Wednesday, September 07, 2011
Monday, August 29, 2011
Senyum Semangat Delapan Hari
‘Family is the one who cares and dry your tears’
Dalam sebuah perjalanan menuju kota Klaten, Jawa Tengah, saya tiba-tiba teringat kejadian kurang lebih 3 bulan yang lalu. Saat itu, saya terdampar di atas sebuah ranjang di ruang Rumah Sakit. Tidak tanggung-tanggung untuk kali ini demam berdarah dan typus menyerang saya dan berhasil membuat ambruk seluruh badan ini. Kurang lebihnya 8 hari saya harus terdampar di ruang 4 x 8 meter itu, sendiri.
Delapan hari terdampar sendiri bukan merupakan hal yang menyenangkan bagi saya. Delapan hari itu terasa berjalan amat lama. Mungkin delapan hari akan menjadi terasa sangat singka bila saya pakai untuk pergi berlibur. Dalam delapan hari ini saya merasakan banyak hal yang sungguh menggugah rasa hati saya.
Hari pertama saya terbaring di ruang UGD dan melalui hasil tes darah, diputuskan bahwa saya harus rawat inap, orang yang pertama kali paling repot adalah mama. Beliau langsung sigap menelepon kakak-kakak saya serta beberapa keluarga yang tinggal di Jakarta. Berita masuknya saya di Rumah Sakit dalam waktu kurang lebihnya 90 menit sudah tersebar merata hingga keluarga besar, bahkan yang tinggal di luar kota. Sebuah gerakan yang luar biasa. Terakhir kali saya melihat mama sangat sibuk dengan telepon selularnya memberikan kabar, pada saat kakak kedua saya akan menikah. Masih jelas dalam ingatan saya, bagaimana mama sangat bersemangat mengabarkan seluruh keluarga besar dari sabang sampai merauke, bahwa anak kedua nya akan dinikahi oleh laki-laki pilihannya. Dan ternyata semangat yang sama, terpancar saat beliau menyampaikan berita yang sebenarnya kurang baik dan mungkin kurang penting juga untuk keluarga besar saya. Namun, ternyata berita baik maupun buruk memiliki nilai yang sama di mata mama. Menurut beliau, makin banyak orang yang dikabari, akan makin banyak pula yang akan mendoakan saya untuk dapat segera sembuh dari penyakit yang bertengger dalam tubuh ini.
Sebuah jawaban yang simple dan sangat menggugah rasa dalam hati saya. Memang sih, dari yang dikabari, hanya keluarga yang ada di Jakarta saja yang akhirnya menjenguk saya. Berbeda saat hajatan kakak, di mana semua keluarga berkumpul ke Jakarta untuk memberikan restu. Namun, efeknya ternyata luar biasa. Semangat dan doa yang diberikan selama terdampar delapan hari menambah rasa semangat yang tinggi untuk segera sembuh dalam hati saya.
Selain itu, dalam rentang delapan hari itu, selain keluarga banyak juga rekan, sahabat, kenalan yang datang melihat kondisi saya. Sempat saya merasa, bagai benda museum yang menjadi tontonan orang-orang yang datang mengunjungi saya. Bagaimana tidak, saat mereka datang saya hanya dapat terbaring lemas tanpa daya di atas ranjang serba putih itu. Memang, dengan ramainya kehadiran mereka harusnya saya merasa kesal karena menjadi tidak nyenyak beristirahat. Namun, lewat setiap kehadiran dan senyuman yang hadir selama delapan hari itu, saya menemukan semangat dan yang terpenting adalah, saya merasa terberkati karena banyak cinta yang diberikan kepada saya. Itu menandakan, bahwa kehadiran saya selama ini ternyata setidaknya membawa arti dalam kehidupan mereka. Dan itu membuat saya semakin bersemangat untuk kembali sehat dan menjalani hidup ini dengan lebih baik.
Thursday, August 25, 2011
Traffic of Life
Life is like a traffic. Sometime you go along free. Sometime you must got stuck and keep yourself cool down until your destination.
Saturday, July 16, 2011
With You..
Love the way you smile at me
Love the way you respect to me
Love the way you hold my hand
Love the way you kiss me
Just love the way you are
Hope we go together, forever..
Because, I just wanna grow old with you..
The Love that Fall in front of Me
“Berjuta rasa-rasa yang tak mampu di ungkapkan kata-kata”
Pernah tau rasanya speechless? Atau rasa bingung akibat otak ini tiba-tiba beku dan berakibat bloon sesaat?
Saat itu..
Dalam sebuah kotak beroda berwarna biru.. Tempat yang sama di mana aku dan kamu banyak berbagi canda dan tawa. Entah mengapa, akibat sebuah pertanyaan sederhana yang kamu lontarkan, mampu membuat rasa yang luar biasa campur aduknya. Mengakibatkan seakan terkena serangan jantung, akibat degupnya berjalan terlalu cepat mendetak dada ini. Seketika terasa seperti anak sekolah dasar yang baru belajar sedikit kosakata. Sebuah pertanyaan sederhana itu terasa bagai sebuah pertanyaan luar biasa dalam sebuah sidang tesis yang harus dijelaskan dengan puluhan kata hipotesa, padahal yang ditunggu jawabannya hanyalah ’Ya’ atau ’Tidak’.
Padahal, saat pertama kali kamu genggam tangan ku saat berjalan bersama, sudah kusiapkan jawaban dan mental hati ini. Berbagai jawaban puitis andaikata pertanyaan itu terlontar. Tapi pada prakteknya rasa kejut itu begitu hebat dan mampu membuatku sangat bodoh. Rasanya kaku luar biasa. Semua kata hilang tak berjejak. Dan yang terlontar hanya sebuah kalimat, ’Iya, aku sayang kamu..’
Mengenang 6 Juli 2011
Tentang Lelaki
“Your decision determine who you are”
Dalam sebuah pembicaraan yang tak cukup singkat, berikut ini beberapa petikan singkatnya :
‘Kamu kan anak psikologi yah, pasti sudah khatam yah berbagai karakteristik manusia. Kalau dari yang loe tau, karakter cowok tuh kayak apa?’
‘Hmmm.. Cowok yaa.. Dari sharing temen-temen cowok yah mereka kebanyakan tuh suka olah raga, musik, petualangan, egosi nya tinggi.. Makanya gak pacaran sesama laki, karena sama2 egois..hehehe’
‘Terus.. apa lagi?’
‘Hmm.. Otak kecil kalian dominan banget. Maksudnya porsi aktivitas seksual nya tinggi, kadang dominan banget. Hmmm.. Apa lagi yaaa.. kayaknya udahan deh gitu.’
’Hmmm.. loe lupa satu hal. Laki-laki tuh punya 2 kategori. Kalau gak bajingan.. yah homo.’
’Hmmm.. gitu yaahh.. Cowok cuma 2 kategori. Are you sure?’
‘Yup. I’m sure.’
‘Terus, kalo gitu loe masuk kategori mana? Loe suka sama laki or homo maksudnya?’
Seketika lawan bicara saya pun terdiam.. Mungkin kaget.. tumben banget saya mengeluarkan pertanyaan yang menyudutkan seperti ini.. Padahal pertanyaan saya cuma sekedar pertanyaan logika sederhana untuk memastikan di golongan manakah lawan bicara saya ini berada. Bajingan atau Homo?
Pembicaraan pun berlanjut.......
‘Kalau menurut gue yah.. laki-laki itu ada 3 kategori’
’Wooww.. Ada 3? Apa tuh?’
’Bajingan. Homo, dan Family Man. Untuk kategori terakhir, hasil pengalaman gue liat dari bokap gue. Dia sayang keluarga, bertanggung jawab, gak pernah bikin kita sedÃh kayak laki-laki bajingan di luar sana. Pun bokap gue gak pernah punya sejarah suka sama laki.’
‘Woww.. Surprising answer yaaa.. Elo emang selalu berpikir out of the box. I just like the way you are thinking. Amused. Padahal 2 kategori tadi kan dibuat sama cewe kebanyakan. Isn’t it?’
‘Mungkin 2 kategori tadi di buat sama cewe-cewe desperado karena kecewa luar biasa sama yang namanya laki. Gue pernah merasa kecewa dengan beberapa laki-laki. But I still believe that so many good guys out there for me. Kalo loe sendiri masuk golongan mana? Terdaftar dalam golongan familiy man kah?
Dan sekali lagi lawan bicara saya ini diam tanpa kata. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir nya. Hanya ada sebuah gelengan lemah dan sebuah senyum simpul yang mengisyaratkan sebuah pilihan atas hidupnya.
Setiap manusia memang memiliki pilihan bebas akan hidup. Entah pilihan itu dinilai baik atau buruk oleh masyarakat, tetap saja akhirnya pilihan terakhir ada di tangan manusia itu sendiri. Berdasarkan hal ini lah, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berusaha lebih lanjut untuk mendapatkan jawaban dari lawan bicara saya ini. Pun bila jawaban itu terlontar, tentunya bukan sebuah jawaban yang saya harapkan.
Sampai dengan akhir dialog kami, ketulusan tetap ada dalam hati saya. Ketulusan untuk menjadi seorang sahabat terbaik untuk dia. Karena sebenarnya yang dia butuhkan hanyalah seorang sahabat yang bisa memahami dengan sebuah ketulusan. Agar luka hati yang teramat dalam yang mungkin pernah dirasakan sirna. Agar dia sadar bahwa di dunia ini masih banyak ketulusan sebagai sebuah hal berharga yang patut dilestarikan. Sembari dalam hati, saya memberikan tanda bahwa orang seperti ini perlu dimasukan dalam kotak khusus agar hidupnya tidak mengkontaminasi hati dan pikiran saya.
Saturday, July 02, 2011
Antara Aku dan Dia
Saat tergenggam, jantung ini terasa berhenti sejenak
Seakan ikut merasa..
Bibirpun tak mampu berkata
Telinga tak sanggup mengindra
Udara terasa hampa
Hanya ada ruang kosong antara aku dan dia
Seakan ikut merasa..
Bibirpun tak mampu berkata
Telinga tak sanggup mengindra
Udara terasa hampa
Hanya ada ruang kosong antara aku dan dia
Wednesday, June 29, 2011
Suddenly Miss You
At the first time i met you i know , I'll love you...
Diawali dengan senyum..
Diawali dengan tatap kaku..
Diawali dengan asik bersama dunia masing-masing
Tanpa hiraukan rasa di hati
Tak tahu karena apa?
Rasa di hati kini terhiraukan lagi
Hanya ingin terus begini..
Penuh canda.. manja.. gelak.. tawa..
Selalu bersama
Entah sampai kapan..
Hanya berharap ini tak akan pernah berakhir
Superman Is Dead
I want to be a superhero. Guess my name!
hmm.. Superman? Spiderman? or Gentongman? :p
Yourman.
*freeze
Monday, May 16, 2011
Phileo Love
“Kalau boleh tau, berapa persen kemungkinan loe bakal jatuh cinta sama gue?”
“Saat ini gue juga bingung untuk menjawab. Tapi kalo insist mungkin 74% forecastnya.”
“Jangan pernah jatuh cinta sama gue yah.. Cinta Cuma bikin hubungan kita gak asik. Yaa jaim lah.. Yah sebel2an lah.. I just never wanna loss you.”
”Kalau elo, gak ada kemungkinan jatuh cinta yah? Sama gue pastinya.”
”Gue nyaman berinteraksi dengan loe. I don’t know.. kalau rasa nyaman itu meningkat.. Gue rasa, I can’t refuse to fall in love with you.”
*Sebuah jawaban yang seharusnya adalah “You know, it’s hard for me not to fall in love with you..”
Picture source : www.poundingheartbeat.com
Picture source : www.poundingheartbeat.com
You are the Unexpected Person
"Rejection doesn't hurt. Expectation does."
Untuk menghabiskan waktu saat akhir pekan, biasanya saya mampir ke pusat perbelanjaan yang banyak tersebar di Jakarta Raya, ini yang sering disebut dengan mall. Dalam keramaian mall ada yang menarik perhatian saya. Senyum-senyum penuh ketulusan yang tak pernah henti mengembang saat menawarkan aplikasi kartu kredit. Entah berapa orang yang telah mereka tawari untuk mengisi aplikasi tersebut. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan orang.
Satu hari dengan iseng saya mencoba untuk berjalan beberapa kali melewati stand aplikasi tersebut. Saat itu, kurang lebihnya 5 kali saya bolak-balik. Begitu terkejutnya saya saat senyum-senyum penuh ketulusan itu tetap mengembang ke arah saya dan dengan semangat yang sama mereka tetap menawari saya untuk melakukan aplikasi produk kartu kredit mereka.
Entah apa yang saya rasakan saat itu. Yang pasti, dada saya tiba-tiba berdegup tak henti, seakan menampar hati ini..
Jelas dalam ingatan saya, setiap tahun baru dengan berbagai pesta perayaannya, saya pun selalu menuliskan resolusi yang ingin saya gapai dalam waktu satu tahun ke depan. Memang, saya bukanlah orang yang masuk dalam golongan Result Oriented. Kalau boleh mengelompokkan diri, saya lebih senang berada dalam kelompok Process Oriented, di mana proses dalam setiap pencapaian menjadi terasa lebih bermakna ketimbang pencapaian itu sendiri. Banyak tantangan yang harus dihadapi sebagai orang yang masuk dalam golongan ini. Saya harus siap menerima setiap kejutan yang ada saat proses berlangsung. Kejutan berupa kegagalan atau keberhasilan dalam sebuah proses pencapaian.
”Apakah saya masih bisa tersenyum dengan tulus dan dengan semangat yang sama tetap berdiri tegak menghadapi kegagalan dalam sebuah proses pencapaian?”
Terkadang dalam proses pencapaian bukanlah kegagalan yang kita takutkan. Kita lebih khawatir bahwa proses yang terjadi tidak sesuai dengan yang apa kita harapkan. Padahal sadar atau tidak, kegagalan adalah sebuah hal wajar terjadi. Kegagalan mengingatkan kita untuk melihat kembali seberapa besar usaha kita. Kegagalan mengingatkan kita kembali untuk berserah Kepada-Nya yang selalu ada saat kita gembira, sedih, galau, berhasil, atau dalam keadaan terpuruk sekalipun.
Masalahnya adalah, bagaimana sikap kita dalam menggapai sebuah ekspektasi? Apakah kita lebih suka mengejarnya dengan sekuat tenaga, memastikan semua tahap dari proses pencapaian berhasil dijalankan? Ataukah menjalani semua dengan penuh ketulusan. Meyakini bahwa akan berhasil mendapatkan hasil yang terbaik dari proses yang dijalani. Baik atau buruk proses yang dijalani, toh itu hanyalah tahap dalam pencapaian yang menjadikan kita lebih baik lagi dari hari ke hari...
Something Gonna Happen
"Terus, kira-kira ending nya apa? Sad or Happy Ending"
Did you think about the ending?
Should I have to choose it, between happy or sad ending? Is it would be end up?
If you think about the ending, I would prepare my own parachute that help me fall down safely to the ground.
And it's okay if you have to go away
Oh just remember the telephone work in both ways
And if I never ever hear them ring
If nothing else I'll think the bells inside
Have finally found you someone else and that's okay
Cause I'll remember everything you sang..
-Jason Mraz on You and I Both-
Sunday, May 15, 2011
After Life
Sewaktu sekolah menengah atas, saya memiliki beberapa teman yang saat itu terkumpul dalam sebuah grup band beranggotakan 5 orang. Dengan alibi membangun keakraban antara personil yang satu dengan yang lainnya, berkumpul menjadi sebuah ritual bagi kami. Aktivitas berkumpul ini bisa kami lakukan di mana saja sesuai dengan ide yang muncul saat itu.
Suatu hari di malam minggu, kami memutuskan untuk mencari angin malam di sebuah pantai terkenal di Jakarta, Ancol. Di sana kami dengan perlengkapan seadanya, yaitu tikar, gitar, dan beberapa makan kecil mencoba mengisi malam kami itu dengan berbagai kegiatan tawa dan canda. Ada-ada saja ulah kami saat itu, dari bernyanyi setengah berteriak di tengah pantai, sampai mengintipi orang yang sedang asik memadu kasih di pantai itu (pantai ini memang terkenal dengan mobil goyang dan juga perahu goyang.. bahkan pohon dan motor pun ikut bergoyang. hihihihi).
Tanpa terasa, keasyikan kami berjalan sangat cepat sampai-sampai saat kami lihat jam tangan kami masing-masing, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 (waktu Indonesia bagian barat, tentunya). Dan entah mengapa, waktu yang telah larut ini memberi kami inspirasi untuk menguji nyali muda kami saat itu. Kuat dalam ingatan kami, saat itu sedang tren beberapa film hantu lokal di beberapa bioskop (pada saat itu, film horor sedang jaya tanpa ada embel esek-eseknya).
Kebetulan, dalam area Ancol ada sebuah kuburan Belanda yang terkenal yaitu, Ereveld. Dan menjadi sangat kebetulan, pantai tempat kami bercanda tawa itu letaknya dekat dengan areal perkuburan tersebut. Entah ide gila apa yang ada saat itu, akhirnya kami semua sepakat untuk mengunjungi kuburan tua itu.
Dalam 5 menit saja, kami sampai di depan perkuburan tersebut. Kuburan itu terlihat terawat dengan baik. Kebetulan saat itu pintunya sedang tertutup, jadi kami hanya memandanginya dari balik pagar seakan-akan sedang ingin mencari teman untuk kami ajak bermain.. Tanpa diduga, saat itu seorang Bapak menghampiri kami. Bapak itu mengaku sebagai si penjaga pintu dan menawarkan kami masuk ke dalam areal perkuburan itu. Dengan sedikit ngeri, kami pun menerima tawaran sang bapak untuk masuk ke dalam areal perkuburan. Tentunya ajakan itu kami terima setelah memastikan bahwa kaki si Bapak penjaga pintu memang benar menginjak tanah. (hehehe...)
Karena areal perkuburan ini terawat dengan baik, kesan horor seperti adegan di film pun tidak begitu kental mengelilingi kami. Dan kami pun mengakhiri tour kuburan kami malam itu di Ancol dengan selamat dan tidak mengajak ’makhluk’ terbaring itu bersama kami pulang.
Ternyata pengalaman itu membuat kami ketagihan dan ingin mencoba dengan kuburan yang punya predikat ’Lebih Seram’ lainnya. Dan mulailah, setiap minggu nya kami berjalan-jalan malam mengelilingi ibukota seperti tim pencari hantu dalam film ’Jailangkung’ atau film-film horor lainnya. Namun, tetap dalam upaya uji nyali tersebut kami pun membawa atribut keagamaan, in case untuk menangkal ada makhluk yang ingin ikut dengan kami atau pun sekedar ingin berkenalan dengan masuk ke dalam tubuh dari salah satu di antara kami. (membayangkannya saja saya sudah merinding apalagi sampai kejadian.. Amit..amit...).
Dari kuburan Jeruk Purut sampai Rumah Kentang di Pondok Indah pun sudah kami sisir. Sederhana saja, kami hanya ingin merasakan kengerian yang terjadi dari setiap cerita misteri yang pernah kami dengar. Padahal, setelah kami semua beranjak dewasa kami baru sadar bahwa aktivitas kami ini bukanlah sebuah prestasi yang dapat dibanggakan. Karena toh, setiap kuburan yang kami datangi hanya berisi seonggok tanah yang di dalamnya hanyalah sebuah jasad terbaring yang tentunya sudah tak bernyawa lagi. Toh semua jasad terbaring itu dulunya pun sama seperti kami, yaitu manusia.
Mungkin yang membedakannya adalah cerita-cetia yang terbangun masyarakat tentang sepak terjang orang per orang yang sudah tanpa nyawa itu. Ada yang akhirnya dikenang sebagai orang yang memiliki banyak jasa dan kebaikan.. Mungkin juga ada yang lebih dikenal dengan sebagai sosok misteri yang mungkin dapat menumbuhkan rasa penasaran kepada setiap manusia yang masih hidup di dunia ini. Dan akhirnya, seperti apa kita nanti akan dikenang, semua itu kembali kepada masing-masing dari kita. Apakah akan dikenang sebagai seorang yang memberikan banyak kebaikan dan inspirasi. Ataukah kita akan dikenang dengan penuh kengerian dan misteri yang akan nembuat bergidik banyak manusia yang masih hidup di dunia ini setelah kita beristirahat dan masuk ke alam yang lain.
Apple on the Treetop
‘Loe tuh sebagai perempuan terlalu perfect, Mba.. Gue aja adore sama loe. Sebagai perempuan, loe tuh terlalu kuat mba.. Makanya loe harus dapat pasangan yang lebih dari loe segalanya. Lebih dalam hal pengetahuan, idealisme hidup, karir, cara pandang. Yah.. semua hal deh, dia harus lebih dari loe. Dan banyak teman-teman tuh yang adore juga sama loe, seperti gue mengidolakan loe, Mba”
Dari sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh teman saya melalui media chatting BlackBerry Messenger saya mendapatkan kata-kata ini. Terus terang, saat mendapatkan pengakuan dari teman saya ini, bukan rasa senang atau pun tersanjung yang muncul dalam benak dan hati saya. Namun rasa resah dan khawatir yang tiba-tiba terlintas.
Sehebat dan sesempurna itukah saya dimata rekan-rekan saya?Betulkah hanya seorang laki-laki yang sama sempurnanya yang bisa mendapatkan saya? Wuahhh, bakal ribed juga yah hidup gue? Orang bakal ngeri bergaul sama gue nih. Am I too perfect?
Karena ternyata bukan hanya teman saya ini yang berani mengutarakan pendapatnya kepada saya. Suatu hari saya pun pernah mendapatkan penilaian yang sama dari seorang teman yang baru mengenal saya beberapa minggu terakhir ini.
’Loe terbuat dari apa sih, Dess? First impression gue sama loe tuh perempuan yang mandiri. Bisa menjalani hidup sendiri tanpa orang lain. Perempuan seperti loe akan membuat orang lain penasaran. Namun, sepertinya dahan yang menahan loe itu terlalu kuat dan tinggi yah.’
Sekali lagi muncul pertanyaan yang sama, Am I perfect person? Pertanyaan itu berulang kali terngiang dalam benak dan hati saya.. Selama ini saya menjalani hidup seperti orang pada umumnya. Mencoba mengikuti naluri dalam meraih mimpi.. Menjalani hidup apa adanya.. Mencoba mengusahakan yang terbaik untuk diri dan keluarga. That’s it.. Nothing special I think..
Memang tidak bisa dipungkiri, menyenangkan memang bisa menjadi seseorang yang berarti dan memberikan inspirasi kepada orang lain. Namun, menurut saya, apalah artinya saya bila akhirnya saya hanya bisa bertengger di atas pohon saya dan menjadi begitu tinggi untuk orang lain. Ibarat sebuah apel yang ranum karena matang di pohon, tentunya apel itu akan menjadi berguna bagi orang lain saat sudah dipetik dan dapat dinikmati dan memberikan manfaat bagi orang lain. Entah itu membuat orang lain menjadi lebih sehat akibat mendapatkan vitamin yang terkandungnya atau sekedar rasa bahagia karena mendapatkan rasa manis buah yang matang ranum itu.
Begitu pun saya. Diri ini akan menjadi berguna untuk orang lain bukan karena orang lain melihat saya hebat atau lebih dari orang lain. Mendapatkan banyak decak kagum dan pujian. Namun, saya akan merasa lebih berguna bila bisa menorehkan rasa bahagia dalam hati banyak orang.
Dan berharap akan datang seseorang dengan penuh keberanian memanjat ke atas dahan pohon apel itu dan dengan penuh kesajahaan membawa saya dengan aman sampai ke bawah dan membiarkan diri ini lebih banyak lagi memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar pohon itu.
*Image diambil dari Profile Picture tetangga sebelah dalam contact list BlackBerry Messenger
*Image diambil dari Profile Picture tetangga sebelah dalam contact list BlackBerry Messenger
Saturday, May 14, 2011
Mencari Si Mitri
Dalam sebuah perjalanan, pikiran saya tiba-tiba melayang ke masa 8 tahun lalu saat saya masih menggunakan rok berwarna abu-abu dengan kunciran dan dandanan super cupu. Sangat jelas dalam ingatan saya, saat itu saya begitu penasaran akan kehidupan saya di masa periode usia 25 tahun.
Saat itu saya bertanya-tanya,
Pada usia itu, kira-kira apa yang sudah saya lakukan? Apakah saya akan menjadi seorang wanita karier? Apakah saya sudah menikah dan membina sebuah keluarga? Memiliki seorang atau dua orang anak yang lucu sambil membina karier bersama dengan suami saya.
Dari pertanyaaan dan angan tersebut, mulailah saya bertanya dalam diri saya. Yang saya bayangkan saat itu adalah, setelah SMA, saya akan masuk perguruan tinggi dan setelahnya menikah dengan laki-laki yang menjadi kekasih saya saat itu. Sebuah pikiran yang terlalu serius untuk anak seusia saya pada saat itu.
Keseriusan itu, coba diimani oleh saya. Selepas SMA, saya belajar dengan rajin dan menjalani beberapa hubungan personal yang serius. Karena dalam benak saya, di antara usia 25, saya sudah akan membangun sebuah kehidupan yang mandiri baik dari segi finansial maupun dalam kehidupan personal.
Dalam hal pendidikan dan mengejar gelar sarjana, tentunya keseriusan saya ini tidak perlu diragukan lagi. Saya berhasil menyelesaikan study saya selama 3 tahun 9 bulan. Begitu pun dengan urusan percintaan atau personal. Betapa saya ingat, saat di awal kuliah saya sempat berpacaran serius dengan seorang kakak kelas yang nyatanya berbeda keyakinan dengan saya. Saat itu, keseriusan saya terwujud dari banyaknya membaca literatur tentang hubungan beda identitas dan juga intensif beraktivitas dengan dia dan keluarganya. Begitu pun sebaliknya. Tak lepas juga dari ingatan saya, bagaimana kami telah membuat sebuah bagan rencana kami setelah saya menyelesaikan studi. Dan di sana tertulis, pada usia 25 saya sudah akan memiliki seorang anak. Saat itu semuanya terasa begitu dekat, jelas, dan terukur.
Nyatanya setelah bagan itu tercipta, kami malah memutuskan berpisah. Seketika itu, rasa dan kecocokan antara kami hilang menguap begitu saja. Setelah itu saya membina hubungan serius saya dengan pria yang lainnya. Mendekati usia 25 tahun, hubungan kami memasuki tahun keempat, dan begitu optimisnya saya akan rencana seperti saat SMA dulu. Namun, realita berkata lain. Satu minggu setelah saya berusia 25 tahun, kami sepakat mengakhiri hubungan kami.
Ternyata, realita baru ini menghenyakkan saya akan sebuah kewajiban baru bagi saya untuk tetap bersemangat memenuhi cita-cita masa muda saya. Memang, saat itu beberapa ’proposal’ rasa diberikan kepada saya. Dan tugas saya hanya satu, Mencari Chemistry untuk setiap proposal yang ada.
Bila berbincang tentang chemistry atau lebih sering saya sebut sebagai Si Mitri (agar terlihat lebih akrab dan bersahabat dengan mahkluk yang satu ini), tentu akan banyak pendapat untuk setiap orang. Hampir semua orang di dunia merasa yakin bahwa Si Mitri memiliki peran yang sangat penting dalam hubungan personal kita dengan orang lain, entah itu dengan keluarga, teman, pasangan hidup, atau bahkan dengan musuh sekalipun Si Mitri tetap memiliki sebuah peran yang penting. Dalam aktivitasnya, makhluk ini mampu menjadikan sebuah pengalaman penuh dengan rasa.
Mengutip sebuah pernyataan seorang teman yang membangun hubungan rumah tangga atas hasil dari sebuah perjodohan, ”Rasa cinta dan kecocokan datang karena terbiasa. Terbiasa beraktivitas bersama, berkomunikasi berdua. Jadi buat apa pusing dengan Si Mitri. Toh, dia hanya bumbu rasa ajah.”
Lain lagi, pendapat teman saya yang lainnya, ”Buat apa ada Si Mitri. Emang nya dia bisa bikin kita kenyang dan bahagia. Toh, yang penting punya pasangan yang modalnya besar, jadi bisa memenuhi rasa bahagia kita lahir bathin.”
Atau curahan hati seorang sahabat yang sudah sangat merindu pasangan hidup di sampingnya. ”Kenapa yah.. gue selalu nervous saat ketemu orang yang menurut gue udah sesuai kriteria gue banget. Akhirnya gue malah gak dapet apa-apa dari dia dan Cuma gigit jari karena udah keburu jiper sama itu sosok sempurna.”
Dan masih banyak lagi pengalaman-pengalaman orang di sekeliling saya mengenai Si Mitri.
Entahlah.. Saya sendiri pun bingung bila harus berpendapat akan makhluk yang satu ini. Namun sampai saat ini saya sangat mengimani peran dari makhluk yang satu ini dalam menentukan arah perasaan saya. Karena saya setuju dengan kata-kata seorang pujangga bahwa, ”Cinta bukan hanya sekedar karena terbiasa, namun lebih karena adanya kecocokan jiwa.”
Teringat akan janji masa muda dulu dan realitas yang menyadarkan bahwa saya sudah tidak muda lagi. Muncul pertanyaan berulang kali dalam benak saya.
Apakah saya akan berkeras untuk menemukan Si Mitri atau membiarkan Si Mitri yang akhirnya akan menemukan saya?
Sunday, May 01, 2011
Jejak Kaki
Hari ini saya telah merencanakan sebuah petualangan untuk mengisi aktivitas kosong dalam akhir minggu ini. Petualangan ini berawal dari sebuah kegiatan iseng mendaftarkan diri dalam sebuah kompetisi nasional yang diadakan oleh sebuah portal fashion online. Dari pendaftaran ini, ternyata saya lolos tahap awal, yang berarti harus mengikuti tahap selanjutnya untuk sessi foto dan wawancara.
Sebenarnya, saya bukanlah tipe manusia yang antusias mengikuti kompetisi seperti ini.. Apalagi setelah tau lokasi foto dan interview yang sangat jauh letaknya dari rumah, menambah rasa malas dalam diri. Tapi untuk kali ini, saya mencoba keluar dari zona nyaman saya dan bertekad untuk mengikuti tahap selanjutnya. Bukan karena hadiah yang sangat menggiurkan, namun lebih kepada rasa ingin tahu dan sekedar melepas penat dalam diri saya.
Entah apa yang menggerakkan saya, semangat itu begitu besar. Pagi-pagi sekali setelah sempat menyapa Tuhan terlebih dahulu, saya berangkat ke lokasi acara dengan menggunakan transportasi favorit saya. Lalu dengan diantar oleh seorang bapak ojek, saya pun meluncur ke sana.
Memang, pilihan menggunakan ojek langganan untuk menuju ke lokasi foto dan interview bukanlah sebuah pilihan yang bijaksana. Selain karena biaya yang relatif mahal, saya pun menjadi tidak terbiasa untuk mengenal dan memahami angkutan umum yang telah tersedia. Namun, apalah artinya semua itu, toh esensinya sama saja. Yang penting, saya dapat sampai tepat waktu di lokasi, entah menggunakan ojek, angkutan umum, ataupun kendaraan pribadi. Toh itu hanya sekedar preferensi dari masing-masing orang dalam mencapai tujuan.
Setelah sampai di sana, saya mengikuti beberapa tahap dari foto, membuat video profile, dan juga interview dengan panitia pelaksana. Semua aktivitas itu berjalan lancar dan cepat, tidak sesuai bayangan bahwa kan ramai dan penuh antrian.
Setelah dari sana, saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat di pusat kota untuk membeli sebuah kado untuk mama yang esok hari akan berulang tahun. Kali ini, saya memutuskan untuk menyimpan uang saya dengan menahan diri pergi menggunakan taksi. Pilihan saya jatuh pada Trans Jakarta, yang kebetulan ada persis di depan gedung acara tersebut. Trans Jakarta adalah kendaraan khusus yang disediakan oleh pemerintah, yang mampu membawa kita ke beberapa tempat hanya dengan sekali bayar tiket. Dengan diiringi alunan lagu dari pemutar lagu dikantong , saya begitu menikmati setiap detik dan pemberhentian yang ada.
Karena menggunakan Trans Jakarta , saya diharuskan untuk berpindah armada untuk menuju tempat tujuan. Dari pemberhentian terakhir armada pertama menuju ke armada kedua, saya harus melalui sebuah jembatan panjang yang menghubungkan keduanya. Saat berjalan dalam jembatan itu, ada sebuah rasa yang bergejolak dalam diri saya.
Sepanjang jembatan itu. saya memperhatikan orang-orang yang berjalan di sekitar. Ada beberapa orang yang berjalan dengan ritme yang sangat cepat bahkan setengah berlari. Ada juga yang berjalan santai sambil bercanda dengan teman-temannya. Ada juga yang berjalan lambat dengan muka menerawang ke arah jalan atau bahkan tertunduk dalam melihat setiap langkah yang diambilnya. Kalau saya memilih untuk berjalan santai sambil memperhatikan sekitar saya. Dan saat itu, hati ini begitu bergolak entah mengapa.
Seketika itu, munucul banyak pertanyaan dalam diri ini.
"Apakah orang yang jalan cepat seakan terburu-buru karena memang ingin mengejar sesuatu atau karena memang gaya jejak kakinya memang seperti itu?"
Atau...
"Mereka yang berjalan lambat sambil menerawang entah ke mana, juga memiliki emosi yang sama dengan orang yang memilih untuk berjalan cepat?"
Terkadang kita tidak pernah sadar akan setiap jejak kaki yang kita lakukan. Tidak pernah sadar, bahwa jejak kaki yang kita lakukan adalah representasi dari emosi yang kita rasakan saat itu. Apakah jejak kaki kita adalah jejak santai, jejak terburu-buru, jejak penuh amarah, jejak kesedihan, jejak penuh kegembiraan, jejak harapan, jejak penuh optimisme, atau jejak dengan makna yang lain.
Setiap jejak kaki hari itu, seakan menghenyakkan saya dalam kesadaran. Saat ini, saya berada dalam ambang kebingungan atas apa yang saya rasa dan saya harapkan dalam hidup saya. Buktinya, hari itu di atas jembatan panjang itu, saya berjalan hanya dengan jejak jejak kaki pasti namun gontai, seakan ingin berempati atas perasaan hati ini. Yah.. memang semua akan kembali kepada saya.. Tetap melakukan jejak kaki sesuai perasaan ini, atau mengubah perasaan ini menjadi lebih baik dengan kembali mengatur jejak kaki saya agar lebih berdaya dan penuh semangat atas sebuah harapan yang seakan tak akan pernah kunjung padam.
Sebenarnya, saya bukanlah tipe manusia yang antusias mengikuti kompetisi seperti ini.. Apalagi setelah tau lokasi foto dan interview yang sangat jauh letaknya dari rumah, menambah rasa malas dalam diri. Tapi untuk kali ini, saya mencoba keluar dari zona nyaman saya dan bertekad untuk mengikuti tahap selanjutnya. Bukan karena hadiah yang sangat menggiurkan, namun lebih kepada rasa ingin tahu dan sekedar melepas penat dalam diri saya.
Entah apa yang menggerakkan saya, semangat itu begitu besar. Pagi-pagi sekali setelah sempat menyapa Tuhan terlebih dahulu, saya berangkat ke lokasi acara dengan menggunakan transportasi favorit saya. Lalu dengan diantar oleh seorang bapak ojek, saya pun meluncur ke sana.
Memang, pilihan menggunakan ojek langganan untuk menuju ke lokasi foto dan interview bukanlah sebuah pilihan yang bijaksana. Selain karena biaya yang relatif mahal, saya pun menjadi tidak terbiasa untuk mengenal dan memahami angkutan umum yang telah tersedia. Namun, apalah artinya semua itu, toh esensinya sama saja. Yang penting, saya dapat sampai tepat waktu di lokasi, entah menggunakan ojek, angkutan umum, ataupun kendaraan pribadi. Toh itu hanya sekedar preferensi dari masing-masing orang dalam mencapai tujuan.
Setelah sampai di sana, saya mengikuti beberapa tahap dari foto, membuat video profile, dan juga interview dengan panitia pelaksana. Semua aktivitas itu berjalan lancar dan cepat, tidak sesuai bayangan bahwa kan ramai dan penuh antrian.
Setelah dari sana, saya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat di pusat kota untuk membeli sebuah kado untuk mama yang esok hari akan berulang tahun. Kali ini, saya memutuskan untuk menyimpan uang saya dengan menahan diri pergi menggunakan taksi. Pilihan saya jatuh pada Trans Jakarta, yang kebetulan ada persis di depan gedung acara tersebut. Trans Jakarta adalah kendaraan khusus yang disediakan oleh pemerintah, yang mampu membawa kita ke beberapa tempat hanya dengan sekali bayar tiket. Dengan diiringi alunan lagu dari pemutar lagu dikantong , saya begitu menikmati setiap detik dan pemberhentian yang ada.
Karena menggunakan Trans Jakarta , saya diharuskan untuk berpindah armada untuk menuju tempat tujuan. Dari pemberhentian terakhir armada pertama menuju ke armada kedua, saya harus melalui sebuah jembatan panjang yang menghubungkan keduanya. Saat berjalan dalam jembatan itu, ada sebuah rasa yang bergejolak dalam diri saya.
Sepanjang jembatan itu. saya memperhatikan orang-orang yang berjalan di sekitar. Ada beberapa orang yang berjalan dengan ritme yang sangat cepat bahkan setengah berlari. Ada juga yang berjalan santai sambil bercanda dengan teman-temannya. Ada juga yang berjalan lambat dengan muka menerawang ke arah jalan atau bahkan tertunduk dalam melihat setiap langkah yang diambilnya. Kalau saya memilih untuk berjalan santai sambil memperhatikan sekitar saya. Dan saat itu, hati ini begitu bergolak entah mengapa.
Seketika itu, munucul banyak pertanyaan dalam diri ini.
"Apakah orang yang jalan cepat seakan terburu-buru karena memang ingin mengejar sesuatu atau karena memang gaya jejak kakinya memang seperti itu?"
Atau...
"Mereka yang berjalan lambat sambil menerawang entah ke mana, juga memiliki emosi yang sama dengan orang yang memilih untuk berjalan cepat?"
Terkadang kita tidak pernah sadar akan setiap jejak kaki yang kita lakukan. Tidak pernah sadar, bahwa jejak kaki yang kita lakukan adalah representasi dari emosi yang kita rasakan saat itu. Apakah jejak kaki kita adalah jejak santai, jejak terburu-buru, jejak penuh amarah, jejak kesedihan, jejak penuh kegembiraan, jejak harapan, jejak penuh optimisme, atau jejak dengan makna yang lain.
Setiap jejak kaki hari itu, seakan menghenyakkan saya dalam kesadaran. Saat ini, saya berada dalam ambang kebingungan atas apa yang saya rasa dan saya harapkan dalam hidup saya. Buktinya, hari itu di atas jembatan panjang itu, saya berjalan hanya dengan jejak jejak kaki pasti namun gontai, seakan ingin berempati atas perasaan hati ini. Yah.. memang semua akan kembali kepada saya.. Tetap melakukan jejak kaki sesuai perasaan ini, atau mengubah perasaan ini menjadi lebih baik dengan kembali mengatur jejak kaki saya agar lebih berdaya dan penuh semangat atas sebuah harapan yang seakan tak akan pernah kunjung padam.
Friday, April 22, 2011
Life with No Regrets
‘Jadi Paskah tahun ini hasil perenungannya apa nih?’
Dari kalimat tanya yang terlontar dari sebuah chatting melalui Blackberry Messenger, saya memulai perjalanan refleksi saya hari itu.
Memang selama 40 hari masa Pra-Paskah tahun ini, saya banyak menghabiskan waktu saya dengan bekerja keras pagi sampai malam. Moment yang saya ingat selama 40 hari in hanyalah sebatas ritual yang dilaksanakan di Gereja. Sepertinya tidak ada suatu hal yang istimewa yang saya lakukan selama 40 hari ini. Karena jujur, saya masih sibuk dengan kegalauan hati yang kunjung habis. Sehingga makna sebuah masa Pra-Paskah terasa kering dalam hati saya. Tapi ada sebuah pernyataan dari seorang pastor yang saya ingat sampai dengan detik ini.
Saat itu, dalam ruang berukuran 1 x 2 meter, saya bersujud di depan seorang pastor untuk melakukan pengakuan atas dosa yang saya lakukan. Setelah melakukan pengakuan atas beberapa kesalahan, sang pastor mulai memberikan nasihat kepada saya. Namun, di tengah nasihat tersebut, saya memotongnya dengan berucap,
’Oh iya Pastor, ada satu hal yang saya masih pendam. Saya masih belum bisa memaafkan seseorang yang menyakiti hati saya teramat dalam. Saya masih marah dengan dia sampai dengan saat ini.’
Dengan sebuah senyum simpul, Pastor itu mendengarkan kesalahan terbesar saya saat tersebut, lalu dia berucap,
’ Dalam hidup ini, Tuhan dengan baik mau memberikan pengampunannya kepada kita. Kamu senang gak kalau kesalahanmu diampuni oleh Tuhan? Jadi sudah sewajarnya kalau kita diberikan pengampunan oleh Tuhan, kita juga mau membagikan pengampunan itu kepada orang-orang di sekitar kita, terutama yang menyakiti kita teramat dalam.’
Dalam seketika itu, ingin rasanya air mata ini menghambur deras dari sudut mata saya, namun coba saya tahan dengan sepenuh usaha. Ada rasa sesal yang mendalam atas sikap saya ini. Sesal akan banyak hal. Sesal atas sebuah kegagalan ’prestasi’ hidup yang pernah terjadi. Namun, lebih menyesal lagi bahwa selama ini saya menanam rasa marah berlarut dan tidak pernah dengan tulus memberikan pengampunan itu.
Setelah kejadian itu, saya sadar bahwa penyesalan akan menahan kita untuk maju melangkah dalam hidup. Penyesalan hanya akan membuat kita terdiam meratap hidup yang harusnya terus berjalan ke depan. Yah.. karena hari esok lah yang akan dapat kita usahakan, bukan sebuah masa lalu yang telah menjadi sebuah prasasti hidup yang hanya bisa kita kenang dan menjadikannya sebuah pengalaman dan pelajaran.
Sekarang tugas saya adalah memberikan pengampunan itu kepada mereka yang menyakiti saya teramat dalam. Bukanlah sebuah kata pengampunan yang mudah terlontar dari bibir saya. Namun, pengampunan dengan ketulusan hati ini. Karena suatu hal yang dimulai dengan ketulusan, pasti akan berbuah baik di akhir cerita.
Sunday, April 17, 2011
Bonus of Making Sincere Relationhip
‘Sebenernya, yang lagi loe cari tuh calon suami atau sekedar teman ngobrol sih?’
Sebuah pertanyaan sederhana yang cukup menghujam jantung hati saya. Setelah mendapat pertanyaan itu, seketika saya langsung terdiam layu. Tak menyangka prosesi curhat saya harus diakhiri dengan sebuah pertanyaan yang saya sendiri pun tidak tahu jawabannya. Namun, saat itu saya merasa semakin tersudut dengan pertanyaan itu, saya impulsif menjawab,
‘Yah.. yang gue cari sekarang emang calon suami.. Secara umur udah seperempat abad nih..’
Jawaban impulsif yang terlontar dari bibir saya ini, langsung diamini oleh teman saya ini. Dengan hasil analisa atas perilaku saya selama ini, teman tersebut langsung menambahkan beberapa hasil observasinya terhadap saya.
‘Coba deh, loe pikirin lagi. Ada identitas orang itu yang berbeda sama loe des. Loe kan anaknya serius kalo mau menjadikan seseorang itu temen loe. Loe harus tau dulu semua hal dari A sampai Z nya orang itu. Kalo loe yakin, bahwa sesuai sama criteria, loe baru jalanin. Bener kan? Lagian, gue lihat laki itu gak cocok deh sama loe yang serius dan sulit di direct sama laki-laki’
Damn !! Mendengar penjelasannya yang terlalu premature itu, saya pun semakin layu dan kuncup. Hujanan penilaian terhadap personalitas itu begitu membuat saya enggan berkonsentrasi melanjutkan kerja pada pagi itu. Lalu mulai muncul banyak pertanyaan dalam diri saya.
‘Apakah benar, gue ini orang yang selalu serius dalam menjalani hidup?’
‘Apakah salah, jika saya ingin tahu identitas orang lain, yang sudah saya ketahui bahwa orang tersebut memiliki intensi yang lebih dari sekedar menjadi teman dengan saya?’
‘Apakah benar, saya terkesan begitu keras kepalanya, sehingga terkesan sebagai perempuan yang tidak mau diarahkan oleh mahkluk bernama laki-laki?’
Atau, jangan-jangan, teman saya yang baik ini sebenarnya belum begitu mengenal saya apa adanya. Belum mengerti siapa saya sebenarnya. Bahwa dalam dunia profesionalitas, saya harus mencitrakan diri saya sebagai orang yang lebih menggunakan mindset atau kemampuan analisa berpikir ketimbang dengan perasaan. Sehingga teman saya yang baik ini akan jarang sekali melihat saya menggunakan kepekaan perasaan saya selama berinteraksi di dunia professional.
Selain itu, saya yakin bahwa hampir semua orang di belahan dunia ini akan bertanya lebih detail mengenai identitas seseorang saat muncul intensi lebih dalam menjalin sebuah hubungan pertemanan. Intensi yang lebih dari sekedar teman. Karena disadari atau tidak, konsep Bhineka Tunggal Ika yang selalu dipelajari saat sekolah dulu hanya efektif dijalankan dalam konsep pertemanan dan hubungan professional, namun tidak dengan konsep mencari pasangan hidup. Karena sederhananya, dalam mencari pasangan hidup, seseorang tidak hanya menjalin hubungan dengan sang kekasih, namun juga dengan seluruh keluarga dari kekasihnya itu. Dan masih banyak keluarga Indonesia yang ingin bahwa keturunannya dapat menjaga adat istiadat leluhur dengan memiliki pasangan hidup yang sama identitasnya dengan yang mereka miliki. Begitupun dengan keluarga saya yang masih memegang teguh adapt istiadat leluhur dalam menjalankan kehidupan kami. Jadi, kesimpulannya adalah wajar bila saya bertanya dan mempertimbangkan lebih detail identitas dari seseorang yang memiliki intensi lebih terhadap diri saya.
Untuk pertanyaan terakhir, ‘Apakah saya perempuan yang sulit diarahkan oleh mahkluk yang bernama laki-laki?’. Untuk pertanyaan ini, saya menyadari dan mengakui bahwa saya memang seorang perempuan yang selalu mencoba untuk hidup mandiri dan memiliki visi-misi ke depan dalam hidup saya. Namun bukan berarti saya seorang perempuan yang keras kepala yang tidak bisa dan tidak mau diarahkan oleh laki-laki. Saya orang yang amat senang untuk dimanja dan diberi pengertian oleh pasangan saya. Dengan sebuah kesabaran dan pengertian, seorang laki-laki akan dapat berhasil mendapatkan hati dan perasaan saya. Otomatis di tahap tersebut, arahan hidup orang tersebut akan saya selalu saya pertimbangkan. Karena saya pun paham benar, bahwa sebagai perempuan saya adalah second person setelah pasangan saya. Pun, saya paham benar bahwa sebagai adanya kewajiban seorang perempuan menjaga wibawa dari pasangan hidupnya. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk saya tidak mengikuti arahan hidup yang diberikan oleh pasangan saya kelak.
Dari semua hal tersebut muncul kesimpulan lain lagi dalam diri saya. Prosesi curhat dalam lingkungan professional memang tidak akan efektif. Pemilihan pasangan hidup sebaiknya akan saya konsultasikan kepada teman yang memang pernah menjadi saksi mata atas semua perilaku personal saya, bukan teman yang melihat saya dari sudut pandang profesionalitas. Dan tentunya, selalu saya akan menempatkan pertimbangan keluarga sebagai prioritas pertama.
Jadi, daripada kuncup dan layu memikirkan pertanyaan dan analisa prematur teman saya itu, lebih baik saya sibuk membuka diri dan hati saya. Sekedar berteman baik pun tidak ada salahnya dilakukan. Bahwa suatu saat nanti, dari sekian teman laki-laki yang ada akhirnya saya pilih menjadi seorang pasangan hidup, itu adalah sebuah bonus dari ketulusan akan sebuah hubungan pertemanan.
Subscribe to:
Posts (Atom)









