Namun lebih mendalam lagi memenuhi janji yang telah kita ucapkan terhadap diri sendiri. Pada prakteknya, jujur atau setia akan janji terhadap orang lain lebih mudah untuk dijalankan daripada memenuhi janji dan mendisiplinkan diri untuk melakukannya dengan baik. Karena pada dasarnya manusia amat mencintai dirinya sendiri sehingga banyak toleransi-toleransi yang diberikan. Padahal musuh terbesar dalam hidup ini adalah diri kita sendiri. Bila kita membiarkan diri kita kalah akan toleransi yang ada, maka kita kalah terhadap musuh tebesar kita.
Kalau kita ngobrol soal kesetiaan, pasti gak jauh dari kata ‘Saling Percaya’. Dan inilah akronim terakhir dari komponen SALT, yaitu Trust.

Untuk topik saling percaya, saya suka sekali dengan analogi berikut ini,

‘Kepercayaan itu bagai sebuah pasir pantai, semakin digenggam akan semakin lepas dari tangan kita. Namun, bila kita berikan sebuah kelonggaran maka kita akan dapat terus membawa pasir tersebut di atas tangan kita.’

Saya pikir akan lebih mengasyikan kalau pasangan kita mau percaya dan membebaskan kita untuk bertanggung jawab atas segala apa yang kita ingin lakukan. Jadi ingat, jaman ABG dulu, pernah punya teman dekat yang super posesif. Setiap jam di SMS atau bahkan di telepon, sekedar tanya saya sedang apa, di mana, sama siapa, dan serentetan pertanyaan retoris lainnya yang membuat saya ingin mengganti nomer telepon genggam saya.

Hmmm… lucu memang kalau dipikir-pikir ternyata benda kecil bernama garam a.k.a salt ini punya daya magis yang sangat tinggi yah. Dia gak cuman menjadi penyedap dalam sebuah masakan, namun juga penyedap rasa dalam hidup, spesifik dalam hidup percintaan. Kecil memang, namun bila kita dengan sebuah ketulusan menambahkan komponen S.A.L.T dalam sebuah hubungan akan menjadi sangat bermakna dan menambah warna dalam perjalanannya..

Namun, selayaknya digunakan dalam komposisi bumbu masakan. Bila terlalu berlebih akan menimbulkan masalah baru dan menjadi duri dalam daging. Bila kadarnya sedikit pun tidak akan memberikan sebuah cita rasa yang baik pada sebuah masakan. Takaran dari SALT ini tergantung situasi dan kondisi yang ada. Bila hubungan sedang terasa hambar, bolehlah kita menambahkan sedikit porsi dari SALT ini. Kecil besarnya takaran dikembalikan kepada selera dan keunikan masing-masing personal. Layaknya menyantap semangkuk bakso. Saya lebih suka menyantapnya secara Original, namun teman-teman saya yang lain lebih suka menambahkan kembali rasa asin, pedas, atau gurih ke dalam masakan yang telah tersedia.

Manakah yang benar? Sekali lagi tergantung selera, situasi, dan kondisinya..

PS : 
Dan saya.. sekarang juga sedang mencoba menambahkan komponen S.A.L.T itu dalam hubungan saya.  Bukannya akan tanpa halangan dalam prakteknya.. Yah.. doakan saja yaaa komponen S.A.L.T ini bisa membawa saya ke tahap selanjutnya yang lebih serius. *inget umur cyiiiinnnnnttt

Saturday, July 16, 2011

Tentang Lelaki

“Your decision determine who you are”


Dalam sebuah pembicaraan yang tak cukup singkat, berikut ini beberapa petikan singkatnya :

‘Kamu kan anak psikologi yah, pasti sudah khatam yah berbagai karakteristik manusia. Kalau dari yang loe tau, karakter cowok tuh kayak apa?’

‘Hmmm.. Cowok yaa.. Dari sharing temen-temen cowok yah mereka kebanyakan tuh suka olah raga, musik, petualangan,  egosi nya tinggi.. Makanya gak pacaran sesama laki, karena sama2 egois..hehehe’

‘Terus.. apa lagi?’

‘Hmm.. Otak kecil kalian dominan banget. Maksudnya porsi aktivitas seksual nya tinggi, kadang dominan banget. Hmmm.. Apa lagi yaaa.. kayaknya udahan deh gitu.’

’Hmmm.. loe lupa satu hal. Laki-laki tuh punya 2 kategori. Kalau gak bajingan.. yah homo.’

’Hmmm.. gitu yaahh.. Cowok cuma 2 kategori. Are you sure?’

‘Yup. I’m sure.’

‘Terus, kalo gitu loe masuk kategori mana? Loe suka sama laki or homo maksudnya?’

Seketika lawan bicara saya pun terdiam.. Mungkin kaget.. tumben banget saya mengeluarkan pertanyaan yang menyudutkan seperti ini.. Padahal pertanyaan saya cuma sekedar pertanyaan logika sederhana untuk memastikan di golongan manakah lawan bicara saya ini berada. Bajingan atau Homo?

Pembicaraan pun berlanjut.......

‘Kalau menurut gue yah.. laki-laki itu ada 3 kategori’

’Wooww.. Ada 3? Apa tuh?’

’Bajingan. Homo, dan Family Man.  Untuk kategori terakhir, hasil pengalaman gue liat dari bokap gue. Dia sayang keluarga, bertanggung jawab, gak pernah bikin kita sedíh kayak laki-laki bajingan di luar sana. Pun bokap gue gak pernah punya sejarah suka sama laki.’

‘Woww..  Surprising answer yaaa.. Elo emang selalu berpikir out of the box. I just like the way you are thinking. Amused. Padahal 2 kategori tadi kan dibuat sama cewe kebanyakan. Isn’t it?’

‘Mungkin 2 kategori tadi di buat sama cewe-cewe desperado karena kecewa luar biasa sama yang namanya laki. Gue pernah merasa kecewa dengan beberapa laki-laki. But I still believe that so many good guys out there for me. Kalo loe sendiri masuk golongan mana? Terdaftar dalam golongan familiy man kah?

Dan sekali lagi lawan bicara saya ini diam tanpa kata. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir nya. Hanya ada sebuah gelengan lemah dan sebuah senyum simpul yang mengisyaratkan sebuah pilihan atas hidupnya.

Setiap manusia memang memiliki pilihan bebas akan hidup. Entah pilihan itu dinilai baik atau buruk oleh masyarakat, tetap saja akhirnya pilihan terakhir ada di tangan manusia itu sendiri. Berdasarkan hal ini lah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berusaha lebih lanjut untuk mendapatkan jawaban dari lawan bicara saya ini. Pun bila jawaban itu terlontar, tentunya bukan sebuah jawaban yang saya harapkan.

Sampai dengan akhir dialog kami, ketulusan tetap ada dalam hati saya. Ketulusan untuk menjadi seorang sahabat terbaik untuk dia. Karena sebenarnya yang dia butuhkan hanyalah seorang sahabat yang bisa memahami dengan sebuah ketulusan. Agar luka hati yang teramat dalam yang mungkin pernah dirasakan sirna. Agar dia sadar bahwa di dunia ini masih banyak ketulusan sebagai sebuah hal berharga yang patut dilestarikan. Sembari dalam hati, saya memberikan tanda bahwa orang seperti ini perlu dimasukan dalam kotak khusus agar hidupnya tidak mengkontaminasi hati dan pikiran saya.


Wednesday, June 29, 2011

Superman Is Dead





I want to be a superhero. Guess my name!

hmm.. Superman? Spiderman? or Gentongman? :p

Yourman.

*freeze

Monday, May 16, 2011

Phileo Love



“Kalau boleh tau, berapa persen kemungkinan loe bakal jatuh cinta sama gue?”

“Saat ini gue juga bingung untuk menjawab. Tapi kalo insist mungkin 74% forecastnya.”

“Jangan pernah jatuh cinta sama gue yah.. Cinta Cuma bikin hubungan kita gak asik. Yaa jaim lah.. Yah sebel2an lah.. I just never wanna loss you.”

”Kalau elo, gak ada kemungkinan jatuh cinta yah? Sama gue pastinya.”

”Gue nyaman berinteraksi dengan loe. I don’t know.. kalau rasa nyaman itu meningkat.. Gue rasa, I can’t refuse to fall in love with you.”
*Sebuah jawaban yang seharusnya adalah “You know, it’s hard for me not to fall in love with you..”

Picture source : www.poundingheartbeat.com

You are the Unexpected Person


"Rejection doesn't hurt. Expectation does."

Untuk menghabiskan waktu saat akhir pekan, biasanya saya mampir ke pusat perbelanjaan yang banyak tersebar di Jakarta Raya, ini yang sering disebut dengan mall. Dalam keramaian mall ada yang menarik perhatian saya. Senyum-senyum penuh ketulusan yang tak pernah henti mengembang saat menawarkan aplikasi kartu kredit. Entah berapa orang yang telah mereka tawari untuk mengisi aplikasi tersebut. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan orang. 

Satu hari dengan iseng saya mencoba untuk berjalan beberapa kali melewati stand aplikasi tersebut. Saat itu, kurang lebihnya 5 kali saya bolak-balik. Begitu terkejutnya saya saat senyum-senyum penuh ketulusan itu tetap mengembang ke arah saya dan dengan semangat yang sama mereka tetap menawari saya untuk melakukan aplikasi produk kartu kredit mereka.

Entah apa yang saya rasakan saat itu. Yang pasti, dada saya tiba-tiba berdegup tak henti, seakan menampar hati ini..

Jelas dalam ingatan saya, setiap tahun baru dengan berbagai pesta perayaannya, saya pun selalu menuliskan resolusi yang ingin saya gapai dalam waktu satu tahun ke depan. Memang, saya bukanlah orang yang masuk dalam golongan Result Oriented. Kalau boleh mengelompokkan diri, saya lebih senang berada dalam kelompok Process Oriented, di mana proses dalam setiap pencapaian menjadi terasa lebih bermakna ketimbang pencapaian itu sendiri. Banyak tantangan yang harus dihadapi sebagai orang yang masuk dalam golongan ini. Saya harus siap menerima setiap kejutan yang ada saat proses berlangsung. Kejutan berupa kegagalan atau keberhasilan dalam sebuah proses pencapaian.

”Apakah saya masih bisa tersenyum dengan tulus dan dengan semangat yang sama tetap berdiri tegak menghadapi kegagalan dalam sebuah proses pencapaian?”

Terkadang dalam proses pencapaian bukanlah kegagalan yang kita takutkan. Kita lebih khawatir bahwa proses yang terjadi tidak sesuai dengan yang apa kita harapkan. Padahal sadar atau tidak, kegagalan adalah sebuah hal wajar terjadi. Kegagalan mengingatkan kita untuk melihat kembali seberapa besar usaha kita. Kegagalan mengingatkan kita kembali untuk berserah Kepada-Nya yang selalu ada saat kita gembira, sedih, galau, berhasil, atau dalam keadaan terpuruk sekalipun.

Masalahnya adalah, bagaimana sikap kita dalam menggapai sebuah ekspektasi? Apakah kita lebih suka mengejarnya dengan sekuat tenaga, memastikan semua tahap dari proses pencapaian berhasil dijalankan? Ataukah menjalani semua dengan penuh ketulusan. Meyakini bahwa akan berhasil mendapatkan hasil yang terbaik dari proses yang dijalani. Baik atau buruk proses yang dijalani, toh itu hanyalah tahap dalam pencapaian yang menjadikan kita lebih baik lagi dari hari ke hari...

Sunday, May 15, 2011

Apple on the Treetop


‘Loe tuh sebagai perempuan terlalu perfect, Mba.. Gue aja adore sama loe. Sebagai perempuan, loe tuh terlalu kuat mba.. Makanya loe harus dapat pasangan yang lebih dari loe segalanya. Lebih dalam hal pengetahuan, idealisme hidup, karir, cara pandang. Yah.. semua hal deh, dia harus lebih dari loe. Dan banyak teman-teman tuh yang adore juga sama loe, seperti gue mengidolakan loe, Mba”

Dari sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh teman saya melalui media chatting BlackBerry Messenger saya mendapatkan kata-kata ini. Terus terang, saat mendapatkan pengakuan dari teman saya ini, bukan rasa senang atau pun tersanjung yang muncul dalam benak dan hati saya. Namun rasa resah dan khawatir yang tiba-tiba terlintas.

Sehebat dan sesempurna itukah saya dimata rekan-rekan saya?Betulkah hanya seorang laki-laki yang sama sempurnanya yang bisa mendapatkan saya? Wuahhh, bakal ribed juga yah hidup gue? Orang bakal ngeri bergaul sama gue nih. Am I too perfect?

Karena ternyata bukan hanya teman saya ini yang berani mengutarakan pendapatnya kepada saya. Suatu hari saya pun pernah mendapatkan penilaian yang sama dari seorang teman yang baru mengenal saya beberapa minggu terakhir ini.

’Loe terbuat dari apa sih, Dess? First impression gue sama loe tuh perempuan yang mandiri. Bisa menjalani hidup sendiri tanpa orang lain. Perempuan seperti loe akan membuat orang lain penasaran. Namun, sepertinya dahan yang menahan loe itu terlalu kuat dan tinggi yah.’

Sekali lagi muncul pertanyaan yang sama, Am I perfect person? Pertanyaan itu berulang kali terngiang dalam benak dan hati saya.. Selama ini saya menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Mencoba mengikuti naluri dalam meraih mimpi.. Menjalani hidup apa adanya.. Mencoba mengusahakan yang terbaik untuk diri dan keluarga. That’s it.. Nothing special I think..

Memang tidak bisa dipungkiri, menyenangkan memang bisa menjadi seseorang yang berarti dan memberikan inspirasi kepada orang lain. Namun, menurut saya, apalah artinya saya bila akhirnya saya hanya bisa bertengger di atas pohon saya dan menjadi begitu tinggi untuk orang lain. Ibarat sebuah apel yang ranum karena matang di pohon, tentunya apel itu akan menjadi berguna bagi orang lain saat sudah dipetik dan dapat dinikmati dan memberikan manfaat bagi orang lain. Entah itu membuat orang lain menjadi lebih sehat akibat mendapatkan vitamin yang terkandungnya atau sekedar rasa bahagia karena mendapatkan rasa manis buah yang matang ranum itu.

Begitu pun saya. Diri ini akan menjadi berguna untuk orang lain bukan karena orang lain melihat saya hebat atau lebih dari orang lain. Mendapatkan banyak decak kagum dan pujian. Namun, saya akan merasa lebih berguna bila bisa menorehkan rasa bahagia dalam hati banyak orang.

Dan berharap akan datang seseorang dengan penuh keberanian memanjat ke atas dahan pohon apel itu dan dengan penuh kesajahaan membawa saya dengan aman sampai ke bawah dan membiarkan diri ini lebih banyak lagi memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar pohon itu.

*Image diambil dari Profile Picture tetangga sebelah dalam contact list BlackBerry Messenger

Saturday, May 14, 2011

Mencari Si Mitri


Dalam sebuah perjalanan, pikiran saya tiba-tiba melayang ke masa 8 tahun lalu saat saya masih menggunakan rok berwarna abu-abu dengan kunciran dan dandanan super cupu. Sangat jelas dalam ingatan saya, saat itu saya begitu penasaran akan kehidupan saya di masa periode usia 25 tahun.

Saat itu saya bertanya-tanya,

Pada usia itu, kira-kira apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya akan menjadi seorang wanita karier? Apakah saya sudah menikah dan membina sebuah keluarga? Memiliki seorang atau dua orang anak yang lucu sambil membina karier bersama dengan suami saya.

Dari pertanyaaan dan angan tersebut, mulailah saya bertanya dalam diri saya. Yang saya bayangkan saat itu adalah, setelah SMA, saya akan masuk perguruan tinggi dan setelahnya menikah dengan laki-laki yang menjadi kekasih saya saat itu. Sebuah pikiran yang terlalu serius untuk anak seusia saya pada saat itu.

Keseriusan itu, coba diimani oleh saya. Selepas SMA, saya belajar dengan rajin dan menjalani beberapa hubungan personal yang serius. Karena dalam benak saya, di antara usia 25, saya sudah akan membangun sebuah kehidupan yang mandiri baik dari segi finansial maupun dalam kehidupan personal.

Dalam hal pendidikan dan mengejar gelar sarjana, tentunya keseriusan saya ini tidak perlu diragukan lagi. Saya berhasil menyelesaikan study saya selama 3 tahun 9 bulan. Begitu pun dengan urusan percintaan atau personal. Betapa saya ingat, saat di awal kuliah saya sempat berpacaran serius dengan seorang kakak kelas yang nyatanya berbeda keyakinan dengan saya. Saat itu, keseriusan saya terwujud dari banyaknya membaca literatur tentang hubungan beda identitas dan juga intensif beraktivitas dengan dia dan keluarganya. Begitu pun sebaliknya. Tak lepas juga dari ingatan saya, bagaimana kami telah membuat sebuah bagan rencana kami setelah saya menyelesaikan studi. Dan di sana tertulis, pada usia 25 saya sudah akan memiliki seorang anak. Saat itu semuanya terasa begitu dekat, jelas, dan terukur.

Nyatanya setelah bagan itu tercipta, kami malah memutuskan berpisah. Seketika itu, rasa dan kecocokan antara kami hilang menguap begitu saja. Setelah itu saya membina hubungan serius saya dengan pria yang lainnya. Mendekati usia 25 tahun, hubungan kami memasuki tahun keempat, dan begitu optimisnya saya akan rencana seperti saat SMA dulu. Namun, realita berkata lain. Satu minggu setelah saya berusia 25 tahun, kami sepakat mengakhiri hubungan kami.

Ternyata, realita baru ini menghenyakkan saya akan sebuah kewajiban baru bagi saya untuk tetap bersemangat memenuhi cita-cita masa muda saya. Memang, saat itu beberapa ’proposal’ rasa diberikan kepada saya. Dan tugas saya hanya satu, Mencari Chemistry untuk setiap proposal yang ada.

Bila berbincang tentang chemistry atau lebih sering saya sebut sebagai Si Mitri (agar terlihat lebih akrab dan bersahabat dengan mahkluk yang satu ini), tentu akan banyak pendapat untuk setiap orang. Hampir semua orang di dunia merasa yakin bahwa Si Mitri memiliki peran yang sangat penting dalam hubungan personal kita dengan orang lain, entah itu dengan keluarga, teman, pasangan hidup, atau bahkan dengan musuh sekalipun Si Mitri tetap memiliki sebuah peran yang penting. Dalam aktivitasnya, makhluk ini mampu menjadikan sebuah pengalaman penuh dengan rasa.

Mengutip sebuah pernyataan seorang teman yang membangun hubungan rumah tangga atas hasil dari sebuah perjodohan, ”Rasa cinta dan kecocokan datang karena terbiasa. Terbiasa beraktivitas bersama, berkomunikasi berdua. Jadi buat apa pusing dengan Si Mitri. Toh, dia hanya bumbu rasa ajah.”

Lain lagi, pendapat teman saya yang lainnya, ”Buat apa ada Si Mitri. Emang nya dia bisa bikin kita kenyang dan bahagia. Toh, yang penting punya pasangan yang modalnya besar, jadi bisa memenuhi rasa bahagia kita lahir bathin.”

Atau curahan hati seorang sahabat yang sudah sangat merindu pasangan hidup di sampingnya. ”Kenapa yah.. gue selalu nervous saat ketemu orang yang menurut gue udah sesuai kriteria gue banget. Akhirnya gue malah gak dapet apa-apa dari dia dan Cuma gigit jari karena udah keburu jiper sama itu sosok sempurna.”

Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman orang di sekeliling saya mengenai Si Mitri.

Entahlah.. Saya sendiri pun bingung bila harus berpendapat akan makhluk yang satu ini. Namun sampai saat ini saya sangat mengimani peran dari makhluk yang satu ini dalam menentukan arah perasaan saya. Karena saya setuju dengan kata-kata seorang pujangga bahwa, ”Cinta bukan hanya sekedar karena terbiasa, namun lebih karena adanya kecocokan jiwa.”

Teringat akan janji masa muda dulu dan realitas yang menyadarkan bahwa saya sudah tidak muda lagi. Muncul pertanyaan berulang kali dalam benak saya.

Apakah saya akan berkeras untuk menemukan Si Mitri atau membiarkan Si Mitri yang akhirnya akan menemukan saya?

Sunday, May 01, 2011

Jejak Kaki

Hari ini saya telah merencanakan sebuah petualangan untuk mengisi aktivitas kosong dalam akhir minggu ini. Petualangan ini berawal dari sebuah kegiatan iseng mendaftarkan diri dalam sebuah kompetisi nasional yang diadakan oleh sebuah portal fashion online. Dari pendaftaran ini, ternyata saya lolos tahap awal, yang berarti harus mengikuti tahap selanjutnya untuk sessi foto dan wawancara.

Sebenarnya, saya bukanlah tipe manusia yang antusias mengikuti kompetisi seperti ini.. Apalagi setelah tau lokasi foto dan interview yang sangat jauh letaknya dari rumah, menambah rasa malas dalam diri. Tapi untuk kali ini, saya mencoba keluar dari zona nyaman saya dan bertekad untuk mengikuti tahap selanjutnya. Bukan karena hadiah yang sangat menggiurkan, namun lebih kepada rasa ingin tahu dan sekedar melepas penat dalam diri saya.

Entah apa yang menggerakkan saya, semangat itu begitu besar. Pagi-pagi sekali setelah sempat menyapa Tuhan terlebih dahulu, saya berangkat ke lokasi acara dengan menggunakan transportasi favorit saya. Lalu dengan diantar oleh seorang bapak ojek, saya pun meluncur ke sana.

Memang, pilihan menggunakan ojek langganan untuk menuju ke lokasi foto dan interview bukanlah sebuah pilihan yang bijaksana. Selain karena biaya yang relatif mahal, saya pun menjadi tidak terbiasa untuk mengenal dan memahami angkutan umum yang telah tersedia. Namun, apalah artinya semua itu, toh esensinya sama saja. Yang penting, saya dapat sampai tepat waktu di lokasi, entah menggunakan ojek, angkutan umum, ataupun kendaraan pribadi. Toh itu hanya sekedar preferensi dari masing-masing orang dalam mencapai tujuan.

Setelah sampai di sana, saya mengikuti beberapa tahap dari foto, membuat video profile, dan juga interview dengan panitia pelaksana. Semua aktivitas itu berjalan lancar dan cepat, tidak sesuai bayangan bahwa kan ramai dan penuh antrian.

Setelah dari sana, saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat di pusat kota untuk membeli sebuah kado untuk mama yang esok hari akan berulang tahun. Kali ini, saya memutuskan untuk menyimpan uang saya dengan menahan diri pergi menggunakan taksi. Pilihan saya jatuh pada Trans Jakarta, yang kebetulan ada persis di depan gedung acara tersebut. Trans Jakarta adalah kendaraan khusus yang disediakan oleh pemerintah, yang mampu membawa kita ke beberapa tempat hanya dengan sekali bayar tiket. Dengan diiringi alunan lagu dari pemutar lagu dikantong , saya begitu menikmati setiap detik dan pemberhentian yang ada.

Karena menggunakan Trans Jakarta , saya diharuskan untuk berpindah armada untuk menuju tempat tujuan. Dari pemberhentian terakhir armada pertama menuju ke armada kedua, saya harus melalui sebuah jembatan panjang yang menghubungkan keduanya. Saat berjalan dalam jembatan itu, ada sebuah rasa yang bergejolak dalam diri saya.

Sepanjang jembatan itu. saya memperhatikan orang-orang yang berjalan di sekitar. Ada beberapa orang yang berjalan dengan ritme yang sangat cepat bahkan setengah berlari. Ada juga yang berjalan santai sambil bercanda dengan teman-temannya. Ada juga yang berjalan lambat dengan muka menerawang ke arah jalan atau bahkan tertunduk dalam melihat setiap langkah yang diambilnya. Kalau saya memilih untuk berjalan santai sambil memperhatikan sekitar saya. Dan saat itu, hati ini begitu bergolak entah mengapa.


Seketika itu, munucul banyak pertanyaan dalam diri ini.

"Apakah orang yang jalan cepat seakan terburu-buru karena memang ingin mengejar sesuatu atau karena memang gaya jejak kakinya memang seperti itu?"

Atau...

"Mereka yang berjalan lambat sambil menerawang entah ke mana, juga memiliki emosi yang sama dengan orang yang memilih untuk berjalan cepat?"

Terkadang kita tidak pernah sadar akan setiap jejak kaki yang kita lakukan. Tidak pernah sadar, bahwa jejak kaki yang kita lakukan adalah representasi dari emosi yang kita rasakan saat itu. Apakah jejak kaki kita adalah jejak santai, jejak terburu-buru, jejak penuh amarah, jejak kesedihan, jejak penuh kegembiraan, jejak harapan, jejak penuh optimisme, atau jejak dengan makna yang lain.

Setiap jejak kaki hari itu, seakan menghenyakkan saya dalam kesadaran. Saat ini, saya berada dalam ambang kebingungan atas apa yang saya rasa dan saya harapkan dalam hidup saya. Buktinya, hari itu di atas jembatan panjang itu, saya berjalan hanya dengan jejak jejak kaki pasti namun gontai, seakan ingin berempati atas perasaan hati ini. Yah.. memang semua akan kembali kepada saya.. Tetap melakukan jejak kaki sesuai perasaan ini, atau mengubah perasaan ini menjadi lebih baik dengan kembali mengatur jejak kaki saya agar lebih berdaya dan penuh semangat atas sebuah harapan yang seakan tak akan pernah kunjung padam.

Tuesday, February 22, 2011

#Random Word 6

Teganya kamu,
Biarkan sayap patah ini habis terkulai kupakai terbang menggapaimu.
Tapi..
Tak pernah kau raih aku dan biarkan aku jatuh telak tanpa sayapku.

*Summary / pesan singkat based on previous blog #random wokrs 5*

Thursday, February 03, 2011

#Random Perception 1

"Mau dijemput?"

"Gak deh.. Bisa sendiri kok."

"Dijemput aja yah.."

"Beneran bisa kok pulang sendiri.. Gak usah repot."

"R u sure?"

"Yup.. I'm sure.."

*Pas pulang..

"Anjrit.. Mendung nehh.. Buru2 jalan dehh.. Tadi kenapa nolak dijemput yah?
Masa sekarang minta jemput sih. Mau ditaroh kemana muke gue?"

*tiba-tiba bbm masuk..

"Udah di jalan?"

"Udah nih.. Baru naik angkot.. Macet plus ujan."

"Dapet tempat duduk gak?"

"Gak nih.. Kaki udah mulai gemeteran lagih."

"Hmmm.. Mau dijemput gak?"

*mikir....

"Gak dehh.. Dilanjutin ngangkot ajah.."

"R u sure?"

"Yup.. try my best.."

"Ya udah kalau udah sampai, kabarin yah.."

*mikir lagih...
Kenapa gue tolak sihh.. Udah ujan.. macet2an.. gak dapet duduk.. kaki gemeteran.. Dan sekarang nyesel.. Kerepotan sendiri dalem angkot..


Dialog absurd ditengah kegalauan...
5 Januari 2011