Friday, May 17, 2013

Ku Ingin (Kembali) Mengasihi Mu

Saat itu, saat aku berlutut di hadapanMu
Saat aku menghadap kehadirat Mu
Kembali kuingat kejadian itu

Aku sadar Tuhan, saat itu aku telah melukai Engkau
Saat mengenang pengorbanan HidupMu
Ku malah tak dapat menahan rasa emosi itu
Ku malah biarkan Sang Gelap kuasai hatiku
Padahal saat itu aku berada dalam sucinya rumah kudus Mu

Akhhh..
Andaikan saja Tuhan..
Andai ku dapat kembali ke masa itu
Sungguh ku kan berusaha tak akan lukai hati Mu

Aku sungguh kalah dari godaan si Jahat
Kini hanya rasa sesal dan malu yang tersisa
Saat kulihat wajah suciMu tergantung di salib nan Mulia
Ku sungguh malu dan hanya bisa mengalirkan  air mata
Berjuta maaf kupanjatkan selalu untuk Mu
Mungkin tak akan pernah cukup menghapus dosaku
Tapi kuyakin, Kau Maha Pengampun
Biarlah rasa sesal itu selalu menjadi pelajaran berharga dalam hidup
Yang selalu ingatkanku untuk mengasihiMu
Selalu..

Wednesday, May 15, 2013

Dari Diam Kepada Diam Untuk Diam

Saat ini aku hanya bisa diam
Walau bukan begitu maksudku
Tapi biarlah untuk sejenak aku diam

Biarlah begini dulu.. Diam..
Diam-diam aku merasamu
Diam-diam aku merindumu
Diam-diam ku kirimkan doa untuk mu
Diam-diam aku tetap menyayangimu
Diam-diam ku taruh harapan ini padamu

Dalam diam walau menyakitkan kurasa indah
Karena ku dapat rasakan benar tulus hati ini
Tulus yang kuharap dapat kau rasakan dalam diam mu

Dalam diam kucoba sampaikan
Harapan kepada Sang Maha Diam
Yang walau kusampaikan lewat diam, ku yakin Dia kan mendengar

Biarlah Dia yang kan menyentuh dan menyampaikan rasa ini kepadamu dalam semua diam mu..

Sunday, May 12, 2013

Beri Waktu kepada Sang Waktu

Mba sudah berkeluarga atau belum?
Belum pak. Masih nanggung diri sendiri.
Memang usianya berapa?
27 tahun.
Oh yah masih muda yah. Untuk ukuran model wanita karier seperti mba nya 27 tahun masih muda banget. Masih panjang waktunya.
Kelihatannya saya tipikal wanita karier gitu yah pak? Hehehehe.. udah mau kepala 3 nih pak. Kayaknya malah sudah telat berkeluarga. Haha..

Ini sepenggal dialog antara saya dan seorang bapak yang sebenarnya gak terlalu saya kenal. (Malahan, baru kenal pagi itu. Hahahahay).
Pagi itu saat sedang sarapan sendiri di kantin, seorang Bapak menghampiri saya dan duduk satu meja dengan saya. Seperti biasa kalau ketemu orang yang gak dikenal , obrolan pasti dimulai dengan beberapa pertanyaan standar. Apa sih yang ditanya kalau bukan tinggal di mana? Di kantor ini posisi bagian apa? Sudah berkeluarga atau masih single? Dan sederet pertanyaan sesuai SOP obrolan orang yang baru kenal.
Pagi itu, seperti biasanya saya jarang berbicara kalau gak ditanya. Jadilah, pagi ini saya menjadi pendengar yang baik untuk cerita sang Bapak yang sarapan pagi bareng saya hari itu. Mulailah dia bercerita tentang keluarga dan pekerjaannya. Mulai tanya-tanya kok saya masih single. Yah namanya juga baru kenal, pasti jawaban saya seadanya aja. Saya bilang aja, “Belum waktunya kali pak. Udah mau tenggat waktu yah padahal kalau buat perempuan? Hahahaha.. Mungkin belum ada jodoh yang pas. Mungkin juga belum waktunya pak. Belum dikasih kepercayaan sama yang di Atas.” Dan serangkaian jawaban standar lainnya kalau ditanya “Kenapa belum menikah??”
Oh iyah, Bicara mengenai waktu, saya jadi inget salah satu analogi yang ditulis oleh Oka @landakgaul dalam bukunya “Analogi Cinta Sendiri”. Kebetulan buku ini direkomendasi sama seorang teman yang pakarnya dalam dunia per-GALAU-an anak muda. (Dan saya juga rekomendasi buku ini untuk dibaca).
Dalam buku ini, tertulis
“Akhirnya gue paham apa yang dimaksud Einstein tentang relativitas waktu. Ketika gue lagi bareng Regina dan gue merasa senang banget waktu akan terasa sangat cepat. Tapi, pas gue berusaha menghindari Regina dan kebetulan harus bareng dia, rasanya waktu nggak berjalan” – Analogi Cinta Sendiri, hal 69-70.
Dari sini, langsung lah saya ber-flash back ke waktu hidup saya semenit lalu, sejam, sehari, seminggu, sebulan, setahun yang lalu.. Bener banget, yang namanya waktu emang relatif banget. Kalau kita lagi happy dan lagi bersama orang yang bikin kita  happy rasanya waktu tuh berjalan cepppeeett bangeett.. Tapi kalau kita lagi kesel, kecewa, sedih, ngarep ketemu orang yang kita sayang tapi gak bisa ketemu, itu rasanya semenit aja berasa 80 tahun, laaammmaaa buangeeettt..  Sampai kadang kita pingin banget punya remote waktu, skip ke masa-masa hanya saat kita bahagia saja. Tapi apa bener yah, kalau kita punya remote waktu itu dan terus kita bahagia terus kita juga pasti bakal happy.
Gimana kita bisa tahu yang namanya rasa bahagia kalau gak pernah ngerasa sedih, kecewa, terluka?
Jadi ingat satu kesempatan dengan dia (yang dalam blog ini bernama samaran Toni). Dalam sebuah pengakuan blak-blakan saya mengenai cinta, Toni pernah bertanya,
“Seumur hidup, kamu gak pernah ngerasain ditolak yah cintanya sama orang lain?”
Dengan jumawa saya menjawab,
“Hmmm.. seumur hidup, tema hidup aku tuh kayak lagu Dewa 19, Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku.. Jadi yah sebisa mungkin jangan sampai ditolak deh..hehehe”

Saat itu, saya hanya merasa Toni bertanya itu sekenanya dan gak ada arahan apa pun. Dan ternyata beberapa hari setelah itu saya dihadapkan pada kenyataan bahwa dia bilang udah gak mau menjalin hubungan sama saya dan dia juga gak tahu perasaan sayang dan cinta dia pergi kemana. Kasarnya cinta saya ditolak sama Toni. Dan respon perempuan kalo cintanya ditolak yah meratap, ngemis-ngemis cinta sama dia.. (Hahaha.. !! ini tho rasanya ditolak cintanya ! Oke, checklist of one more experience)

Dan mulailah saya masuk dalam kenyataan relativitas waktu yang paling menyebalkan, harus nunggu gak tahu sampai kapan dan dengan tingkat probabilitas yang entah persentase nya saya sendiri gak tahu. Masuk dalam periode di mana waktu begitu lama berjalan dan saya terjebak dalam kebingungan “Gue cinta dia, tapi gue gak bisa bilang dan mengekspresikan hal itu sama dia. Gue sayang sama dia, but can do nothing to show that I'm care. Feel like hell”.
Kalau Maliq & D’Essentials punya lagu “Beri Cinta Waktu” , saya rasa lagu itu yang paling pas buat keadaan saya sekarang. Berikut ini liriknya :
Dengarlah bisikkku Saat ku merindumu
Tetes air mata Tak dapat sembunyikan rasa
Cintaku untuk dirimu

Bilakah kau tau Ketika kau jauh
Menangis hatiku Saat kumemanggil namamu
Tiada lagi hadir untukku..oh

Reff:
Bila ku katakan kini Arti hadirmu disini
Mungkinkah kau kan kembali
Bersama denganku

Beri cinta waktu Untuk memahami Untuk meyakini
Bila esok yang kan terjadi Semua indah yang terjalani

Dengar bisikku Ku merindumu
Kini kau jauh menangis hatiku
Masih adakah ruang hatimu
Untukku kembali..oh
Yup.. Sekarang saya hanya bisa memberikan waktu pada cinta untuk menemukan jalannya kembali.
Namun, sesuai dengan teori relativitas waktu tadi yah terima saja bila sang waktu tak akan pernah memberikan tahu rencana kapan dia akan memberikan jawabannya. Dan kembali saya ingat statement si Bapak teman makan pagi hari itu.
Hidup ini gak ada tenggat waktu nya.. Begitu pun dengan berkeluarga.. Kalau sudah waktunya, pasti semua akan berproses. Yang penting kamu jangan lupa tetap punya harapan. Karena cuma harapan yang bisa buat kamu tetap hidup..

Monday, May 06, 2013

More than Worth It

“Lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati”
Ungkapan ini, mungkin sangat sering kita dengar dan seringkali kita jadikan guyonan dengan teman-teman.
Anyway.. ngobrol tentang sakit gigi, sudah hampir 3 tahun saya menggunakan kawat gigi.
Which is, untuk semua orang yang pernah pakai kawat gigi pasti tahu persis deh rasa penyiksaaannya. Hehehe..
Beberapa minggu lalu, demi merapikan gigi bagian atas, atas persetujuan saya dokter terpaksa mencabut 2 gigi saya supaya masih ada ruang gerak untuk gigi yang lainnya sehingga mudah untuk dirapikan.
Setelah hampir 1 bulan setelah pencabutan gigi, mulailah penyiksaan selanjutnya dimulai. Untuk merapikannya, gigi bagian atas dipasang semacam per pendorong agar gigi bisa bergerak mundur ke belakang. Belum puas dengan memasang per, dengan sadis si dokter memasang semacam karet penarik agar gerak mundur si gigi lebih cepat lagi.  And this pain feel like hell.
Ahhh, ada-ada saja ide si dokter kali ini, pikirku. Ditambah lagi dengan narasi-narasi pengantar dari dokter,
“Nanti setelah dipasang per dan karet penariknya, besok siap-siap gak bisa makan lagi yah. Rasanya pasti luar biasa sakit. Yah.. ini gigi kamu bandel. Pakai 1 treatment pasti lama geraknya. Jadi kita dobel yah. Gigi akan didorong dari depan plus ditarik dari belakang. Sakit nya biar sekalian. Saya bilang ini ke kamu dari awal, biar kamu gak cerewet sakit gigi sama saya.”
Dan sepulang dari dokter, mulailah kekhawatiran saya. Betapa tidak, dalam 1 bulan terakhir saja bobot badan saya sudah berkurang cukup signifikan. Apa alasannya? Sudahlah tidak perlu diceritakan lagi, cukup baca blog-blog saya sebelumnya.
Pagi ini.. gigi bagian atas saya sudah mulai berkontraksi..
Hmm.. well it’s really super duper painfull.
Selain harus berjuang menahan derita setelah gigi dicabut, sekarang derita ini bertambah dengan gaya tarik-dorong si gigi.
Seketika ada rasa penyesalan dalam hati. Kenapa kemarin milih setuju untuk cabut gigi yah.. (Hahahaha.. as ussual yah penyesalan selalu datang terlambat kan. Kalo datang duluan namanya PENDAFTARAN kan yahhhh.. bahahaha).
Tapi ajaib sekali lohhh.. Dari kejadian ini, saya seakan mendapat wangsit / insight  yang cukup menyemangati (at least buat diri saya sendiri).
Well.. treatment gigi ini emang menyakitkan banget. Tapi mungkin dengan peristiwa dicabutnya 2 gigi saya serta aksi tarik-dorong ini menyadarkan saya. Hidup memang mungkin gak semulus yang dibayangkan. Banyak aksi dan pengambilan keputusan yang kadang menyakitkan. Seperti gigi yang mau dirapikan, harus dicabut untuk memberikan ruang gerak agar lebih leluasa untuk dilakukan banyak aksi perbaikan. Dan tentunya setiap aksi perbaikan gak  semudah yang kita perkirakan.
Sama seperti hidup kita..
Saat semua seakan terlalu berhimpitan dan menumpuk, mungkin kita perlu mengambil keputusan ektrim untuk memberikan ruang gerak pada sebuah atau beberapa buah perubahan besar dalam hidup kita. Sakit? Pastinya. Menyebalkan? Sudah tentu.
Namun, bila kita mengingat kembali tujuannya yaitu untuk suatu hal yang lebih baik,  I think that could be more than worth it.

Wednesday, May 01, 2013

Abu - Abu

Kawan.. Pernahkah engkau merasa tersesat dalam hidupmu sendiri?

Saat ini aku merasa hidup dalam dunia hitam-putih-abuabu.
Di mana tak ada lagi warna merangkai hari-hariku.

Setiap kali kulihat di depanku orang berjalan, berbicara, duduk, diam, berlari, tertawa..
Namun ku seperti tak paham apa yang mereka lakukan.
Entah aku yang tak mengerti.. Atau aku yang tak mampu merasa lagi?

Detik demi detik menjalin menit merangkai jam, hari, minggu, dan bulan..
Setiap hari aku membuka mata dan beraktivitas penuh namun tiada makna tercipta dalam rasa.
Entah ada di dunia bagian mana aku tersesat?
Rasa nya aku ingin kembali pulang, walau saat ini ku tak tau arahnya.

Kini aku terdiam dan terjebak dalam lingkaran penuh kebingungan.
Hanya menatap kosong dunia abu-abu ini.
Ku harap kan merah, kuning, hijau, biru kembali mewarnai hari ini.

Semoga Sang Pelukis hidup ini kan mendengar harapanku..

Kangen Dia

Tuhan..
Aku kangen dia..
Ada banyak cerita di hidupku yang ingin aku bagikan dan ceritakan kepada dia
Tapi, aku takut Tuhan..
Aku takut mendapat respon pahit itu lagi..
Padahal rasanya jiwa ini kembali hidup saat aku bisa bercerita kembali kepada dia...
Aku kangen dia, Tuhan..
Kangen senyum yang menyemangati itu..
Kangen ide-ide dan pemikiran-pemikiran gila itu..
Kangen omelan dan nasihat-nasihat itu..
Kangen rasa itu..
Rasa membutuhkan dia, selalu...

Sunday, April 28, 2013

Yes, I will Try..

 
 
Yes, I will try
Whether you said don't
I keep trying even just in my mind..
 
 
- Asher Book, Try -

Terlanjur Sayang


...
Apakah diriku yang bersalah?
hingga pisah di depan mata..
Tetapi diriku masih, tetap cinta kamu kasih slamanya
Sampai kapan juga..
...

Friday, April 26, 2013

Jangan Pernah Tanyakan..

Jangan pernah bertanya, 'Cintakah kamu padaku?' kepada orang yang sudah Engkau tahu mencintai dan menyayangi kamu..
Namun selalu katakan 'Aku cinta kamu' kepadanya..

Jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk selalu menyatakan 'Aku cinta kamu' kepada orang yang benar-benar kamu sayangi..

Karena mereka selayaknya mendapat pengakuan itu dari mulut, hati, dan pikiranmu..
Bukan mendapat sebuah kesangsian akan rasa mereka..
Karena kamu gak akan pernah tahu, kapan kamu akan kehilangan mereka...

Walaupun saat ini ku tak dapat katakan itu pada dirinya.
Biarlah lewat tulisan ini, dia tahu dan merasa kembali..
Aku rindu, sayang, dan cinta dia..

Wednesday, April 24, 2013

Aku Cinta Dia


Tuhan..
Betapa jiwa ini tak ada rasa lagi tanpa dirinya..
Baru kali ini , kurasa sakit tak hanya di raga, namun juga di jiwa.
Kini aku paham Tuhan... semua pasti akan ada konsekuensinya.
Bila boleh aku meminta, 1 kesempatan
Kesempatan untuk meraih apa yang aku butuhkan
Karena untuk kali ini aku paham apa yang aku butuhkan
Bukan sekedar apa yang aku mau dan aku rasa.
Dengan semua resiko dan konsekuensi yang ada, kuyakinkan kembali jiwa ini

Aku Cinta Dia..

 

 

-dedicated to ADP-

Jiwa yang Hilang..














Dua minggu sudah berlalu.
Rasa gemetar dan derasnya aliran air mata seakan tiada henti.
Entah mengapa, kesempatan itu benar-benar sulit kudapatkan lagi. Aku tak tahu, mengapa kamu sampai semarah itu padaku?
Berkali kucoba cairkan suasana. Mencoba menjadi air saat api mu begitu membara.
Namun entah, tersesat di mana rasa sayang dan cinta yang sudah terjalin hampir 2 tahun ini.
Yang kudapat lakukan, berdoa dan berharap bila rasa itu menemukan jalannya kembali.
Dalam hati kecil ini, aku masih merasakan sayang dan cinta itu dalam hatimu. Namun mengapa kamu begitu tinggi gengsi untuk mau memaafkan aku? Padahal, dulu kamu yang selalu menyadarkan dan membuat aku mau memahami bahwa cinta adalah memaafkan dan menerima kembali.
Kamu tahu, mas..?
Saat kamu tak ada di sini, sesak rasa dada ini. Menikmati hirupan oksigen saja rasanya aku tak mampu.
Ku dapat memahami, sulitnya hidup tanpa kamu.
Memang ku mampu menjalani aktivitas ku tanpa kamu.. Namun, apalah rasanya, aku hidup tanpa jiwaku.
Ku sadari, jiwa ku butuh kamu..
Entah apa yang membuatku benar-benar membutuhkanmu
Namun yang kutahu, jiwa ini hampa tanpa dirimu. Kosong..
Bukan maksud aku untuk merajuk.. Namun, dengan tulus harus kukatakan,
Aku Cinta Kamu..
 
To : Mas ADP (dengan nama samaran dalam blog Toni)

Sungguh

Sungguh, saat ini aku hanya butuh sebuah pelukan.
Untuk menguatkan aku..
Betapa aku saat ini merasa sendiri
Tersesat entah di mana
Kali ini sungguh, andai aku punya mesin waktu
Aku kan kembali ke sana.. dan berjuang untuk semua kebaikan kita
Tak mengucap kata menyerah, karena sebenarnya ku tak ingin menyerah

Tuhan..
Aku mohon topang jiwa ini
Ku merasa ku tak lagi miliki jiwa dan raga ini menyatu
Ku merasa hilang tak hanya sebagian jiwaku, tapi seluruh jiwa ini pergi

Tuhan..
Kepada Mu aku hanya dapat bersandar
Aku tahu Engkau lah satu-satunya andalanku
Tapi..
Engkau tahu Tuhan.. betapa aku terlampau takut
Takut jiwa ini pergi tak akan pernah kembali
Takut ku akan tak sekuat yang Engkau harapkan
Entah apa yang akan terjadi di depan sana..
Ku harap Engkau kan selalu ada
Di saat manis dan pahitku
Saat aku merasa rencanaku tak sesuai dengan rencana-Mu
Biarlah ku serahkan sepenuhnya hidupku dalam tuntunan-Mu
Walaupun derasnya air mata mengalir seakan tak henti
Namun ku yakin, semua kan indah pada waktunya..

Sunday, March 31, 2013

Wajah Cinta

Sore ini teringat dalam benak Sissy pertengkarannya dengan Toni, kekasihnya.
Dalam marahnya, Sissy masuk dalam siklus yang selalu berulang dan mengucap ingin berpisah dengan Toni.

Bukannya tanpa penyesalan setelah mengucapkannya.
Pertengkaran yang sebenarnya karena hal-hal yang tidak begitu fundamental.
Pertengkaran akibat mereka masih perlu untuk mengenal satu sama yang lain.

Penyesalan yang luar biasa itu muncul.
Bagaimana dia kembali ingat, komitmennya pada Tuhan untuk belajar akan sebuah ketulusan.
Ketulusan hati yang ingin dia miliki untuk menjadikan hidup lebih baik lagi.
Namun, ternyata dia kembali jatuh lagi.

Setelah mengucap maaf, Sissy sadar semua tidak akan dengan mudah kembali seperti semula.
Layaknya, kayu yang tertancap paku tetap meninggalkan bekas walau pakunya sudah dicabut.
Dengan harapan ingin memperbaiki hubungan, Sissy mengajak Toni untuk mencoba mendapatkan quality time berdua.
Menghabiskan waktu berdua untuk menyuburkan kembali rasa cinta dalam hati.

Seperti biasa, Toni dan Sissy bersama menonton film terbaru.
Saat film berlangsung 15 menit, Toni mulai memejamkan mata dan tertidur.
Padahal saat itu adegan film sedang penuh aksi.
Disudut mata, Sissy melirik kekasihnya yang tertidur sangat pulas.
Sissy paham betul, aktivitas Toni yang sangat padat minggu itu banyak menyita waktu istirahatnya. Namun, keinginan Toni untuk pergi dengan Sissy hari ini sudah sangat membahagiakan bagi Sissy. Hingga Sissy membiarkan Toni pulas dalam tidurnya.
Lalu selama beberapa menit, Sissy melihat wajah Toni.
Betapa dia tersadar, wajah ini selalu dia rindukan dalam hari-harinya.
Betapa senyum itu selalu membawa bahagia dalam hatinya.
Saat itu, tanpa sadar Sissy bergumam dalam hati,

"I love you, Ton.. I love you.."

Wednesday, March 13, 2013

Keep Smile.. Always Smile.. Smilling !!


Honestly, I'm hurt..
Maybe, it was not my day..
Keep trying and always Smilling.
Keep believe that world would give me bunch of smiles back..

Sunday, March 10, 2013

Sungguh..

Huu ku sadar kini aku telah sendiri
Kau pergi sementara ataukah untuk selamanya
Huu hanya bintang tempat aku mengadu
Dalam malam ini aku bersujud menunggumu
Tanpa pernah ku dapat mengerti
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Jangan pernah kau lepaskan
Jiwa ini telah melebur dan menyatu
Tapi kini kau tinggalkan aku sungguh
Dan aku tak mampu untuk menahan segala rasa
Huu hanya bintang tempat aku mengadu
Dalam malam ini aku bersujud menunggumu
Tanpa pernah ku dapat mengerti
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Sungguh sungguh satu pintaku
Jangan kau tinggalkan aku sungguh
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Jangan pernah kau lepaskan
Jiwa ini telah melebur dan menyatu
Tapi kini kau tinggalkan aku sungguh
Dan aku tak mampu untuk menahan segala rasa
 

Sunday, July 15, 2012

I Wish I was a Fixer

'I will build you a town if the world fell down
I wish I was that guy...'

Song : Frank D. Fixer
Artist : Jason Mraz
Album : LOVE, 2012

Saturday, July 14, 2012

Place with No Sincerity

Sesaat tersenyum
Sesaat merasa terdampar
Sesaat tertawa
Sesaat terkucilkan

Mencari hati dalam setiap tumpukan lembar kertas
Ritme penuh stimulus respon yang kadang tak dimengerti
Sitmulus respon yang terasa tak berarti
Karena hati yang tak kumiliki

Semua hanya logika dan perasaan
Logika dan perasaaan akan sebuah peran
Kumpulan adegan dalam sebuah panggung sandiwara
Tidak ada realita di sana

Panggung sandiwara dengan puluhan topeng di sana
Yang tak pernah tau apa yang ada dibaliknya.
Mencipta bingung aku dalam jiwa.
Sekaligus kagum akan seni kelicikan tingkat atas

Kucoba tampil dengan jiwa dan raga yang apa adanya
Namun, ku merasa makin teraniaya
Akhirnya putuskan untuk gunakan salah satunya
Satu topeng yang membuat yang berkuasa menjadi senang
Topeng rakyat jelata
Dengan harapan masih ada keserhanaan dan ketulusan dalam hati dan jiwa.
Tapi mengpa..
Makin lama kupakai topeng ini makin tersesat kurasa.



Friday, July 13, 2012

N.0.L




Nol.
Nihil dan kosong.
Tapi tetap sebuah nilai.

Nol.
Memenangkan perkalian.
Tidak perlu dipangkatkan.
Karena akan bernilai nol.

Aku mungkin nol.
Nihil.
Kosong.
Tapi tetap bernilai.

Mungkin tanpa arti.
Tapi tetap ada.

Di hatimu.

Karya Valiant Budi Yogi, @vabyo (dalam novel Joker)

Monday, July 09, 2012

Respect from Rejection


“Live without Pretending,
Love without Defending
Listen without Defending
Speak without Offending”


Suatu hari saya terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman. Dia menceritakan pengalaman hidupnya, yang menurut pandangan saya tidaklah mudah. Kegagalan, penolakan seringkali mewarnai hidupnya. Bagaimana tidak, dari pengalaman beberapa kali tinggal kelas sampai beberapa kali ditolak macam-macam perempuan kerap hadir di hidupnya.

Pernah saya bertanya kepada si teman ini,’Apa sih rasanya gagal dan ditolak berkali-kali?’

Dia hanya menjawab, ‘Yah enjoy ajah. Gue mah sedihnya bentar. Paling besoknya udah lupa dan happy lagih.’

Jujur saja, saya bukan termasuk dalam golongan orang yang kebal akan kegagalan. Dari kecil ibu saya selalu memacu anak-anaknya untuk meraih yang terbaik dalam setiap hidup kami. Dulu jaman sekolah, minimal nilai yang saya dapatkan harus ada di angka 9. Bila di bawah itu, siap-siap saja mendengarkan serangkaian ocehan berdurasi 3 sks. Kuliah pun saya usahakan selesai dalam 3,5 tahun. Tak hanya itu, saya belajar sungguh-sungguh untuk dapat menduduki kursi barisan depan saat wisuda dengan undangan khusus untuk orang tua. Saat bekerja pun setiap proses interview selalu saya lewati dengan baik. Saya pikir dengan melalui semua itu dengan baik, hidup saya akan berjalan mulus. Prestasi akademis bagus, punya jiwa pemberani dan pantang menyerah ternyata belum cukup bagi saya untuk menjalani hari-hari ini.

Sedikit sekali pelajaran hidup saya tentang kegagalan. Dan jujur, agak menyesal juga sih kenapa dulu gak pernah belajar hal itu dengan baik. Dulu saya sekeras tenaga berusaha agar tidak gagal. Berusaha mengontrol semua hal dalam hidup saya agar apa yang saya lakukan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Dan sekarang saya hanya bisa menatap bingung hidup saya saat kegagalan dan penolakan itu datang kepada saya.

Mungkin kalau gagal karena gak meraih apa yang dicita-citakan menurut saya pribadi relatif mudah untuk dilalui. Kalau gagal langsung catat dan ingat untuk kesempatan lain lebih baik lagi. Atau dapat dirumuskan, gagal itu terjadi akibat setting target terlalu tinggi atau kita kita sebenarnya tidak mampu meraih apa yang kita ingikan. Bila setting target terlalu tinggi dan kita belum mampu meraihnya, usahakan lebih keras sampai target itu tercapai. Namun, kacaunya saat ini saya merasa lelah terlalu banyak berlari. Lelah terlalu banyak menggapai. Yah, saya lelah.

Lain halnya dengan makhluk bernama penolakan. Sepertinya makhluk yang satu ini terasa lebih sadis dibanding kegagalan. Karena hal ini tidak hanya menyangkut diri kita saja, tapi juga orang lain.

Beberapa bulan terakhir akibat sebuah adaptasi akan sebuah perubahan ada beberapa situasi yang membuat saya merasa gak nyaman secara mental. Walaupun dari luar kelihatan saya baik-baik saja, tapi dalam hati rasanya pahit juga. Dalam proses adaptasi ini, suatu ketika saya tidak diikutsertakan dalam sebuah acara yang biasanya saya selalu in charged di dalamnya. Saat tahu saya tidak diinformasikan dan juga tidak diikutsertakan, seketika itu saya merasa ditolak mentah-mentah. Marah, kecewa, sedih bercampur aduk jadi satu. Sebenarnya bisa saja saya marah kepada mereka yang berbuat demikian. Tapi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja. Mencoba memahami walau sendiri.

Lain lagi pengalaman dalam sebuah adaptasi pergaulan, ternyata survive di kalangan dewasa lebih sulit daripada pergaulan di kalangan remaja. Kotak-kotak pemisah antar golongan ternyata lebih terlihat wujudnya dibanding saat remaja dulu. Dalam pergaulan di kalangan dewasa, ternyata orang lebih senang ngomong ’di belakang’ ketimbang jujur apa adanya. Di depan kita baik belum tentu sama di belakangnya. Awalnya memang ada rasa gak nyaman di hati saya. Tapi sekali lagi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja, dan mecoba memahaminya walau sendiri.

Dulu saat kecil sampai remaja, saya selalu berusaha membuat semua orang menerima dan menyukai saya. Saya berusaha keras atau mungkin sangat keras untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tidak sampai di sana saja, saya senang menjadi orang yang lebih dipercaya dalam sebuah kelompok. Dan saya berusaha keras atau bahkan sangat keras untuk itu. Namun, rasanya sekarang ini saya pun lelah untuk berusaha. Yah, saya lelah bahkan sangat lelah...

Rasa akibat penolakan memang sakit dan memberikan bekas rasa kecewa dalam hati. Namun, di titik itu saya mencoba merenungkan kembali rasa itu dan ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Mungkin, masih banyak hal yang perlu kita koreksi dari sikap kita. Atau memang kita harus menyadari, kalau kita gak bisa membuat semua orang itu menerima kita dan selalu sependapat dengan kita. Karena harus disadari, walaupun makhluk sosial, manusia itu unik dengan kombinasi karakteristik dan logika masing-masing. Jadi sah-sah saja bila kadang kita merasa gak mendapatkan ’Klik’ dengan tipe orang tertentu yang karakter dan logikanya berbeda dengan kita. Dari sana saya baru tersadar, hidup ini memang penuh perbedaan. Yang penting gimana kita mau menyadari perbedaan itu dan akhirnya mau membangun rasa hormat terhadap orang lain. Bahasa kerennya Respect.

Membangun hubungan personal dengan orang lain memang penting. Terutama dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi gak penting juga untuk membangun hubungan personal terlalu dalam dan memaksa semua orang untuk masuk dalam kehidupan pribadi kita. Membuat semua orang menyukai kita sama mustahilnya seperti kita ingin menjilat mata sendiri. Yang kita perlu hanya Respect  dengan semua orang yang kita kenal gak peduli apa pangkat jabatannya. Karena dari Respect yang kita taburkan untuk orang lain, suatu saat nanti kita pun akan menuai Respect itu sebagai buah dari perbuatan kita.

So, enjoying yourself and let’s make this world more beautiful..

Monday, July 02, 2012

Thousand Words



Tahun ini aktivitas menulis saya sangat berkurang drastis. Block Writing kerap menimpa.
Padahal berbagai ide dan tema tulisan begitu banyak bermunculan di otak saya, namun tidak satupun berhasil menjadi sebuah tulisan.

Entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk menyambungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat lengkap. Padahal ribuan kata seringkali melintas di otak ini. Ternyata ribuan kata itu tidak mampu tertuang menjadi sebuah cerita. Kusadari sulit mencipta emosi yang biasa mampu melekatkan setiap kata yang terangkai. Setiap kali aku mencoba menulis, emosi itu tak pernah muncul.

Dan saat merangkai tulisan ini pun, saya baru tersadar emosi itu ternyata hilang dari diriku. Entah di mana kutinggal mereka. Atau mereka yang dengan sengaja meninggalkan aku.

Entah mengapa aku sampai tak tersadar mereka hilang. Mungkin semenjak aku memutuskan untuk tidak memiliki tujuan apapun yang ingin aku raih di tahun ini. Atau mungkin, akibat efek situasi kondisi pekerjaan yang membuatku frustrasi hinggi lebih memilih cuek dengan permasalahan yang ada sehingga benar-benar tidak peduli lagi.
Entah lah. Yang pasti aku rindu dengan semua perasaan yang membuncah dalam hati saat aku menenggelamkan waktu ku dalam tulisan. Saat aku dan hanya diriku yang dapat merasakan semua. Seakan semua hidup kembali. Hidup dalam duniaku.