Sunday, April 28, 2013

Yes, I will Try..

 
 
Yes, I will try
Whether you said don't
I keep trying even just in my mind..
 
 
- Asher Book, Try -

Terlanjur Sayang


...
Apakah diriku yang bersalah?
hingga pisah di depan mata..
Tetapi diriku masih, tetap cinta kamu kasih slamanya
Sampai kapan juga..
...

Friday, April 26, 2013

Jangan Pernah Tanyakan..

Jangan pernah bertanya, 'Cintakah kamu padaku?' kepada orang yang sudah Engkau tahu mencintai dan menyayangi kamu..
Namun selalu katakan 'Aku cinta kamu' kepadanya..

Jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk selalu menyatakan 'Aku cinta kamu' kepada orang yang benar-benar kamu sayangi..

Karena mereka selayaknya mendapat pengakuan itu dari mulut, hati, dan pikiranmu..
Bukan mendapat sebuah kesangsian akan rasa mereka..
Karena kamu gak akan pernah tahu, kapan kamu akan kehilangan mereka...

Walaupun saat ini ku tak dapat katakan itu pada dirinya.
Biarlah lewat tulisan ini, dia tahu dan merasa kembali..
Aku rindu, sayang, dan cinta dia..

Wednesday, April 24, 2013

Aku Cinta Dia


Tuhan..
Betapa jiwa ini tak ada rasa lagi tanpa dirinya..
Baru kali ini , kurasa sakit tak hanya di raga, namun juga di jiwa.
Kini aku paham Tuhan... semua pasti akan ada konsekuensinya.
Bila boleh aku meminta, 1 kesempatan
Kesempatan untuk meraih apa yang aku butuhkan
Karena untuk kali ini aku paham apa yang aku butuhkan
Bukan sekedar apa yang aku mau dan aku rasa.
Dengan semua resiko dan konsekuensi yang ada, kuyakinkan kembali jiwa ini

Aku Cinta Dia..

 

 

-dedicated to ADP-

Jiwa yang Hilang..














Dua minggu sudah berlalu.
Rasa gemetar dan derasnya aliran air mata seakan tiada henti.
Entah mengapa, kesempatan itu benar-benar sulit kudapatkan lagi. Aku tak tahu, mengapa kamu sampai semarah itu padaku?
Berkali kucoba cairkan suasana. Mencoba menjadi air saat api mu begitu membara.
Namun entah, tersesat di mana rasa sayang dan cinta yang sudah terjalin hampir 2 tahun ini.
Yang kudapat lakukan, berdoa dan berharap bila rasa itu menemukan jalannya kembali.
Dalam hati kecil ini, aku masih merasakan sayang dan cinta itu dalam hatimu. Namun mengapa kamu begitu tinggi gengsi untuk mau memaafkan aku? Padahal, dulu kamu yang selalu menyadarkan dan membuat aku mau memahami bahwa cinta adalah memaafkan dan menerima kembali.
Kamu tahu, mas..?
Saat kamu tak ada di sini, sesak rasa dada ini. Menikmati hirupan oksigen saja rasanya aku tak mampu.
Ku dapat memahami, sulitnya hidup tanpa kamu.
Memang ku mampu menjalani aktivitas ku tanpa kamu.. Namun, apalah rasanya, aku hidup tanpa jiwaku.
Ku sadari, jiwa ku butuh kamu..
Entah apa yang membuatku benar-benar membutuhkanmu
Namun yang kutahu, jiwa ini hampa tanpa dirimu. Kosong..
Bukan maksud aku untuk merajuk.. Namun, dengan tulus harus kukatakan,
Aku Cinta Kamu..
 
To : Mas ADP (dengan nama samaran dalam blog Toni)

Sungguh

Sungguh, saat ini aku hanya butuh sebuah pelukan.
Untuk menguatkan aku..
Betapa aku saat ini merasa sendiri
Tersesat entah di mana
Kali ini sungguh, andai aku punya mesin waktu
Aku kan kembali ke sana.. dan berjuang untuk semua kebaikan kita
Tak mengucap kata menyerah, karena sebenarnya ku tak ingin menyerah

Tuhan..
Aku mohon topang jiwa ini
Ku merasa ku tak lagi miliki jiwa dan raga ini menyatu
Ku merasa hilang tak hanya sebagian jiwaku, tapi seluruh jiwa ini pergi

Tuhan..
Kepada Mu aku hanya dapat bersandar
Aku tahu Engkau lah satu-satunya andalanku
Tapi..
Engkau tahu Tuhan.. betapa aku terlampau takut
Takut jiwa ini pergi tak akan pernah kembali
Takut ku akan tak sekuat yang Engkau harapkan
Entah apa yang akan terjadi di depan sana..
Ku harap Engkau kan selalu ada
Di saat manis dan pahitku
Saat aku merasa rencanaku tak sesuai dengan rencana-Mu
Biarlah ku serahkan sepenuhnya hidupku dalam tuntunan-Mu
Walaupun derasnya air mata mengalir seakan tak henti
Namun ku yakin, semua kan indah pada waktunya..

Sunday, March 31, 2013

Wajah Cinta

Sore ini teringat dalam benak Sissy pertengkarannya dengan Toni, kekasihnya.
Dalam marahnya, Sissy masuk dalam siklus yang selalu berulang dan mengucap ingin berpisah dengan Toni.

Bukannya tanpa penyesalan setelah mengucapkannya.
Pertengkaran yang sebenarnya karena hal-hal yang tidak begitu fundamental.
Pertengkaran akibat mereka masih perlu untuk mengenal satu sama yang lain.

Penyesalan yang luar biasa itu muncul.
Bagaimana dia kembali ingat, komitmennya pada Tuhan untuk belajar akan sebuah ketulusan.
Ketulusan hati yang ingin dia miliki untuk menjadikan hidup lebih baik lagi.
Namun, ternyata dia kembali jatuh lagi.

Setelah mengucap maaf, Sissy sadar semua tidak akan dengan mudah kembali seperti semula.
Layaknya, kayu yang tertancap paku tetap meninggalkan bekas walau pakunya sudah dicabut.
Dengan harapan ingin memperbaiki hubungan, Sissy mengajak Toni untuk mencoba mendapatkan quality time berdua.
Menghabiskan waktu berdua untuk menyuburkan kembali rasa cinta dalam hati.

Seperti biasa, Toni dan Sissy bersama menonton film terbaru.
Saat film berlangsung 15 menit, Toni mulai memejamkan mata dan tertidur.
Padahal saat itu adegan film sedang penuh aksi.
Disudut mata, Sissy melirik kekasihnya yang tertidur sangat pulas.
Sissy paham betul, aktivitas Toni yang sangat padat minggu itu banyak menyita waktu istirahatnya. Namun, keinginan Toni untuk pergi dengan Sissy hari ini sudah sangat membahagiakan bagi Sissy. Hingga Sissy membiarkan Toni pulas dalam tidurnya.
Lalu selama beberapa menit, Sissy melihat wajah Toni.
Betapa dia tersadar, wajah ini selalu dia rindukan dalam hari-harinya.
Betapa senyum itu selalu membawa bahagia dalam hatinya.
Saat itu, tanpa sadar Sissy bergumam dalam hati,

"I love you, Ton.. I love you.."

Wednesday, March 13, 2013

Keep Smile.. Always Smile.. Smilling !!


Honestly, I'm hurt..
Maybe, it was not my day..
Keep trying and always Smilling.
Keep believe that world would give me bunch of smiles back..

Sunday, March 10, 2013

Sungguh..

Huu ku sadar kini aku telah sendiri
Kau pergi sementara ataukah untuk selamanya
Huu hanya bintang tempat aku mengadu
Dalam malam ini aku bersujud menunggumu
Tanpa pernah ku dapat mengerti
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Jangan pernah kau lepaskan
Jiwa ini telah melebur dan menyatu
Tapi kini kau tinggalkan aku sungguh
Dan aku tak mampu untuk menahan segala rasa
Huu hanya bintang tempat aku mengadu
Dalam malam ini aku bersujud menunggumu
Tanpa pernah ku dapat mengerti
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Sungguh sungguh satu pintaku
Jangan kau tinggalkan aku sungguh
Hanyalah dekat denganmu
Ku inginkan satu pintaku selalu
Jangan pernah kau tinggalkan aku sungguh
Karena ku tak mampu tuk menahan segala rasa
Jangan pernah kau lepaskan
Jiwa ini telah melebur dan menyatu
Tapi kini kau tinggalkan aku sungguh
Dan aku tak mampu untuk menahan segala rasa
 

Sunday, July 15, 2012

I Wish I was a Fixer

'I will build you a town if the world fell down
I wish I was that guy...'

Song : Frank D. Fixer
Artist : Jason Mraz
Album : LOVE, 2012

Saturday, July 14, 2012

Place with No Sincerity

Sesaat tersenyum
Sesaat merasa terdampar
Sesaat tertawa
Sesaat terkucilkan

Mencari hati dalam setiap tumpukan lembar kertas
Ritme penuh stimulus respon yang kadang tak dimengerti
Sitmulus respon yang terasa tak berarti
Karena hati yang tak kumiliki

Semua hanya logika dan perasaan
Logika dan perasaaan akan sebuah peran
Kumpulan adegan dalam sebuah panggung sandiwara
Tidak ada realita di sana

Panggung sandiwara dengan puluhan topeng di sana
Yang tak pernah tau apa yang ada dibaliknya.
Mencipta bingung aku dalam jiwa.
Sekaligus kagum akan seni kelicikan tingkat atas

Kucoba tampil dengan jiwa dan raga yang apa adanya
Namun, ku merasa makin teraniaya
Akhirnya putuskan untuk gunakan salah satunya
Satu topeng yang membuat yang berkuasa menjadi senang
Topeng rakyat jelata
Dengan harapan masih ada keserhanaan dan ketulusan dalam hati dan jiwa.
Tapi mengpa..
Makin lama kupakai topeng ini makin tersesat kurasa.



Friday, July 13, 2012

N.0.L




Nol.
Nihil dan kosong.
Tapi tetap sebuah nilai.

Nol.
Memenangkan perkalian.
Tidak perlu dipangkatkan.
Karena akan bernilai nol.

Aku mungkin nol.
Nihil.
Kosong.
Tapi tetap bernilai.

Mungkin tanpa arti.
Tapi tetap ada.

Di hatimu.

Karya Valiant Budi Yogi, @vabyo (dalam novel Joker)

Monday, July 09, 2012

Respect from Rejection


“Live without Pretending,
Love without Defending
Listen without Defending
Speak without Offending”


Suatu hari saya terlibat dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman. Dia menceritakan pengalaman hidupnya, yang menurut pandangan saya tidaklah mudah. Kegagalan, penolakan seringkali mewarnai hidupnya. Bagaimana tidak, dari pengalaman beberapa kali tinggal kelas sampai beberapa kali ditolak macam-macam perempuan kerap hadir di hidupnya.

Pernah saya bertanya kepada si teman ini,’Apa sih rasanya gagal dan ditolak berkali-kali?’

Dia hanya menjawab, ‘Yah enjoy ajah. Gue mah sedihnya bentar. Paling besoknya udah lupa dan happy lagih.’

Jujur saja, saya bukan termasuk dalam golongan orang yang kebal akan kegagalan. Dari kecil ibu saya selalu memacu anak-anaknya untuk meraih yang terbaik dalam setiap hidup kami. Dulu jaman sekolah, minimal nilai yang saya dapatkan harus ada di angka 9. Bila di bawah itu, siap-siap saja mendengarkan serangkaian ocehan berdurasi 3 sks. Kuliah pun saya usahakan selesai dalam 3,5 tahun. Tak hanya itu, saya belajar sungguh-sungguh untuk dapat menduduki kursi barisan depan saat wisuda dengan undangan khusus untuk orang tua. Saat bekerja pun setiap proses interview selalu saya lewati dengan baik. Saya pikir dengan melalui semua itu dengan baik, hidup saya akan berjalan mulus. Prestasi akademis bagus, punya jiwa pemberani dan pantang menyerah ternyata belum cukup bagi saya untuk menjalani hari-hari ini.

Sedikit sekali pelajaran hidup saya tentang kegagalan. Dan jujur, agak menyesal juga sih kenapa dulu gak pernah belajar hal itu dengan baik. Dulu saya sekeras tenaga berusaha agar tidak gagal. Berusaha mengontrol semua hal dalam hidup saya agar apa yang saya lakukan dapat diterima dengan baik oleh orang lain. Dan sekarang saya hanya bisa menatap bingung hidup saya saat kegagalan dan penolakan itu datang kepada saya.

Mungkin kalau gagal karena gak meraih apa yang dicita-citakan menurut saya pribadi relatif mudah untuk dilalui. Kalau gagal langsung catat dan ingat untuk kesempatan lain lebih baik lagi. Atau dapat dirumuskan, gagal itu terjadi akibat setting target terlalu tinggi atau kita kita sebenarnya tidak mampu meraih apa yang kita ingikan. Bila setting target terlalu tinggi dan kita belum mampu meraihnya, usahakan lebih keras sampai target itu tercapai. Namun, kacaunya saat ini saya merasa lelah terlalu banyak berlari. Lelah terlalu banyak menggapai. Yah, saya lelah.

Lain halnya dengan makhluk bernama penolakan. Sepertinya makhluk yang satu ini terasa lebih sadis dibanding kegagalan. Karena hal ini tidak hanya menyangkut diri kita saja, tapi juga orang lain.

Beberapa bulan terakhir akibat sebuah adaptasi akan sebuah perubahan ada beberapa situasi yang membuat saya merasa gak nyaman secara mental. Walaupun dari luar kelihatan saya baik-baik saja, tapi dalam hati rasanya pahit juga. Dalam proses adaptasi ini, suatu ketika saya tidak diikutsertakan dalam sebuah acara yang biasanya saya selalu in charged di dalamnya. Saat tahu saya tidak diinformasikan dan juga tidak diikutsertakan, seketika itu saya merasa ditolak mentah-mentah. Marah, kecewa, sedih bercampur aduk jadi satu. Sebenarnya bisa saja saya marah kepada mereka yang berbuat demikian. Tapi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja. Mencoba memahami walau sendiri.

Lain lagi pengalaman dalam sebuah adaptasi pergaulan, ternyata survive di kalangan dewasa lebih sulit daripada pergaulan di kalangan remaja. Kotak-kotak pemisah antar golongan ternyata lebih terlihat wujudnya dibanding saat remaja dulu. Dalam pergaulan di kalangan dewasa, ternyata orang lebih senang ngomong ’di belakang’ ketimbang jujur apa adanya. Di depan kita baik belum tentu sama di belakangnya. Awalnya memang ada rasa gak nyaman di hati saya. Tapi sekali lagi saya memilih untuk menyimpannya dalam hati saja, dan mecoba memahaminya walau sendiri.

Dulu saat kecil sampai remaja, saya selalu berusaha membuat semua orang menerima dan menyukai saya. Saya berusaha keras atau mungkin sangat keras untuk mendapatkan penerimaan dari orang lain. Tidak sampai di sana saja, saya senang menjadi orang yang lebih dipercaya dalam sebuah kelompok. Dan saya berusaha keras atau bahkan sangat keras untuk itu. Namun, rasanya sekarang ini saya pun lelah untuk berusaha. Yah, saya lelah bahkan sangat lelah...

Rasa akibat penolakan memang sakit dan memberikan bekas rasa kecewa dalam hati. Namun, di titik itu saya mencoba merenungkan kembali rasa itu dan ternyata ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Mungkin, masih banyak hal yang perlu kita koreksi dari sikap kita. Atau memang kita harus menyadari, kalau kita gak bisa membuat semua orang itu menerima kita dan selalu sependapat dengan kita. Karena harus disadari, walaupun makhluk sosial, manusia itu unik dengan kombinasi karakteristik dan logika masing-masing. Jadi sah-sah saja bila kadang kita merasa gak mendapatkan ’Klik’ dengan tipe orang tertentu yang karakter dan logikanya berbeda dengan kita. Dari sana saya baru tersadar, hidup ini memang penuh perbedaan. Yang penting gimana kita mau menyadari perbedaan itu dan akhirnya mau membangun rasa hormat terhadap orang lain. Bahasa kerennya Respect.

Membangun hubungan personal dengan orang lain memang penting. Terutama dengan orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi gak penting juga untuk membangun hubungan personal terlalu dalam dan memaksa semua orang untuk masuk dalam kehidupan pribadi kita. Membuat semua orang menyukai kita sama mustahilnya seperti kita ingin menjilat mata sendiri. Yang kita perlu hanya Respect  dengan semua orang yang kita kenal gak peduli apa pangkat jabatannya. Karena dari Respect yang kita taburkan untuk orang lain, suatu saat nanti kita pun akan menuai Respect itu sebagai buah dari perbuatan kita.

So, enjoying yourself and let’s make this world more beautiful..

Monday, July 02, 2012

Thousand Words



Tahun ini aktivitas menulis saya sangat berkurang drastis. Block Writing kerap menimpa.
Padahal berbagai ide dan tema tulisan begitu banyak bermunculan di otak saya, namun tidak satupun berhasil menjadi sebuah tulisan.

Entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk menyambungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat lengkap. Padahal ribuan kata seringkali melintas di otak ini. Ternyata ribuan kata itu tidak mampu tertuang menjadi sebuah cerita. Kusadari sulit mencipta emosi yang biasa mampu melekatkan setiap kata yang terangkai. Setiap kali aku mencoba menulis, emosi itu tak pernah muncul.

Dan saat merangkai tulisan ini pun, saya baru tersadar emosi itu ternyata hilang dari diriku. Entah di mana kutinggal mereka. Atau mereka yang dengan sengaja meninggalkan aku.

Entah mengapa aku sampai tak tersadar mereka hilang. Mungkin semenjak aku memutuskan untuk tidak memiliki tujuan apapun yang ingin aku raih di tahun ini. Atau mungkin, akibat efek situasi kondisi pekerjaan yang membuatku frustrasi hinggi lebih memilih cuek dengan permasalahan yang ada sehingga benar-benar tidak peduli lagi.
Entah lah. Yang pasti aku rindu dengan semua perasaan yang membuncah dalam hati saat aku menenggelamkan waktu ku dalam tulisan. Saat aku dan hanya diriku yang dapat merasakan semua. Seakan semua hidup kembali. Hidup dalam duniaku.

Monday, May 28, 2012

Riding The Change















It's time to proving all theory that I've been read. Semangat !!
Kalau hanya ketakutan dan mengeluh tanpa pernah ada sikap dan aksi sama ajah bohong.
Nikmati setiap perubahan selagi masih muda dan masih bisa. Itung2 buat jadi cerita ke anak cucu nanti pas udah uzur.
Gimana loe bisa bertahan dan berbuat lebih baik atas perubahan, kalo gak pernah mau ngerasain yg nama nya perubahan. Challenge your limit !
(Talk to myself on twitter, 2011)

Dalam durasi satu tahun terakhir banyak sekali perubahan besar dalam siklus hidup saya. Dari urusan pribadi sampai urusan pekerjaan. Ibarat kata pepatah, ‘hidup itu bagaikan sebuah roda, kadang di bawah kadang juga di atas’. Dan mungkin seperti itulah hidup saya sekarang, sedang berada dalam posisi di bawah

Semua gelombang perubahan besar ini berawal dari ketidakjelasan situasi yang menimpa urusan personal dan juga pekerjaan. Tahun 2010 yang diwarnai dengan banyak prestasi dan kesempatan mulai memasuki babak baru yang ternyata lebih gelap dari yang pernah berlalu. Ketidakjelasan akan sebuah hubungan yang harus berakhir menandai mulainya babak gelap itu. Masalah ini membuat saya berusaha struggling dari situasi yang ada dan menjaga agar masalah ini tidak berdampak kepada sisi kehidupan yang lain. Dan benar saja, mulai terlihat sedikit pencerahan di pertengahan 2011. Di saat sedang mencoba menikmati manis itu kembali dan menyeimbangkan dengan sisi kehidupan lain, yaitu keluarga dan pekerjaan, muncullah awan hitam lainnya. Kali ini ketidakjelasan muncul dalam pekerjaan saya. Perusahaan tempat saya bekerja mengalami merger oleh grup, banyak rekan yang mengundurkan diri termasuk departemen head kami. Adaptasi organisasi berdampak pada ketidakjelasan target dan proses pekerjaan yang harus saya lakukan.

Jujur, saya sempat putus asa atas situasi seperti ini. Walau sudah pernah membaca buku “Who Move My Cheese” yang berisir mengenai Change Management , tetap saja perubahan ini tidak menjadi lebih mudah untuk saya. Awalnya saya sangat optimis dengan perubahan yang terjadi. Kapan lagi dapat menjadi saksi sejarah dan mengalami langsung kisah perubahan sebuah organisasi besar. Namun, yang terjadi sesungguhnya tidak semudah yang tertuang dalam banyak buku mengenai Change Management  yang banyak dijual di toko-toko buku. Organisasi berubah menjadi lebih lambat. Ketiadaan kepemimpinan menjadikan kami seperti ayam tanpa induknya. Saya dan teman-teman yang berfungsi menjaga regulasi perusahaan berubah bagai singa tanpa taring. Yang membuat saya makin frustasi adalah tidak adanya kejelasan dalam penentuan target kerja. Mau ke kanan, ke kiri, atau maju? Sama sekali tidak ada arahan. Sebagai seorang yang pekerja keras, penentuan target menjadi suatu hal yang penting untuk saya. Adanya target mempermudah saya untuk menentukan dan mencapai apa yang saya cita-citakan. Dan bukannya hanya terpekur diam tanpa aksi. Sudah puluhan kali mencoba menggali dan mencari ide dan menawarkan kepada organisasi. Namun puluhan kali pula akhirnya saya hanya gigit jari. Saking putus asanya saya sempat menulis sebuah umpatan yang kepada diri sendiri,

‘2012, Tahun tanpa goal setting. Hidup segan disuruh mati ogah.’

Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu. Mungkin rasa kesal saya terhadap situasi mencapai level tertinggi. Yahh… Jujur, memang tahun 2012 ini saya gak punya plan apa-apa. Kalau ditanya, apa rencana saya tahun ini. Saya akan jawab dengan jujur, ”Gak Ada.”  Yaaa..  karena memang gak ada rencana pencapaian apa-apa di tahun ini. Terdengar aneh memang, namun itulah yang terjadi.

Di awal saat gelombang perubahan itu datang saya menjadi sangat optimis dan bekerja sangat keras untuk lebih memahami situasi dan mencapai apa yang menjadi target selanjutnya. Namun, ternyata semua itu menjadi sulit, karena ternyata perubahan situasi yang tejadi membuat semuanya kembali ke titik nol. Ibarat mengikuti lomba pacu kuda, saya sebagai joki ingin kuda saya berlari 100 km/jam, tapi ternyata kuda yang saya tumpangi hanya berjalan dalam kecepatan maksimal 40 km/jam. Saat saya memacu kuda lebih cepat berlari, saya hanya mendapat tolakan dari sang kuda yang sekarang lelah berlari dan ingin berjalan santai. Dan akhirnya keinginan berlari saya ini hanya menjadi sebuah keinginan belaka saja. Semakin cepat saya memacu sang kuda berlari kecang membuat saya semakin cepat terjatuh. Sehingga jawaban, “Gak ada rencana pencapaian apa-apa” yang saya lontarkan, rasanya cukup pas dan menenangkan buat saya. Ternyata sekedar menahan keinginan berlari dan mengikuti ritme sang kuda, membuat saya jauh lebih menikmati hidup saya. Mungkin, memang sekarang saatnya saya menikmati jalan santai saya bersama sang kuda atau memilih mencari dan mendapatkan kuda baru yang memiliki kecepatan yang saya harapakan? Entahlah, mari menikmati saja apa yang terjadi, karena, Kalaupun benar saya pejalan yang lambat, tetapi saya tidak akan berjalan mundur” (@ais_training on twitter, May 7th)

Thursday, January 26, 2012

Macet di Otak, Macet juga di Hati

Mencari foto-foto atau pun gambar menarik di halaman google merupakan sebuah aktivitas yang menarik untuk saya. Ada sebuah hal menarik saat menemukan gambar-gambar unik di halaman ini. Namun, yang terkadang menjadi menarik ada beberapa gambar sederhana yang banyak memuat makna. Salah satu gambar favorit saya adalah sebuah gambar tentang kemacetan jalan raya yang sebelumnya sudah pernah saya posting dalam blog ini. Lihat : 'Traffic of Life' , August 25th 2011
















Sebenarnya, saat ingin melakukan posting akan gambar ini, banyak hal yang ingin saya tuliskan sebagai narasi gambar tersebut. Namun, beberapa kali mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan, selalu saja terserang block writing.

Beberapa waktu lalu saat mengalami masalah hati, sengaja saya melihat kembali tulisan-tulisan serta gambar yang pernah saya posting ke dalam halaman blog pribadi ini. Saat kembali melihat gambar ini, entah mengapa gambar ini terus muncul dalam benak saya dan terus terngiang. Antara tersindir dan tertampar hati saya melihatnya kembali. Namun, coba saya abaikan saja perasaan itu.

Keesokan harinya, di dalam kemacetan pagi hari ini berlokasi di sebuah angkutan umum, sebuah refleksi akan gambar ini seakan kembali menampar hati saya. Saat berada di tengah kemacetan jalan tak berujung ada rasa kesal. Mungkin kesal karena perjalanan kita menjadi lebih lama sampai dari biasanya. Kesal karena banyak waktu terbuang. Dan lebih kesal lagi, ketika ternyata tidak ada kecelakaan ataupun perbaikan jalan yang menyebabkan terjadinya kemacetan. Selain itu, belum lagi kesal karena lalu lintas yang makin semrawut akibat ulah banyak pengendera yang menyalip dari kanan ataupun kiri kendaraan. Belum lagi suasana di dalam angkutan umum yang penuh dengan asap kendaraan dan juga hawa panas. Dalam keadaan seperti ini ada rasa iri dengan para pengguna kendaraan pribadi yang seakan terlihat lebih nyaman di dalam kendaraan mereka. Namun, seandainya ada kesempatan untuk saya pindah ke kendaraan lain yang lebih nyaman, apakah saya yakin dapat menghindari kemacetan yang ada?

Toh, pindah ke dalam kendaraan yang lain tidak membuat kita lebih cepat sampai ke tujuan kita. Masalah nyaman dan tidak nyaman kan tergantung persepi setiap orang. Dan perasaan nyaman dan tidak nyaman tergantung bagaimana kita bisa menikmati suasana. Bisa dengan tidur sejenak bila memang masih mengantuk, mendengarkan mp3, baca buku, sambil ngobrol bila sedang bersama teman, atau berdoa mendekatkan diri sama Tuhan (woooww, tumben pikiran saya lagi lempeng).

Dan sebuah kesimpulan muncul dalam benak saya (maaf bila terlalu naive, saya pun sedang belajar untuk mencapai ini). Kemacetan adalah sekedar situasi gak menyenangkan dalam perjalanan kita. Namun untuk sampai ke tujuan kemacetan itu harus dilalui kan? Seperti hidup, saat terjadi banyak masalah dan membuatnya seakan tidak ada harapan. Kita harus tetap setia dan tekun menjalaninya. Karena walaupun perlahan, semua itu akan membawa kita sampai ke tujuan.

Sebuah kalimat gak berperasaan menampar hati saya saat menuliskan posting ini :
”Bila sudah tau dalam hidup dan cinta itu selalu muncul masalah. Mengapa kita terus menggerutu atau memilih untuk menyerah. Just Enjoy it  with smile. Because life would give you smile back”

Tuesday, November 08, 2011

Menanam Pohon Uang


‘Waktu terbaik untuk memulai menanam pohon adalah dua puluh tahun yang lalu sedangkan waktu terbaik berikutnya adalah hari ini.’

Membaca peribahasa ini terkadang memang terkesan klise. Kita selalu berpikir, waktu dapat ditunda semau kita. Karena masih banyak ‘hari ini’ yang akan datang esok hari. Sehingga tanpa terasa, dari hitungan hari, bulan, sampai dengan tahun. Saat sudah melewati hitungan tahun, baru kita akan sadar, mengapa kita begitu lama menunda nya.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah perbincangan dengan bos berlokasi toilet kantor saya sempat bertanya kepada beliau :

‘Mba, kayaknya pernah cerita yah sebelum married pernah coba investasi reksadana or something gituh. Beli produk investment gitu di mana yah?’

‘Oh, waktu itu aku beli di Trimegah. Perusahaan yang menjual produk reksadana. Hmmm.. tapi, kamu baca dulu deh bukunya Ligwina Hananto. Judulnya : Untuk Indonesia yang Kuat.'

‘Hmmm.. buku apa tuh mba?’

‘Yah, kalo mau invest dan mau coba langsung ke Trimegah juga ga papa. Di sana juga bagus. Tapi kalau aku saranin sih, kamu baca bukunya Ligwina dulu deh. Di sana bakal banyak dijelaskan gak cuma hal-hal tentang investasi. Tapi juga tujuan kenapa sih loe perlu investasi. Bukunya ringan kok. Nah, kalo mindset nya udah pas, baru deh coba beli produk investasi.’

‘Oh gitu yaaa. Oke deh nanti coba cari di Gramed.’

‘Pinjem aja punya aku. Besok dibawain deh.’

‘Oke.’

Hmmmm.. Tulisan saya kali ini rasa prediksikan bakalan sedikit lebih serius. Karena kita akan sama-sama ngomongin apa sih yang ada dibenak anak-anak muda sekarang akan yang namanya kehidupan di masa mendatang. Bukannya bermaksud untuk melakukan promosi terhadap buku ‘Untuk Indonesia yang Kuat : 100 Langkah untuk Tidak Miskin’ karangan Ligwina Hananto. Saya ingin sekedar share saja kepada teman-teman semua yang saya alami dan rasakan setelah saya selesai membaca buku ini.

Banyak pertanyaan dalam buku ini yang menggelitik saya untuk jadi lebih ingin tahu dan banyak mencari tahu apa sih investasi itu. Apa sih tujuan investasi? Apakah bisa, saya yang sekedar pegawai tetap sebuah perusahaan swasta ini ikut melakukan investasi? Kenapa sih, kita perlu memikirkan tujuan hidup kita sampai dengan kita pensiun? (*Booo, masih 29 tahun lagi deeehh. That would be long time yaaaa)
Sebuah ilustrasi cantik dalam buku ini

‘Kita golongan yang memiliki penghasilan pas setiap bulannya, pas buat beli starbucks tiap weekend, pas bisa belanja di Sogo, pas bisa nonton film box office tiap minggu. Tetapi kenyataannya kita sebagai golongan menengah (Golongan Pas) ini sering punya uang pas-pasan. Bulan ini bisa beli starbucks, tapi masih mikir buat punya tabungan bahkan investasi. Uang sejumlah 100 juta pun masih jauh rasanya. Padahal dengan semua gaya hidup tingkat tinggi yang kita miliki, harusnya hal tersebut bukanlah hal yang sulit. Atau jangan-jangan ternyata kita sebetulnya hanya golongan yang gaya di luar saja.’

Dari ilustrasi yang begitu dekat dengan pengalaman keseharian ini, saya jadi berpikir ulang.

‘Iya yaaa.. kalau bener karier gue bakal lurus mulus kayak jalan tol. Dan bisa pensiun sebagai Direktur atau bahkan Presiden Direktur. Pasti tabungan gue akan cukup banyak. Tapi gimana kalo kenaikan gaji gue per tahunnya hanya ngikutin kenaikan inflasi nasional (amit-amittttt). Apakah anak gue bakal bisa merasakan pendidikan yang dulu pernah gue dapatkan. Apalagi kalo sekarang lihat iuran bulanan sekolah adik gue. Dulu jaman SD kelas 4 iuran sekolah per bulan hanya 50ribu saja. Sekarang di lembaga yang sama, iuran per bulan adik gue yang sekarang kelas 4 SD adalah 700ribu. Ternyata nilai uang begitu cepatnya tidak memiliki arti.’

Membayangkannya saja, muncul kengerian yang mendalam dalam diri saya. Masih bisa gak yah gaya hidup saya yang sekarang ini dipertahankan sampai mungkin 10 atau 20 tahun mendatang. Bertahan bukan berarti selalu dalam kehidupan pas. Apalagi, ada keinginan untuk jadi enterpreuner di masa produktif.

Dari kengerian ini, respon pertama saya adalah menginformasikan beberapa teman saya yang dari dulu paling getol untuk mengingatkan dan mengajak saya untuk mulai berinvestasi. Teman-teman saya ini memang bukanlah para agen penjual produk investasi. Mereka semua sama seperti saya, karyawan di perusahaan swasta yang sedang menata karier dan cita-cita. Selama ini, saya selalu berkilah dengan bilang ‘gak ngerti apa itu investasi dan bagaimana caranya. Atau alasan klise bahwa saya ini perempuan dan investasi terdengar seperti kegiatan maskulin untuk kelompok laki-laki. Melalui pesan singkat, saya mengaku akhirnya saya menyadari besar dan pentingnya investasi. Bukan hanya sekedar mencari keuntungan dalam bentuk passive income, tapi yang lebih penting dengan berinvestasi saya punya harapan masih bisa mempertahankan gaya hidup saya sampai nanti saya masuk ke dalam usia non-produktif. Saat itu, saya bisa membeli starbucks saya sendiri tanpa harus ‘minta’ kepada anak saya atau bahkan cucu saya nantinya.

Setelah itu, saya langsung menghubungi sebuah lembaga Financial Planner untuk memberikan pengetahuan terpadu mengenai cara mengatur keuangan pribadi dan melakukan investasi. Saat pertama kali melakukan janji bertemu dengan para Financial Planner ini ada rasa bangga dalam diri saya. Bangga, bahwa di umur saya ini saya sudah punya kesadaran untuk belajar mengatur keuangan saya. Di tengah gaya hidup teman-teman yang masih senang menghabiskan uang pribadi bahkan sampai ke uang orang tua mereka, namun dengan aksi saya ini saya percaya satu langkah lebih maju dengan teman-teman saya. Paling tidak, satu langkah lebih maju menuju kemandirian financial.

Selain rasa bangga, awalnya bertemu dengan sang Financial Planner ada banyak asumsi saya akan profesi mereka. Yang saya bayangkan, Financial Planner itu pastinya nerd, kacamata tebal dengan laptop dan angka-angka yang jelimet, udah tua, dan semua stigma kejadulan lainnya. Nyatanya, saat bertemu dengan sang Financial Planner (Yudit Yunanto), betapa terkejutnya saya. Ngobrolin rencana keuangan bareng Mas Yudit berasa ngobrolin film box office terbaru yang lagi jadi trend. Bener-bener santai dan jelas. (*Walaupun pas pulang jadi cenat-cenut karena sadar selama ini gaya hidup boros bgt. :p)

Dengan beberapa kali pertemuan, saya merasa yakin dan siap untuk melakukan investasi. Ini karena saya yakin bahwa hidup di generasi modern sekarang ini harus kuat dan siap dengan modal bila ingin bertahan atau bahkan bersaing dalam kehidupan. Dan untuk teman-teman yang sekarang juga mulai tertarik dengan bentuk produk investasi, coba cari banyak info dulu deh sebelum memulai. Karena banyak banget agen penjual produk investasi yang cuma cari banyak untung dan dapat banyak point untuk mereka bisa jalan-jalan ke luar negeri, tanpa memikirkan kebutuhan dan tujuan hidup konsumen mereka.

Mumpung masih muda dan masih bisa, kita coba berinvestasi dari sekarang. Kalau kita sebagai generasi muda punya financial yang kuat, tentu akan membuat financial negeri kita tercinta, Indonesia ini semakin kuat. Mungkin, dalam setahun ke depan, saya akan akan bagikan kembali pengalaman berinvestasi sebagai pemula. Tunggu tulisan saya selanjutnya yaaaa…

Ayo, bersama untuk Indonesia yang kuat !!


*Tuh kan, Mba Ligwina ini ternyata masih muda dan cantik yaaaa. (Usia nya masih 30’an looh)

Tuesday, October 11, 2011

I Love You from the Start

Percaya gak sih dengan yang namanya takdir?

Apa bener semua jalan hidup ini sudah diatur oleh Tuhan? Apa benar semua tujuan hidup kita sudah digariskan? Apakah benar jodoh kita telah ditentukan sejak lahir? Bicara soal takdir dan jodoh, setiap orang pasti berbeda-beda pengalaman yaa.

Dalam sebuah perbincangan malam dengan nyokap, doi sempet cerita ‘gosip’ terbaru yang dapat menjadi bahan cerita kita berdua.

‘Tau gak sih, kalau mantanmu tuh sekarang udah punya pacar baru?’

‘Ya elah maa, kan aku udah cerita. Pacarnya sekarang itu temen waktu kuliah. Wong sidang skripsinya aja bareng. Kayaknya waktu dulu di kampus, aku beberapa kali lihat mereka ngobrol sih. Emang kelihatannya udah deket dari dulu. Mungkin dulu belom ada kesempatan kali yah.’

‘Iyaaa.. denger-denger tuh dia sebelum jadian sama kamu udah nembak itu perempuan, tapi di tolak. Udahan gitu jadian deh sama kamu. Eh, sekarang mereka jadian deh.’

‘Iya sih, aku tau kok. Lagian waktu terakhir-akhir sama aku udah terasa banget kok. Hubungannya mereka udah intens banget. Yah, kalo sekarang malah jadian yah mudah-mudahan namanya jodoh.’
----------------------------------------------------------------------------

Di lain kesempatan, seorang teman bercerita tentang nasib percintaannya,

‘Gue akhirnya milih dia jadi cowok gue.’

‘Bagus deh. Secara kan loe temen baik sama dia dari dulu.’

‘Iya sih. Sebenernya gue udah naksir nih anak dari dulu jaman gue remaja. Jaman masih cupu. Tapi entah tiba-tiba dia ngilang karena masuk asrama. Gue menjalin cinta sama siapa, dia pun sama siapa.. dan sekarang kita ngerasa ternyata saling sayang. Ya udah deh, jadian ajah.’
---------------------------------------------------------------------------

Atau sebuah perbincangan penuh kebingungan antara teman,

‘Kemarin gue pulang kampung halaman yah…  Terus ketemu sama temen satu geng waktu SMA gitu. 
Eh, masa 3 di antara mereka tuh kayak orang tukeran pasangan aja yaaa.. Mantannya si B sekarang suaminya A. Mantannya A sekarang suaminya C dan mantannya C suaminya si B. Gila yaaaa.. emang mereka gak ngerasa aneh yah satu sama lain?’

‘Aneh gimana maksudnya?’

‘Yah aneh lah.. emang gak aneh apa ngebanyain dulu pada mesra-mesraan pas pacaran. Ciuman lah, pelukan lah.. kan aneh’

‘Iya sih kalo di pikir-pikir aneh yah. Secara pasti kan pas mereka remaja saling curhat yah?’

‘Nah itu dia. Secara kan gue dulu satu geng sama mereka. Dari berempat, Cuma gue aja yang nikah sama orang di luar lingkungan pergaulan kita pas remaja.’

‘Yaaahh.. namanya juga dulu masih cinta monyet. Gak nyangka  pas udah dewasa rasanya beda kali. Just only Heaven knows about love, kan.. Kita mah tinggal ngerasain dan ngejalanin’
----------------------------------------------------------------------

Kita gak akan pernah tau yah, kemana hati ini akan mengarah. Kepada siapakah kita akan membagi suka, duka, kangen, manja, marah, sedih bersama. Dalam kamus hidup gue, jatuh cinta itu enaknya emang harus pada pandangan pertama. Dengan orang yang gak pernah kita kenal, saling liat-liatan, kenalan nanya nama, akhirnya ngobrol tentang kesukaan atau kegiatan masing-masing, sampai akhirnya memutuskan untuk barengan menjalani hidup berdua dalam hubungan pacaran.

Inget banget deh jaman remaja dulu sampe ngucap sumpah kalo gue gak akan pernah suka apalagi pacaran sama temen baik. Kebayang aja kan, saat kita udah tau baik buruknya temen kita, bahkan sampe busuk-busuknya kelakuan dan pemikiran dia, ternyata kita jatuh cinta sama dia. Ngobrolin hal-hal romantic sama dia, which is dulu kita goblog-goblog’an bareng. Dan ternyata.. sumpah itu akhirnya balik ke gue. Gak pernah kira, bahwa sekarang gue memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria yang gue udah tau dari kecil. Pria yang berhasil membuat hati ini yakin bahwa gak ada salahnya kok pacaran sama temen sendiri. Malahan bagus, kita udah pernah saling kenal, udah tau sedikit karakter baik dan buruk sampe gokilnya kita.

Jujur, saat remaja dulu memang gue pernah terpesona sama pria ini saat dia berlaga di atas panggung bersama dengan gitarnya. Namun, saat itu kupikir hanyalah sebuah rasa kagum semata dan gak pernah ada niatan untuk melanjutkan ke niat yang lebih serius. Dia pernah menjalin cerita sama siapa dan gue pun punya banyak cerita cinta. Tapi entah kenapa, ada angin atau karena mantra apa, cinta tumbuh dalam persahabatan gue dan dia.

Dan sekarang, setelah hati ini memutuskan untuk menjalin hidup bersama dengan dia. I just realize that I love him from the start.