Suatu malam di tengah perbincangan bersama dengan teman-temanku, seorang cowok yang adalah sahabat karibku mendatangi kami.
"Hai..lagi pada makan yah...?", katanya
"Yup..iya nih..ayo kita makan bareng yuk. Dirimu sudah makan belum...Udah malam loh..", kataku berusaha ramah padnya
"Ga' ahh..ga' lapar", katanya
"Ok..no problemo.. Baru pulang kantor yah mas..?", kataku berusaha mencari bahan pembicaraan.
"He eh niy... Oh iyah..kenalin, namaku Donald loh..", katanya kepada teman-temanku
"Hahaha...Sok gaya kamu mas...Wong punya nama asli kok diganti Donald", sahutku.
"Iyah..Aku kan donald..kamu deasy'nya...", katanya melanjutkan sambil memberikan senyum manisnya kepadaku.
"WHATTT...!!! Apa kataya...?? Wuah gawat nih kalau temanku tahu orang ini berusaha merayuku bisa gawat aku", pikirku dalam hati
"Uhmmm..ternyata perasaan itu masih ada dalam hatinya yah...", gumamku.
Tak kusangka setelah kurang lebih 5 tahun aku tak bersama dia, ternyata perasaan itu masih ada dalam hatinya.. Antara senang..tapi kok janggal juga yah rasanya...
Jujur saja..dulu aku memang sempat kagum kepadanya. Kami pun sempat jalan bersama beberapa waktu. Namun, manuvernya yang kurang smooth dan terkesan labil, membuat hubungan kami yang dulu sebenarnya tinggal diperjelas statusnya berakhir menggantung.
Aku masih ingat satu adeganku bersama dengan dia.
Saat itu, lima tahun yang lalu,dia mengantarku pulang setelah menonton bioskop bersama. Saat aku akan keluar dari mobil, dia sempat meraih tanganku dan menggemgamnya erat.
"Sy (panggilannya untuk ku)...aku pengen bilang sesuatu..", katanya
"Iyah apa...?" tanyaku menunggu
"Uhmmmm...Uhmmmmmm...Uhmmmm....gimana yah..?", lanjutnya
"Iyah..ada apa..?", tanyaku lagi
"Uhmmm...tidak jadi deh..Lain kali saja", katanya.
Aku tahu pada saat itu dia ingin mengucap suatu hal untukku. Dan aku hanya bisa menunggu langkah selanjutnya dari dia yang sampai sekarang rasa itu tidak pernah ada jawabnya.
Friday, February 27, 2009
Monday, February 23, 2009
Valkyrie on Valentine's Day
Seperti pasangan yang lain merayakan valentine day. Aku dan dia mencoba bergembira merayakan hari kasih sayang ini dengan pergi nonton bersama. (sebenarnya siyh...minggu yang lain kami juga pergi nonton di bioskop..hehehehe).
Tapi kali ini ada yang berbeda, dari nonton di minggu-minggu biasanya.. Setelah research film yang sedang "In" di internet, kami pun memutuskan pergi nonton film Valkyrie yang banyak direkomendasikan untuk ditonton...
Nah...kami cepat-cepat berangkat di salah satu bioskop favorite kami berdua untuk mengejar jadwal film pukul 21.00.
Sesampainya di sana, kami langsung buru-buru menuju meja kasir untuk medapatkan tiket kami.
"Valkyrie, mba untuk 2 orang..", katanya dia
"Wuah, mas sudah agak penuh nih..tinggal 2 layer di depan."
"Yahhhhh.... gimana nih.." spontan kataku
"uhm...di deret ke empat dari bawah ada tempat tuh mba...masih 3 lagi...", kata dia berusaha mengusahakan agar kami tidak duduk mendongak
"Yah mas..ini untuk tiga orang. Kalo mas beli dua, nanti tinggal satu, tidak ada yang beli..Filmnya sedang banyak ditonton orang nih..Yang di depan aja yah untuk berdua.."
"Ini jarak dengan layar berapa meter mba..?", kataku berusaha mencari informasi yang logis untuk meyakinkan diri sendiri.
"6 meter siy mba...Yah, mendongak siy nontonnya, bagaimana jadi gak?"
"Yah..mba..ngga enak kalo nontonnya mendongak.."kata dia.
"Uhm..mba...boleh yah kalo yang di baris empat ini...Pleassseeee.." kata dia melanjutkan (sambil sedikit memelas dan melemparkan senyuman mautnya)
Melihatnya, aku terkejut..Tak biasanya dia begitu memohon dan memelas kepada orang lain...yang belom dikenal lagi...Aku pun ikut-ikutan dia, "iya yah mba..Pleassssseeeee..."
Melihat itu semua si mba berkata..."Uhm yau dah deh..Untuk mba dan mas, saya kasih di baris empat, dua orang yah.."
"Yesss...berhasil rayuan kami...", pikirku dalam hati..
Heheheh..ami pun berhasil mengantongi 2 tiket film itu.. lalu si dia mulai berkata...
"Untung, mbanya kasih niy baris ke 4 nya. Coba kalo gak... aku bakal bilang...Mba..Ini kan malam valentine.. yang dateng pasti pasangan-pasangan. Jadi nda mungkin ada yang dateng bertiga.."
"Kalu Mba-nya tetep nggak mau kasih gimana?"
'Yah, aku beli tiga-tiganya aja deh.."katanya
hihihihihi...geli aku mendengarnya...
Uhmmm...malam ini menjadi cukup berkesan dengan kejadian tadi... Baru kali ini aku melihatnya begitu memelasa dan memohon kepada orang lain untuk mendapatkan sesuatu untuk kami berdua...
Uhmmm..akhirnya benar..Film Valkyrie di Valentine day ini menjadi suatu pengalaman berkesan bagi kami..
Karena tak hanya filmnya yang memang bagus..namun..kejadian di balik itu semua yang membuatnya semakin berkesan...
Tapi kali ini ada yang berbeda, dari nonton di minggu-minggu biasanya.. Setelah research film yang sedang "In" di internet, kami pun memutuskan pergi nonton film Valkyrie yang banyak direkomendasikan untuk ditonton...
Nah...kami cepat-cepat berangkat di salah satu bioskop favorite kami berdua untuk mengejar jadwal film pukul 21.00.
Sesampainya di sana, kami langsung buru-buru menuju meja kasir untuk medapatkan tiket kami.
"Valkyrie, mba untuk 2 orang..", katanya dia
"Wuah, mas sudah agak penuh nih..tinggal 2 layer di depan."
"Yahhhhh.... gimana nih.." spontan kataku
"uhm...di deret ke empat dari bawah ada tempat tuh mba...masih 3 lagi...", kata dia berusaha mengusahakan agar kami tidak duduk mendongak
"Yah mas..ini untuk tiga orang. Kalo mas beli dua, nanti tinggal satu, tidak ada yang beli..Filmnya sedang banyak ditonton orang nih..Yang di depan aja yah untuk berdua.."
"Ini jarak dengan layar berapa meter mba..?", kataku berusaha mencari informasi yang logis untuk meyakinkan diri sendiri.
"6 meter siy mba...Yah, mendongak siy nontonnya, bagaimana jadi gak?"
"Yah..mba..ngga enak kalo nontonnya mendongak.."kata dia.
"Uhm..mba...boleh yah kalo yang di baris empat ini...Pleassseeee.." kata dia melanjutkan (sambil sedikit memelas dan melemparkan senyuman mautnya)
Melihatnya, aku terkejut..Tak biasanya dia begitu memohon dan memelas kepada orang lain...yang belom dikenal lagi...Aku pun ikut-ikutan dia, "iya yah mba..Pleassssseeeee..."
Melihat itu semua si mba berkata..."Uhm yau dah deh..Untuk mba dan mas, saya kasih di baris empat, dua orang yah.."
"Yesss...berhasil rayuan kami...", pikirku dalam hati..
Heheheh..ami pun berhasil mengantongi 2 tiket film itu.. lalu si dia mulai berkata...
"Untung, mbanya kasih niy baris ke 4 nya. Coba kalo gak... aku bakal bilang...Mba..Ini kan malam valentine.. yang dateng pasti pasangan-pasangan. Jadi nda mungkin ada yang dateng bertiga.."
"Kalu Mba-nya tetep nggak mau kasih gimana?"
'Yah, aku beli tiga-tiganya aja deh.."katanya
hihihihihi...geli aku mendengarnya...
Uhmmm...malam ini menjadi cukup berkesan dengan kejadian tadi... Baru kali ini aku melihatnya begitu memelasa dan memohon kepada orang lain untuk mendapatkan sesuatu untuk kami berdua...
Uhmmm..akhirnya benar..Film Valkyrie di Valentine day ini menjadi suatu pengalaman berkesan bagi kami..
Karena tak hanya filmnya yang memang bagus..namun..kejadian di balik itu semua yang membuatnya semakin berkesan...
Friday, February 13, 2009
Sentuhan Kasih di Tengah Dinginnya Malam
Semenjak bekerja di sebuah kantor konsultan, menjadi suatu rutinitas di mana aku pulang larut malam akibat pekerjaan yang tak kunjung selesai. Namun, di bulan-bulan terakhir ini, menjadi satu hal yang tidak menyenangkan karena hampir setiap malam hujan membasahi ibu kota. Dan tentu saja, hujan juga diiringi oleh dinginnya angin malam yang cukup menusuk tulang yang ada di tubuhku ini.
Di tengah gelap dan dinginnya malam itu, aku berjalan sambil berusaha menyembunyikan tubuhku serapat mungkin dalam balutan jaket tebal dan syalku yang kupikir dapat sedikit menghangatkan tubuhku ini.
Lalu dalam sebuah persimpangan jalan, aku menunggu sebuah angkutan hijau yang biasa membawaku dalam hitungan detik..menit..bahkan jam...Malam itu, memang masih terlihat ramai dan bus yang kutumpangi pun masih ramai dibanjiri penumpang. Tak terasa menit berlalu, dan kami pun sampai di persimpangan Megaria dan busku pun melaju ke arah sebuah rumah sakit yang namanya dijadikan sebuah lagu " Saint Carolus"
Di tengah padatnya jalan malam itu, naik seorang gadis yang aku rasa berumur 13-15 tahun naik ke dalam bus kami dengan membawa sebuah gitar kecil.
"Uhmm..Gadis yang kemarin lagi", kataku dalam hati.
Yah...kemarin persis saat aku naik bus yang sama, aku melihat gadis ini bersenandung satu lagu yang menurutku agak kurang sopan diperdengarkan di depan umum.
"Satu pasangan tak cukup..
Dua simpanan juga tak cukup..
memang dasar..Emang dasar...
Dasar Eh Kamu BAJINGAN.."
"Kamu mau apa lagi..
kamu mau yang gimana lagi..
Memang dasar..emang dasar..
Dasar eh kamu BAJINGAN.."
Dari segi suara, memang gadis ini bisa dibilang bagus dengan teknik cengkok dangdutnya yang lumayan dibandingkan dengan artis-artis ibukota, namun aku agak kurang setuju bila diumurnya yang masih bau kencur itu, dia sudah berani menyanyikan lagu-lagu yang isinya sangat kasar menurutku.
Maka, aku pun memutuskan untuk hanya memberikan senyuman saat dia sampai di depanku dan mencoba mengumpulkan uang dariku.Uhhmmm...oke then...Gadis itu turun dari Bus kami.
Dinginnya angin malam membuatku sedikit mengantuk...dan aku berusaha memejamkan mataku untuk mengistirahatkan sebentar tubuhku yang cukup lelah ini.
Tak lama aku mengistirahatkan mata dan pikiranku, naiklah 4 orang anak laki-laki yang masih semangat di tengah dinginnya malam.
"Uhmm..Pengamen lain lagi" pikirku.
Dua dari mereka membawa gitar kecil dan sebuah jembe kecil..Wow..walau masih kecil mereka cukup punya modal menjalani kegiatan ini.
Dengan Penuh semangat mereka menyanyikan dua buah lagi dengan penuh semangat. Dari segi kualitas suara tentunya Gadis sebelumnya lebih berbobot, namun dari segi usaha menarik perhatian penumpang, mereka memang jagonya.
Bagaimana tidak, mereka masih kecil..yah, berumur sekita 6-8 tahun dan dari tingkah polahnya mereka sangat atraktif. Yah..ini terlihat dari para penumpang yang memasang wajah simpati kepada anak-anak itu.
Namu, saat itu aku pun memutuskan untuk tidak memberikan sepeser pun kepada mereka. Karena menurutku akan menjadi suatu tindak pembodohan bagi mereka. Bagaimana tidak, dari segi penampilan, mereka masih bisa memakai baju dengan gambar karakter-karakter kartun yang sekarang ini sedang terkenal ditambah dengan kepemilikan gitar dan jembe kecil yang aku rasa harganya tidaklah murah.
Setelah anak-anak itu turun dari bus kami, baru seratus meter sudah naik lagi pengamen yang ketiga. Dan kali ini makin membuatku tecengang. Bagaimana tidak, yang naik adalah seorang pria yang aku rasa berumur 35 tahun, berpostur kurus tinggi, berkulit putih bersih dan berkaca mata.
"Wuah..keterlaluan sekali"kataku dalam hati.
Laki-laki itu atau lebih tepatnya bapak itu memulai aksinya dalam menyanyi. Namun, suranya sangat kecil dan terdengar seperti berbisik. Dia bernyanyi sambil bertepuk tangan. Itu pun tepukan tangannya sangat lemah dan tak terdengar sama sekali.
Wuah, aku pesimis sekali pengamen yang satu ini akan dapat merebut perhatian dan belas kasih para penumpang. Bagaimana tidak, dia terlihat kurang berusaha dengan suaranya yang sangat lirih dan lemas.
Aku mencoba memperhatikan pengamen itu dan mencoba menebak apa yang membuat dia mengamen. Bukankah dia masih sehat dan bisa mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan uang.
Dalam diamku memperhatikannya, tiba-tiba aku lihat matanya berkaca dan terlihat menahan tangis dalam hati. Yah.. aku bisa merasakan kesedihan dalam matanya yang sedang menerawang langit-langit bus kami.
Lalu, kuperhatikan lebih lekat lagi, tubuhnya sangat kurus dan terlihat tulang-tulangnya deangn jelas. Bibirnya pun pucat seperti belum makan seharian ini. Lalu kulihat kantung celananya tipis tak berisikan uang receh hasil mengamen.
Aku benar-benar bisa melihat kelelahan dan kesedihan di matanya. Aku membayangkan dia adalah salah satu korban PHk yang sedang marak terjadi dan harus tetap bertahan hidup dengan mengamen walaupun harus menurunkan harga dirinya.
Terlihat benar, bahwa dia tidak biasa mengamen dan sangat lapar malam itu.
Pikiranku langsung melayang membayangkan bagaimana bila ayahku yang berada dalam posisi laki-laki itu. Dan melihat matanya, tiba-tiba aku pun ikut sedih dan ingin menangis. Sungguh sangat menyakitkan hati melihatnya.
Lalu benar saja, para penumpang tak terlihat antusias dan tertarik dengan aksinya malam itu. Namun, perasaan kasih dalam hatiku sangat dalam melihat kesedihan di matanya. Untuk itu, ku coba sedikit membantunya dengan memberikan selembar uang seribu yang mungkin dapat membantunya untuk membeli sedikit makanan di malam yang dingin ini.
Di tengah gelap dan dinginnya malam itu, aku berjalan sambil berusaha menyembunyikan tubuhku serapat mungkin dalam balutan jaket tebal dan syalku yang kupikir dapat sedikit menghangatkan tubuhku ini.
Lalu dalam sebuah persimpangan jalan, aku menunggu sebuah angkutan hijau yang biasa membawaku dalam hitungan detik..menit..bahkan jam...Malam itu, memang masih terlihat ramai dan bus yang kutumpangi pun masih ramai dibanjiri penumpang. Tak terasa menit berlalu, dan kami pun sampai di persimpangan Megaria dan busku pun melaju ke arah sebuah rumah sakit yang namanya dijadikan sebuah lagu " Saint Carolus"
Di tengah padatnya jalan malam itu, naik seorang gadis yang aku rasa berumur 13-15 tahun naik ke dalam bus kami dengan membawa sebuah gitar kecil.
"Uhmm..Gadis yang kemarin lagi", kataku dalam hati.
Yah...kemarin persis saat aku naik bus yang sama, aku melihat gadis ini bersenandung satu lagu yang menurutku agak kurang sopan diperdengarkan di depan umum.
"Satu pasangan tak cukup..
Dua simpanan juga tak cukup..
memang dasar..Emang dasar...
Dasar Eh Kamu BAJINGAN.."
"Kamu mau apa lagi..
kamu mau yang gimana lagi..
Memang dasar..emang dasar..
Dasar eh kamu BAJINGAN.."
Dari segi suara, memang gadis ini bisa dibilang bagus dengan teknik cengkok dangdutnya yang lumayan dibandingkan dengan artis-artis ibukota, namun aku agak kurang setuju bila diumurnya yang masih bau kencur itu, dia sudah berani menyanyikan lagu-lagu yang isinya sangat kasar menurutku.
Maka, aku pun memutuskan untuk hanya memberikan senyuman saat dia sampai di depanku dan mencoba mengumpulkan uang dariku.Uhhmmm...oke then...Gadis itu turun dari Bus kami.
Dinginnya angin malam membuatku sedikit mengantuk...dan aku berusaha memejamkan mataku untuk mengistirahatkan sebentar tubuhku yang cukup lelah ini.
Tak lama aku mengistirahatkan mata dan pikiranku, naiklah 4 orang anak laki-laki yang masih semangat di tengah dinginnya malam.
"Uhmm..Pengamen lain lagi" pikirku.
Dua dari mereka membawa gitar kecil dan sebuah jembe kecil..Wow..walau masih kecil mereka cukup punya modal menjalani kegiatan ini.
Dengan Penuh semangat mereka menyanyikan dua buah lagi dengan penuh semangat. Dari segi kualitas suara tentunya Gadis sebelumnya lebih berbobot, namun dari segi usaha menarik perhatian penumpang, mereka memang jagonya.
Bagaimana tidak, mereka masih kecil..yah, berumur sekita 6-8 tahun dan dari tingkah polahnya mereka sangat atraktif. Yah..ini terlihat dari para penumpang yang memasang wajah simpati kepada anak-anak itu.
Namu, saat itu aku pun memutuskan untuk tidak memberikan sepeser pun kepada mereka. Karena menurutku akan menjadi suatu tindak pembodohan bagi mereka. Bagaimana tidak, dari segi penampilan, mereka masih bisa memakai baju dengan gambar karakter-karakter kartun yang sekarang ini sedang terkenal ditambah dengan kepemilikan gitar dan jembe kecil yang aku rasa harganya tidaklah murah.
Setelah anak-anak itu turun dari bus kami, baru seratus meter sudah naik lagi pengamen yang ketiga. Dan kali ini makin membuatku tecengang. Bagaimana tidak, yang naik adalah seorang pria yang aku rasa berumur 35 tahun, berpostur kurus tinggi, berkulit putih bersih dan berkaca mata.
"Wuah..keterlaluan sekali"kataku dalam hati.
Laki-laki itu atau lebih tepatnya bapak itu memulai aksinya dalam menyanyi. Namun, suranya sangat kecil dan terdengar seperti berbisik. Dia bernyanyi sambil bertepuk tangan. Itu pun tepukan tangannya sangat lemah dan tak terdengar sama sekali.
Wuah, aku pesimis sekali pengamen yang satu ini akan dapat merebut perhatian dan belas kasih para penumpang. Bagaimana tidak, dia terlihat kurang berusaha dengan suaranya yang sangat lirih dan lemas.
Aku mencoba memperhatikan pengamen itu dan mencoba menebak apa yang membuat dia mengamen. Bukankah dia masih sehat dan bisa mencari pekerjaan lain yang lebih menghasilkan uang.
Dalam diamku memperhatikannya, tiba-tiba aku lihat matanya berkaca dan terlihat menahan tangis dalam hati. Yah.. aku bisa merasakan kesedihan dalam matanya yang sedang menerawang langit-langit bus kami.
Lalu, kuperhatikan lebih lekat lagi, tubuhnya sangat kurus dan terlihat tulang-tulangnya deangn jelas. Bibirnya pun pucat seperti belum makan seharian ini. Lalu kulihat kantung celananya tipis tak berisikan uang receh hasil mengamen.
Aku benar-benar bisa melihat kelelahan dan kesedihan di matanya. Aku membayangkan dia adalah salah satu korban PHk yang sedang marak terjadi dan harus tetap bertahan hidup dengan mengamen walaupun harus menurunkan harga dirinya.
Terlihat benar, bahwa dia tidak biasa mengamen dan sangat lapar malam itu.
Pikiranku langsung melayang membayangkan bagaimana bila ayahku yang berada dalam posisi laki-laki itu. Dan melihat matanya, tiba-tiba aku pun ikut sedih dan ingin menangis. Sungguh sangat menyakitkan hati melihatnya.
Lalu benar saja, para penumpang tak terlihat antusias dan tertarik dengan aksinya malam itu. Namun, perasaan kasih dalam hatiku sangat dalam melihat kesedihan di matanya. Untuk itu, ku coba sedikit membantunya dengan memberikan selembar uang seribu yang mungkin dapat membantunya untuk membeli sedikit makanan di malam yang dingin ini.
Sunday, February 08, 2009
Bertahan
Aku Bertahan
- Rio Febrian -
Sedih…
Ku tahu kini perasaanmu…
kepadaku..
Sedih..
Saat engkau tak yakin kepadaku..
akan cintaku..
Jalan Berliku takkan membuatku..
Menyerah akan cinta kita..
Tatap mataku dan kau akan tahu..
semuanya yang kurasakan..
Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu..
sesering kau coba tuk mematikan hatiku..
takkan terjadi karna ku tahu kau hanya untukku..
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
sekeras kau coba tuk membunuh cintaku..
dan aku tahu kau hanya untukku…
Tatap mataku dan kau akan tahu…
Semuanya yang kurasakan….
Aku bertahan karna ku yakin cintaku kepadamu..
sesering kau coba tuk mematikan hatiku..
takkan terjadi karna ku tahu kau hanya untukku..
Aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
sekeras kau coba tuk membunuh cintaku..
dan aku tahu kau hanya untukku…
Aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku
sekeras kau coba tuk membunuh cintaku..
dan aku tahu kau hanya untukku…
Masih Cinta
Masih Cinta
- Kotak -
Intro : A E F#m 2x
E C#m
Tik,.,tik,.,.tik
F#m B
Waktu berdetik
G#m C#m A B
Tak mungkin bisa ku hentikan
E C#m F#m B
Maumu jadi mauku
G#m C#m A B
Pahitpun itu ku tersenyum
A B G#m C#
Kamu tak tahu rasanya hatiku
F#m B E
Saat berhadapan kamu
E C#m
Tik,.,tik,.,.tik,.,.
F#m B
Air mataku
G#m C#m A B
Biar terjatuh dalam hati
E C#m F#m B
Mau ku tak penting lagi
G#m C#m A B
Biar ku buat bahagiamu
A B G#m C#
Kamu tak tahu rasanya hatiku
F#m B E
Saat berhadapan kamu
A B G#m C#
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
F#m Am B A
Jadi diriku, yang masih cinta
interlude : A G#m F#m 2x B
A B G#m C#
Kamu tak tahu hancurnya hatiku
F#m B E
Saat berhadapan kamu
A B G#m C#
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
F#m Am B E
Jadi diriku, yang masih cinta
Code : F#m A D
Cinta Cuma Satu
Cinta Cuma Satu
- Nindy -
Telah aku maafkan
Semua kesalahanmu
Asal kau mau berjanji
Tidak mengulangnya lagi
* Telah aku terima
Sakitnya dikhianati
Sedalam cintaku ini
Selama hidupku ini
Hatiku cuma ada satu
Sudah untuk mencintaimu
Tolong jangan sakiti lagi
Nanti aku bisa mati
Cintaku cuma sama kamu
Sayangku cuma untuk kamu
Tolong jangan hancurkan lagi
Nanti aku bisa mati
Back to *
Monday, December 22, 2008
Potret Kehidupan
Di suatu sabtu sore, Pacarku mengajak aku untuk makan malam bersama menghabiskan malam minggu berdua. Karena cuaca dan angin pada sore itu memiliki intensitas yang cukup tinggi, maka kami berdua memutuskan untuk makan di suatu food court di sebuah kawasan Giant Hypertmart yang berada dekat dengan rumahku. Sebetulnya aku kurang suka ke sana, karena aku kurang setuju dengan pembangunan dari tempat perbelanjaan itu. Memang di daerah rumahku, yaitu Pulo Gebang-Cakung, terdapat beberapa kompleks perumahan dari yang medium sampai yang sangat mewah. Dan aku mengerti bahwa tempat perbelanjaan itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan dari para penghuni di beberapa kompleks perumahan itu. Namun, yang sangat aku sesalkan, pusat perbelanjaan itu dibangun di areal yang dekat dengan pemukiman penduduk yang aku tau bahwa tingkat ekonomi mereka di bawah tingkat sejahtera. Aku merasa keberadaan pusat perbelanjaan tersebut memaksa penduduk sekitar, untuk lebih konsumtif dan mengikuti gaya hidup metropolis. Namun, yah apalah arti ketidaksetujuanku. Toh, aku tak bisa berbuat banyak dengan semua keputusan bisnis itu.
Kembali ke makan malam, saat itu, kami berdua tertarik untuk mencicipi dua porsi nasi dan ayam bakar serta seporsi cap cay untuk kami berdua.
Kami berdua sangat menikmati hidangan yang tersedia pada sore itu. Ditambah dengan rasa kangen karena seminggu tidak bertemu. Kami makan dengan lahap sambil berbicang seputar aktivitas kami seminggu terakhir.
Setelah makan selesai, kami memutuskan untuk tetap tinggal di bangku duduk untuk beberapa waktu sambil menurunkan makanan dalam perut kami. Tiba-tiba ditengah perbincangan kami pacarku mengajakku untuk menajamkan observasi kami, terhadap dua anak yang menarik perhatiannya. Memang harus kuakui, semenjak berpacaran denganku yang sarjana Psikologi ini, pacarku sedikit menyerap kemampuanku untuk mengobservasi orang lain. Maka jadilah dia seorang sarjana Teknik Elektro yang memiliki pengawasan tajam terhadap situasi dan kondisi orang lain..
Lalu kami mulai menajamkan konsentarsi untuk observasi. Pacarku memulai instruksinya,
“Coba deh kamu lihat dua anak kecil itu”
“yang mana”, sahutku
“Yang pakai kaos orange dan yang pake kaos hitam”, katanya menambahkan
“Oh yang itu, kanapa mereka?”, lanjutku
“Dari tadi aku perhatiin mereka. Mereka masa' dari tadi muter-muter dan ambil makanan bekas orang lain yang masih sisa di sini”, katanya
“Masa' sih?” jawabku tak percaya.
“Iyah, dari tadi aku perhatiin mereka begitu..tuh..tuh..lihat mereka ambil jus sisa orang yang meja itu. Mereka minum. Jus nya tinggal segini.” katanya menambahkan sambil menunjukkan kira-kira sisa jus yang tersisa di gelas itu dengan ibu jari dan telunjuk dari tangan kirinya.
Lalu kami sepakat untuk tetap tinggal di situ beberapa waktu lagi sambil memperhatikan tingkah kedua anak yang ditunjuk oleh pacarku. Kedua anak itu terlihat berumur 8 atau 9 tahun, yah, sekitar kelas 2 atau 3 SD. Memang sih, aku melihat kalau mereka sempat berjalan keliling area food court tempat kami makan. Namun, bila dilihat dari penampilan mereka yang sangat rapi dan bersih tak terlihat seperti mereka kekurangan uang untuk membeli makanan. Lagipula, aku lihat mereka sesekali berada di tempat bermain yang telah disediakan oleh pihak pengelola.
Namun, beberapa menit kemudian, aku sempat dikejutkan oleh suatu kenyataan yang langsung kulihat dengan mata kepala ku sendiri.
Dua anak itu mereka sambil bercanda, namun seakan mata mereka begitu sigap dan sedang mengambil ancang-ancang untuk bergerak. Lalu, mereka sambil bercanda berjalan ke arah tengah dari area food court itu. Dengan secepat kilat mereka mengambil sepotong ayam goreng yang sudah setengah termakan sisa dari pemilik makanan sebelumnya. Lalu mereka dengan santainya berjalan keluar area food court untuk menikmati ayam sisa hasil tangkapan mereka. Seketika itu juga aku terkejut melihat apa yang terjadi. Apa yang mereka lakukan? Kemana orang tua mereka? Apa rasanya makan sisa makanan orang lain yang tidak mereka kenal?
Seketika itu juga aku ingin menghampiri mereka dan menanyakan mengapa mereka melakukan hal itu? Rasanya miris hatiku melihat kejadian itu. Kalau mereka memang lapar, aku tak segan membuka dompetku untuk membelikan mereka sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk yang mereka suka.
Aku sudah berdiri dengan dompet di tanganku. Namun, tangan pacarku menahan aku.
“Nanti dulu yank... kita panggil aja anaknya ke sini. Biar bisa kita ajak ngobrol juga. Nih, aku panggil yah.”, katanya, sambil melambaikan tangan.
Lalu, kupikirkan sejenak. Betul juga, lebih baik kita memanggil mereka ke tempat kami daripada saat kuhampiri mereka menjadi ketakutan. Dalam keadaan masih berdiri dan memegang dompet, aku juga ikut melambaikan tangan ke arah mereka. Namun, mereke tidak melihat lambaian tangan kami.
Lalu, aku kembali duduk sambil melihat dan mengawasi ke arah mereka.
“Duh, kasian sekali mereka. Aku gak tega yank melihat mereka makan bekas makanan orang.” kataku.
“sudah aku samperin saja.” lanjutku.Pikirku, lebih naik disangka penculik anak daripada aku tega membiarkan mereka mengambil sisa makanan orang lain dan mengendap-endap seperti pencuri.
“Iyah, bener. Aku cuma takut mereka kebiasaan makan dan ngambil makanan sisa orang. Mungkin ini baru hal kecil, tapi kalau terus begitu, bisa-bisa mereka nekat ngambil di Giant lagi.” kata pacarku menambahkan.
“Ya udah lah, aku samperin mereka ajah. Kita kasih makan. Toh, cuma dua orang ajah. Masih cukup kok uangnya.” kataku lagi.
“aku cuma kasihan. Kan gak tau apa ada penyakit yang terjangkit di bekas makanan itu.” kataku menambahakn, sambil bersiap menghampiri mereka lagi.
Namun, kulihat, ternyata saat ingin kuhampiri, mereka malah menjauh dan masuk kembali dalam arena permainan bersama dengan teman-teman mereka yang lain yang jumlahnya menjadi sekitar 10orang. Mereka kembali masuk dan tertawa bersama yang lain, seakan sudah kembali bertenaga dan siap bertarung dalam arena permainan gratis itu.
Kembali ke makan malam, saat itu, kami berdua tertarik untuk mencicipi dua porsi nasi dan ayam bakar serta seporsi cap cay untuk kami berdua.
Kami berdua sangat menikmati hidangan yang tersedia pada sore itu. Ditambah dengan rasa kangen karena seminggu tidak bertemu. Kami makan dengan lahap sambil berbicang seputar aktivitas kami seminggu terakhir.
Setelah makan selesai, kami memutuskan untuk tetap tinggal di bangku duduk untuk beberapa waktu sambil menurunkan makanan dalam perut kami. Tiba-tiba ditengah perbincangan kami pacarku mengajakku untuk menajamkan observasi kami, terhadap dua anak yang menarik perhatiannya. Memang harus kuakui, semenjak berpacaran denganku yang sarjana Psikologi ini, pacarku sedikit menyerap kemampuanku untuk mengobservasi orang lain. Maka jadilah dia seorang sarjana Teknik Elektro yang memiliki pengawasan tajam terhadap situasi dan kondisi orang lain..
Lalu kami mulai menajamkan konsentarsi untuk observasi. Pacarku memulai instruksinya,
“Coba deh kamu lihat dua anak kecil itu”
“yang mana”, sahutku
“Yang pakai kaos orange dan yang pake kaos hitam”, katanya menambahkan
“Oh yang itu, kanapa mereka?”, lanjutku
“Dari tadi aku perhatiin mereka. Mereka masa' dari tadi muter-muter dan ambil makanan bekas orang lain yang masih sisa di sini”, katanya
“Masa' sih?” jawabku tak percaya.
“Iyah, dari tadi aku perhatiin mereka begitu..tuh..tuh..lihat mereka ambil jus sisa orang yang meja itu. Mereka minum. Jus nya tinggal segini.” katanya menambahkan sambil menunjukkan kira-kira sisa jus yang tersisa di gelas itu dengan ibu jari dan telunjuk dari tangan kirinya.
Lalu kami sepakat untuk tetap tinggal di situ beberapa waktu lagi sambil memperhatikan tingkah kedua anak yang ditunjuk oleh pacarku. Kedua anak itu terlihat berumur 8 atau 9 tahun, yah, sekitar kelas 2 atau 3 SD. Memang sih, aku melihat kalau mereka sempat berjalan keliling area food court tempat kami makan. Namun, bila dilihat dari penampilan mereka yang sangat rapi dan bersih tak terlihat seperti mereka kekurangan uang untuk membeli makanan. Lagipula, aku lihat mereka sesekali berada di tempat bermain yang telah disediakan oleh pihak pengelola.
Namun, beberapa menit kemudian, aku sempat dikejutkan oleh suatu kenyataan yang langsung kulihat dengan mata kepala ku sendiri.
Dua anak itu mereka sambil bercanda, namun seakan mata mereka begitu sigap dan sedang mengambil ancang-ancang untuk bergerak. Lalu, mereka sambil bercanda berjalan ke arah tengah dari area food court itu. Dengan secepat kilat mereka mengambil sepotong ayam goreng yang sudah setengah termakan sisa dari pemilik makanan sebelumnya. Lalu mereka dengan santainya berjalan keluar area food court untuk menikmati ayam sisa hasil tangkapan mereka. Seketika itu juga aku terkejut melihat apa yang terjadi. Apa yang mereka lakukan? Kemana orang tua mereka? Apa rasanya makan sisa makanan orang lain yang tidak mereka kenal?
Seketika itu juga aku ingin menghampiri mereka dan menanyakan mengapa mereka melakukan hal itu? Rasanya miris hatiku melihat kejadian itu. Kalau mereka memang lapar, aku tak segan membuka dompetku untuk membelikan mereka sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk yang mereka suka.
Aku sudah berdiri dengan dompet di tanganku. Namun, tangan pacarku menahan aku.
“Nanti dulu yank... kita panggil aja anaknya ke sini. Biar bisa kita ajak ngobrol juga. Nih, aku panggil yah.”, katanya, sambil melambaikan tangan.
Lalu, kupikirkan sejenak. Betul juga, lebih baik kita memanggil mereka ke tempat kami daripada saat kuhampiri mereka menjadi ketakutan. Dalam keadaan masih berdiri dan memegang dompet, aku juga ikut melambaikan tangan ke arah mereka. Namun, mereke tidak melihat lambaian tangan kami.
Lalu, aku kembali duduk sambil melihat dan mengawasi ke arah mereka.
“Duh, kasian sekali mereka. Aku gak tega yank melihat mereka makan bekas makanan orang.” kataku.
“sudah aku samperin saja.” lanjutku.Pikirku, lebih naik disangka penculik anak daripada aku tega membiarkan mereka mengambil sisa makanan orang lain dan mengendap-endap seperti pencuri.
“Iyah, bener. Aku cuma takut mereka kebiasaan makan dan ngambil makanan sisa orang. Mungkin ini baru hal kecil, tapi kalau terus begitu, bisa-bisa mereka nekat ngambil di Giant lagi.” kata pacarku menambahkan.
“Ya udah lah, aku samperin mereka ajah. Kita kasih makan. Toh, cuma dua orang ajah. Masih cukup kok uangnya.” kataku lagi.
“aku cuma kasihan. Kan gak tau apa ada penyakit yang terjangkit di bekas makanan itu.” kataku menambahakn, sambil bersiap menghampiri mereka lagi.
Namun, kulihat, ternyata saat ingin kuhampiri, mereka malah menjauh dan masuk kembali dalam arena permainan bersama dengan teman-teman mereka yang lain yang jumlahnya menjadi sekitar 10orang. Mereka kembali masuk dan tertawa bersama yang lain, seakan sudah kembali bertenaga dan siap bertarung dalam arena permainan gratis itu.
Monday, September 22, 2008
Dunia Baru
Uhmm... Sudah benar-benar lama aku tak masuk dan bercorat-coret di blog ini. Tak terasa 2 tahun sudah tidak pernah kutengok halaman site ini.
Sekarang sudah masuk dunia dan babak baru dalam hidup. Setelah tanggal 23 Juni 2008 meloloskan diri dari lubang tikus yang kusebut dengan ujian akhir skripsi, aku pun berhasil membanggakan kedua orang tua ku dan menjadi sarjana..
Setelah itu aku pun memutuskan untuk menikmati dulu masa kesarjanaanku dengan tak buru-buru mencar kerja..Sebulan kemudian, aku pun sudah berubah status menjadi seorang "Lebah Pekerja'. Tepatnya tanggal 23 Juli 2008. Mulai tanggal itu kucoba lakoni babk baru sebagai seorang Lebah Pekerja dengan obsesi mencari dan mengumpulkan seonggok semi seonggok berlian..hehehehe...
Bekerja..bekerja..bekerja..dan mencari seonggok berlian. Berusaha menjajal ilmu dan pengetahuan selama kuliah dalam dunia baru yang namanya BEKERJA. dan ternyata babk baru ini tidak seindah yang pernah ada dalam mimpi dan angan. Babak baru ini benar-benar penuh dengan peluh dan air mata. Semua orang penuh dengan individualisme. Aku saja yang termasuk seorang individualis masih merasa bahwa babak ini sangat individualis. Di sini benar-benar menuras tenaga dan pikiran. dulu mungkin tiap detik kehidupanku kuusahakan demi berhasilnya tiap detik dalam hidupku. Tapi di sini tiap detik hidupku kuusahakan untuk bos ku.
Beberapa teman bertanya, "Gimana, kerja di sana, happy gak?"
Oh iya, untuk lebih memperjelas aku bekerja di sebuah perusahan konsultan SDM yang main core company ini adalah executive search atau lebih keren disebut Head Hunter.Aku dan tim ku bekerja mempertajam indera untuk mencari dan menemukan para manager atau direktur yang berpikir untuk mencari kesempatan yang lebih baik atau "Looking for another Good Opportunity" biasa kami menyebutnya begitu.
Oh iya, tentang Happy atau tidaknya, aku sendiri pun kadang bingung harus menjawab apa. Aku yangs eorang sarjana baru ini baru sekali ini bekerja, walaupun sebelumnya pernah magang, tapi ini benar-benar berbeda.
Sekali waktu aku berpikir, bukan pekerjaan seperti ini yang aku inginkan. Ini benar-benar di luar harapanku. Tapi sekali lagi, apa sih yang bisa dilakukan seorang sarjana baru seperti aku. Diterima bekerja saja sudah untung. Apalagi punya gaji yang cukup di atas standar sarjana lain. Tapi ini berbeda. Jujur saja aku tidak klop dengan suasana yang ada. Pekerjaan yang unstructure (yang cukup membuatku pusing kepala setiap harinya), bos yang terkadang lebih suka datang sore dan pulang malam, dan suasana kerja yang penuh gosip dan intrik (yang seringkali labih seru dibandingkan pekerjaanya). Tapi sekali lagi, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang sarjana baru seperti aku.
Sebulan pertama aku di sini, aku sudah sakit selama 2 minggu dengan hasil diagnosis dokter yang ternyata hanya SAKIT KARENA STRESS. fiuuhhh...alasan yang agak mistis menurutku. karena sang penyebab tak nampak seperti layaknya hantu. Dan sampai akhirnya aku merasionalisasi babak baru ku ini dengan berucap. "It's not bad. Because I realise that i must find a lot of experiences before i go strong".
So, Am I Happy now?
Sekarang sudah masuk dunia dan babak baru dalam hidup. Setelah tanggal 23 Juni 2008 meloloskan diri dari lubang tikus yang kusebut dengan ujian akhir skripsi, aku pun berhasil membanggakan kedua orang tua ku dan menjadi sarjana..
Setelah itu aku pun memutuskan untuk menikmati dulu masa kesarjanaanku dengan tak buru-buru mencar kerja..Sebulan kemudian, aku pun sudah berubah status menjadi seorang "Lebah Pekerja'. Tepatnya tanggal 23 Juli 2008. Mulai tanggal itu kucoba lakoni babk baru sebagai seorang Lebah Pekerja dengan obsesi mencari dan mengumpulkan seonggok semi seonggok berlian..hehehehe...
Bekerja..bekerja..bekerja..dan mencari seonggok berlian. Berusaha menjajal ilmu dan pengetahuan selama kuliah dalam dunia baru yang namanya BEKERJA. dan ternyata babk baru ini tidak seindah yang pernah ada dalam mimpi dan angan. Babak baru ini benar-benar penuh dengan peluh dan air mata. Semua orang penuh dengan individualisme. Aku saja yang termasuk seorang individualis masih merasa bahwa babak ini sangat individualis. Di sini benar-benar menuras tenaga dan pikiran. dulu mungkin tiap detik kehidupanku kuusahakan demi berhasilnya tiap detik dalam hidupku. Tapi di sini tiap detik hidupku kuusahakan untuk bos ku.
Beberapa teman bertanya, "Gimana, kerja di sana, happy gak?"
Oh iya, untuk lebih memperjelas aku bekerja di sebuah perusahan konsultan SDM yang main core company ini adalah executive search atau lebih keren disebut Head Hunter.Aku dan tim ku bekerja mempertajam indera untuk mencari dan menemukan para manager atau direktur yang berpikir untuk mencari kesempatan yang lebih baik atau "Looking for another Good Opportunity" biasa kami menyebutnya begitu.
Oh iya, tentang Happy atau tidaknya, aku sendiri pun kadang bingung harus menjawab apa. Aku yangs eorang sarjana baru ini baru sekali ini bekerja, walaupun sebelumnya pernah magang, tapi ini benar-benar berbeda.
Sekali waktu aku berpikir, bukan pekerjaan seperti ini yang aku inginkan. Ini benar-benar di luar harapanku. Tapi sekali lagi, apa sih yang bisa dilakukan seorang sarjana baru seperti aku. Diterima bekerja saja sudah untung. Apalagi punya gaji yang cukup di atas standar sarjana lain. Tapi ini berbeda. Jujur saja aku tidak klop dengan suasana yang ada. Pekerjaan yang unstructure (yang cukup membuatku pusing kepala setiap harinya), bos yang terkadang lebih suka datang sore dan pulang malam, dan suasana kerja yang penuh gosip dan intrik (yang seringkali labih seru dibandingkan pekerjaanya). Tapi sekali lagi, apa sih yang bisa dilakukan oleh seorang sarjana baru seperti aku.
Sebulan pertama aku di sini, aku sudah sakit selama 2 minggu dengan hasil diagnosis dokter yang ternyata hanya SAKIT KARENA STRESS. fiuuhhh...alasan yang agak mistis menurutku. karena sang penyebab tak nampak seperti layaknya hantu. Dan sampai akhirnya aku merasionalisasi babak baru ku ini dengan berucap. "It's not bad. Because I realise that i must find a lot of experiences before i go strong".
So, Am I Happy now?
Monday, June 26, 2006
Tak Pernah Menyesal
Aku kangen Dia yang pernah memeluk ku hangat..
Aku kangen Dia yang sejukkan jiwa dengan tatap matanya..
Aku kangen Dia yang pernah marah akan sifat kanak-kanak ku..
Aku kangen Dia yang pernah beri harapan cairkan hati ini..
Aku kangen duduk di samping Dia yang pernah membuat ku tertawa ceria dan menangis karena cinta..
Aku kangen Dia yang pernah ajar ku arti hidup..
dan Aku tak pernah menyesal untuk selalu kangen Dia walau ada sesal dalam hatinya..
Aku kangen Dia..
Aku kangen Dia yang sejukkan jiwa dengan tatap matanya..
Aku kangen Dia yang pernah marah akan sifat kanak-kanak ku..
Aku kangen Dia yang pernah beri harapan cairkan hati ini..
Aku kangen duduk di samping Dia yang pernah membuat ku tertawa ceria dan menangis karena cinta..
Aku kangen Dia yang pernah ajar ku arti hidup..
dan Aku tak pernah menyesal untuk selalu kangen Dia walau ada sesal dalam hatinya..
Aku kangen Dia..
Tak Akan Pernah Terganti
...hmmmm...dah lama saya tidak menulis di blog ini...kangen juga deh...
ternyata selama ini banyak peristiwa terjadi yang belum saya ungkapkan di blog ini...
sudah kurang lebih tiga bulan ini saya menjomblo...hmmm...begini toh rasanya sakit akibat cinta...jujur..ini baru pertama kalinya saya bersedih hati yang amat mendalam karena patah hati..memang ini bukan kali pertamanya saya putus hubungan dengan seorang pria..tapi ternyata kali pertamanya saya benar-benar hancur karena cinta...
masih segar dalam ingatan saya betapa saya gak bisa makan...air mata yang gak pernah berhenti mengucur di pipi saya...bahkan sampai-sampai otak dan jiwa ini benar-benar hampa rasanya...
satu hari seorang teman pernah berucap kepada saya..."des..memang yang namanya obat rasanya pahit,tapi untuk bisa sembuh loe harus mau minum obat yang pahit itu." entah kenapa bagai disambar petir di siang hari...ucapan simple tapi penuh makna ini membuat saya berpikir...dan mulai saat itu saya memutuskan untuk MOVE ON dari semua yang ada.
tapi...lagi-lagi ternyata tak semudah membalikkan tempe dalam penggorengan...sampai saat ini pun berat masih terasa di dada saya...kemarin saya pergi untuk berlibur ke carita...dan saya masih ingat betul bagaimana melankolisnya diri ini saat saya teringat pernah duduk berdua dengan dia memandang indahnya pemandangan...dalam hati saya masih berharap suatu keajaiban muncul dan jujur saya masih mengharapkan dia kembali...
ribuan bahkan jutaan kali saya meyakinkan diri bahwa BERPISAH merupakan jalan terbaik bagi kami...dan jutaan kali saya mencoba melupakan rasa ini...namun jutaan kali juga rasa sayang ini terus muncul dan berkecamuk dalam jiwa...
akhirnya saya mengerti...
ternyata dia memang TAK AKAN PERNAH TERGANTI
untuk mas Hendro Ardianto...
aku sayang kamu...
ternyata selama ini banyak peristiwa terjadi yang belum saya ungkapkan di blog ini...
sudah kurang lebih tiga bulan ini saya menjomblo...hmmm...begini toh rasanya sakit akibat cinta...jujur..ini baru pertama kalinya saya bersedih hati yang amat mendalam karena patah hati..memang ini bukan kali pertamanya saya putus hubungan dengan seorang pria..tapi ternyata kali pertamanya saya benar-benar hancur karena cinta...
masih segar dalam ingatan saya betapa saya gak bisa makan...air mata yang gak pernah berhenti mengucur di pipi saya...bahkan sampai-sampai otak dan jiwa ini benar-benar hampa rasanya...
satu hari seorang teman pernah berucap kepada saya..."des..memang yang namanya obat rasanya pahit,tapi untuk bisa sembuh loe harus mau minum obat yang pahit itu." entah kenapa bagai disambar petir di siang hari...ucapan simple tapi penuh makna ini membuat saya berpikir...dan mulai saat itu saya memutuskan untuk MOVE ON dari semua yang ada.
tapi...lagi-lagi ternyata tak semudah membalikkan tempe dalam penggorengan...sampai saat ini pun berat masih terasa di dada saya...kemarin saya pergi untuk berlibur ke carita...dan saya masih ingat betul bagaimana melankolisnya diri ini saat saya teringat pernah duduk berdua dengan dia memandang indahnya pemandangan...dalam hati saya masih berharap suatu keajaiban muncul dan jujur saya masih mengharapkan dia kembali...
ribuan bahkan jutaan kali saya meyakinkan diri bahwa BERPISAH merupakan jalan terbaik bagi kami...dan jutaan kali saya mencoba melupakan rasa ini...namun jutaan kali juga rasa sayang ini terus muncul dan berkecamuk dalam jiwa...
akhirnya saya mengerti...
ternyata dia memang TAK AKAN PERNAH TERGANTI
untuk mas Hendro Ardianto...
aku sayang kamu...
You and I Both
You and I Both
Jason Mraz
Was it you who spoke the words that things would happen but not to me
Oh things are gonna happen naturally
And taking your advice I'm looking on the bright side
And balancing the whole thing
But often times those words get tangled up in lines
And the bright lights turn to night
Until the dawn it brings
A little bird who'll sing about the magic that was you and me
Cause you and I both loved
What you and I spoke of
What you and I spoke of
Others only dream of the love that I love
See I'm all about them words
Over numbers, unencumbered numbered words
Hundreds of pages, pages, pages forwards
More words then I had ever heard and I feel so alive
Now you and I, you and I
Not so little you and I anymore
And with this silence brings a moral story
more importantly evolving is the glory of a boy
you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I'm already finally out of
and it's okay if you have go away
just remember the telephone works both ways
and if I never ever hear it ring
if nothing else I'll think the bells inside
have finally found you someone else and that's okay
cause I'll remember everything you sang
you and I both loved what you and I spoke of
and others just read of and if you could see now
well I'm already finally out of words.
dedicated for someone i love much...
Wednesday, October 26, 2005
LUAPAN RASA JIWA
Ternyata memang benar sakit gigi lebih baik daripada sakit hati...Hati yang telah terluka sulit untuk kembali menjadi segar berseri...mengapa...???mengapa hal ini terjadi...?
Semua hal seakan menjadi hilang bak embun pagi terkena panas mentari...bak setitik nila yang merusak susu sebelanga...Kata hati ini ingin sudahi semua...tapi mengapa sulit untuk berkata IYA...!!!
Aku tak tahu apa yang telah terjadi.. ternyata rasa yang selama ini ada tak dapat perbaiki semua...aku ingin teriakan semua...ingin kumaki setiap makhluk di dunia..aku butuh pelampiasan. ternyata ini tak semudah yang terbayangkan...orang yang telah lama bersama seakan tak butuh lagi.
setiap orang punya lebih dan kurang masing-masing.. dan aku pun tak pernah ingin merusak ataupun mengacak-acak semua yang pernah tercipta...tapi apakah rasa ini tidak pantas untuk mendapat hak lebih...
AKU BUKAN DEWA...AKU BUKAN MALAIKAT...AKU BUKAN TUHAN... AKU JUGA MANUSIA BIASA YANG PENUH ALPHA DAN DOSA...
kata orang dalam suatu hubungan hanya butuh TOLERANSI...!!!dan begitu pun pikir ku...tapi ternyata ini tidak dapat menjadi modal yang cukup berarti. TOLERANSI tak dapat cairkan hati ini yang sudah terlanjur beku...tak dapat hangatkan dan jadikan ceria hidup yang penuh kelu....sungguh semua hal yang sudah terTOLERANSIkan runtuh akibat bom yang begitu dahsyatnya...runtuh dalam hitungan SATU...walau kucoba untuk berpikir dan merasa...diri ini lebih tinggi daripada hati...
kuakui sulit tuk lepas semua..apalagi dengan semua rencana yang telah terangkai...rasa ini...rasa sayang bercampur benci...
JAHATKAH AKU BILA TETAP BEGINI....LAKNATKAH AKU UNTUK TAK TERSENYUM KEMBALI...IBLISKAH AKU DENGAN SEMUA RASA INI....
KUAKUI SULIT UNTUK SEPERTI DULU...TERTAWA DAN MENANGIS BERSAMA...UNTUK MENGERTI DAN PAHAMI SEMUA...
TERSERAH...MAU BIACARA APA....TAPI WALAUPUN PANAS TELAH MUSNAHKAN SEGARNYA EMBUN...WALAUPUN BELANGA TAK DAPAT KEMBALIKAN RUSAKNYA SUSU...
DALAM HATIKU AKU TETAP SAYANG KAMU
Semua hal seakan menjadi hilang bak embun pagi terkena panas mentari...bak setitik nila yang merusak susu sebelanga...Kata hati ini ingin sudahi semua...tapi mengapa sulit untuk berkata IYA...!!!
Aku tak tahu apa yang telah terjadi.. ternyata rasa yang selama ini ada tak dapat perbaiki semua...aku ingin teriakan semua...ingin kumaki setiap makhluk di dunia..aku butuh pelampiasan. ternyata ini tak semudah yang terbayangkan...orang yang telah lama bersama seakan tak butuh lagi.
setiap orang punya lebih dan kurang masing-masing.. dan aku pun tak pernah ingin merusak ataupun mengacak-acak semua yang pernah tercipta...tapi apakah rasa ini tidak pantas untuk mendapat hak lebih...
AKU BUKAN DEWA...AKU BUKAN MALAIKAT...AKU BUKAN TUHAN... AKU JUGA MANUSIA BIASA YANG PENUH ALPHA DAN DOSA...
kata orang dalam suatu hubungan hanya butuh TOLERANSI...!!!dan begitu pun pikir ku...tapi ternyata ini tidak dapat menjadi modal yang cukup berarti. TOLERANSI tak dapat cairkan hati ini yang sudah terlanjur beku...tak dapat hangatkan dan jadikan ceria hidup yang penuh kelu....sungguh semua hal yang sudah terTOLERANSIkan runtuh akibat bom yang begitu dahsyatnya...runtuh dalam hitungan SATU...walau kucoba untuk berpikir dan merasa...diri ini lebih tinggi daripada hati...
kuakui sulit tuk lepas semua..apalagi dengan semua rencana yang telah terangkai...rasa ini...rasa sayang bercampur benci...
JAHATKAH AKU BILA TETAP BEGINI....LAKNATKAH AKU UNTUK TAK TERSENYUM KEMBALI...IBLISKAH AKU DENGAN SEMUA RASA INI....
KUAKUI SULIT UNTUK SEPERTI DULU...TERTAWA DAN MENANGIS BERSAMA...UNTUK MENGERTI DAN PAHAMI SEMUA...
TERSERAH...MAU BIACARA APA....TAPI WALAUPUN PANAS TELAH MUSNAHKAN SEGARNYA EMBUN...WALAUPUN BELANGA TAK DAPAT KEMBALIKAN RUSAKNYA SUSU...
DALAM HATIKU AKU TETAP SAYANG KAMU
Monday, June 20, 2005
Berjuang untuk Mengerti
Benci rasanya...saat harus selalu kompromi.
Apa ini benar2 rasa hatiku
Apa ini benar2 perasaanku
Apa benar2 kucinta dirinya
Rasanya sulit jalani semua
Penuh liku, rintang, dan ujian
Harus bagaimana lagi
Apakah dengan cara lalu dapat kuatasi semua
Kisruh di hati
Golak benar2 dahsyat
Malas hadapi semua
Harus berpikir
Harus rendahkan ego dan diri
Serendah-rendahnya!!!
Kutahu sulit lepaskanmu
Tapi tak kau pahamikah maksud ini
Kulakukan semua yang terbaik dariku
Agar bangga diri dan semua yang kucinta
Tapi...
Apa yang kudapat
Semuanya berusaha patahkan idealisme yang tercipta
Benarkah ini suka...
Benarkah ini cinta...
Benarkah ini sayang...
Aku tak tahu...
Yang kusadari kadang hati ini berontak dan katakan tidak
Lalu apa yang harus kulakukan
Rasa ini muncul begitu kuat
Dua kubu berseteru rebut sang hati
Say’...
Tahukah kamu...
Kuperjuangkan semua....
Agar kau mengerti...
Dan kuharap...
Engkau mau berjuang untuk mengerti...
Sayangku...
Apa ini benar2 rasa hatiku
Apa ini benar2 perasaanku
Apa benar2 kucinta dirinya
Rasanya sulit jalani semua
Penuh liku, rintang, dan ujian
Harus bagaimana lagi
Apakah dengan cara lalu dapat kuatasi semua
Kisruh di hati
Golak benar2 dahsyat
Malas hadapi semua
Harus berpikir
Harus rendahkan ego dan diri
Serendah-rendahnya!!!
Kutahu sulit lepaskanmu
Tapi tak kau pahamikah maksud ini
Kulakukan semua yang terbaik dariku
Agar bangga diri dan semua yang kucinta
Tapi...
Apa yang kudapat
Semuanya berusaha patahkan idealisme yang tercipta
Benarkah ini suka...
Benarkah ini cinta...
Benarkah ini sayang...
Aku tak tahu...
Yang kusadari kadang hati ini berontak dan katakan tidak
Lalu apa yang harus kulakukan
Rasa ini muncul begitu kuat
Dua kubu berseteru rebut sang hati
Say’...
Tahukah kamu...
Kuperjuangkan semua....
Agar kau mengerti...
Dan kuharap...
Engkau mau berjuang untuk mengerti...
Sayangku...
Suatu Persembahan Cinta
Chrisye feat ELEMENT
Jelas diriku
Tlah mencintaimu
Tak pernah kubiarkan
Apapun menyakiti hatimu
Cintaku....
Jelas hatiku
Tlah menyayangimu
Tak pernah ada rasa
Selain dirasakan
cintamu...
cintamu...
Reff:
Kau yang membuat diriku
Merasa berarti
Menjalani segalanya
Ku ingin bersamamu
Ku ingin cintamu
Untuk selamanya
Tulusnya cintamu
Tlah membuat hatiku
Mengerti slama ini
Yang kucari hanyalah
Dirimu.....
Kekasihku....
Bridge :
Tak akan kubiarkan
Kau jauh dari diriku
Hampa yang kurasa tanpamu
Dan tak akan kulepaskan
Semua tentang dirimu
Tak ingin kutanpa dirimu
......MANUSIA......
Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna. Dengan segala kemampuan plus hati nurani yang diberikan-Nya, manusia dapat berbuat apa saja sesuai dengan ingin dan rasanya.
Tapi egois dan sombong diri manusia membuat semua itu terlihat penuh arogansi yang tinggi. Entah mengapa, ketika seorang manusia merasa memiliki kemampuan jauh di atas sesamanya, seakan – akan dia dapat meremehkan semua makhluk di sekitarnya. Sampai – sampai lupa akan siapa Penciptanya...
Pernahkah kita melihat dan merefleksikan semua perbuatan yang kita lakukan. Apakah itu menoreh sebuah sakit hati pada sekitar kita? Apakah itu memang yang terbaik untuk kita dan sesama? Atau malah perbuatan kita bersifat necrophili, yang dapat menghancurkan hal di sekitar kita?
Suatu ketika dalam keseharian saya, seperti biasanya saya membuka mailling list yang merupakan media bagi anggota fakultas saya. Ketika asyik membaca messages yang baru di-post oleh teman – teman saya, perhatian saya tertuju pada satu message yang pemiliknya ridak saya kenal. Dalam isii pesan itu ternyata anak ini merupakan salah satu calon aggota fakultas kami di tahun ajran yang baru nanti. Dengan kata lain, dia adalah calon mahasiswa yang baru lulus dari SMU tentunya.
Si calon ini ternyata cukup berani “nyemplung” dalam media komunikasi maya kami. Beberapa artikel yang dia post ada yang cukup berbobot ada juga yang sekedar memberi komentar dan perkenalan diri. Tak disangka, tak dinanya, anak ini yang awalnya hanya memberi artikel yang berisi hal – hal tidak jelas, ikut mengomentari hal yang seharusnya belum pantas dia komentari. Tentu saja komentar – komentar yang dilancarkannya itu seketika menimbulkan reaksi yang sangat dahsyat dari kami para penghuni group ini.
Satu per satu dari kami pun berusaha untuk mengkomunikasikan kepada “si calon” untuk berhati-hati bila berbicara. Tanpa mengurangi rasa keterkejutan kami akan perbuatan anak ini, dia malahan menambah panas situasi dengan membalas sikap kami ini dengan sok tahu yang kadarnya lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan sungguh amat percaya diri, anak ini malah berusaha menjual dirinya yang nota bene katanya memiliki kemampuan di bidang supranatural.
Hmmm....hari gini masih ada aja loh yang percaya dengan hal – hal gaib seperti jin, ramalan, dukun, dll. Dan yang membuat kami bertambah sengit adalah “si calon” yang merasa lebih dari kami bukannya merasa insyaf dengan perbuatannya, malahan dia mulai mengancam kami. Berusaha menempatkan dirinya lebih di atas kami.
Sejak kapankah derajat manusia berbeda-beda? Saya rasa manusia diciptakan sama dan setara di mata Tuhan. Dari kejadian yang saya alami itu, saya semakin berpikir dan merefleksikan diri saya. Manusia pasti memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada tiap individu. Tapi apakah karena perbedaan karunia ini manusia dapat semena-mena terhadap orang di sekitarnya?
Jadikanlah kelebihan dan kekurangan kita sebagai sarana saling melengkapi satu sama lain... Agar jadi indahlah dunia ini...
Tapi egois dan sombong diri manusia membuat semua itu terlihat penuh arogansi yang tinggi. Entah mengapa, ketika seorang manusia merasa memiliki kemampuan jauh di atas sesamanya, seakan – akan dia dapat meremehkan semua makhluk di sekitarnya. Sampai – sampai lupa akan siapa Penciptanya...
Pernahkah kita melihat dan merefleksikan semua perbuatan yang kita lakukan. Apakah itu menoreh sebuah sakit hati pada sekitar kita? Apakah itu memang yang terbaik untuk kita dan sesama? Atau malah perbuatan kita bersifat necrophili, yang dapat menghancurkan hal di sekitar kita?
Suatu ketika dalam keseharian saya, seperti biasanya saya membuka mailling list yang merupakan media bagi anggota fakultas saya. Ketika asyik membaca messages yang baru di-post oleh teman – teman saya, perhatian saya tertuju pada satu message yang pemiliknya ridak saya kenal. Dalam isii pesan itu ternyata anak ini merupakan salah satu calon aggota fakultas kami di tahun ajran yang baru nanti. Dengan kata lain, dia adalah calon mahasiswa yang baru lulus dari SMU tentunya.
Si calon ini ternyata cukup berani “nyemplung” dalam media komunikasi maya kami. Beberapa artikel yang dia post ada yang cukup berbobot ada juga yang sekedar memberi komentar dan perkenalan diri. Tak disangka, tak dinanya, anak ini yang awalnya hanya memberi artikel yang berisi hal – hal tidak jelas, ikut mengomentari hal yang seharusnya belum pantas dia komentari. Tentu saja komentar – komentar yang dilancarkannya itu seketika menimbulkan reaksi yang sangat dahsyat dari kami para penghuni group ini.
Satu per satu dari kami pun berusaha untuk mengkomunikasikan kepada “si calon” untuk berhati-hati bila berbicara. Tanpa mengurangi rasa keterkejutan kami akan perbuatan anak ini, dia malahan menambah panas situasi dengan membalas sikap kami ini dengan sok tahu yang kadarnya lebih tinggi dari sebelumnya. Dengan sungguh amat percaya diri, anak ini malah berusaha menjual dirinya yang nota bene katanya memiliki kemampuan di bidang supranatural.
Hmmm....hari gini masih ada aja loh yang percaya dengan hal – hal gaib seperti jin, ramalan, dukun, dll. Dan yang membuat kami bertambah sengit adalah “si calon” yang merasa lebih dari kami bukannya merasa insyaf dengan perbuatannya, malahan dia mulai mengancam kami. Berusaha menempatkan dirinya lebih di atas kami.
Sejak kapankah derajat manusia berbeda-beda? Saya rasa manusia diciptakan sama dan setara di mata Tuhan. Dari kejadian yang saya alami itu, saya semakin berpikir dan merefleksikan diri saya. Manusia pasti memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada tiap individu. Tapi apakah karena perbedaan karunia ini manusia dapat semena-mena terhadap orang di sekitarnya?
Jadikanlah kelebihan dan kekurangan kita sebagai sarana saling melengkapi satu sama lain... Agar jadi indahlah dunia ini...
Jujur TANPA PURA-PURA
(Semua usaha untuk jujur dengan DIRI telah kulakukan semua)
Terkadang sulit untuk dapatkan kejujuran diri
Yang sungguh jujur dari hati nurani
Ketika tahu akan mau sendiri
Belum tentu dapat dorong hati nurani tuk akui
Ternyata...
Jujur terhadap diri lebih sulit daripada terhadap sesama
Saat itu nurani benar-benar dipertaruhkan
Untuk lihat maksud terdalam
Kesampingan egois diri dan sombong hati
Lega rasa saat temukan beraninya rasa
Tuk runtuhkan ego akui semua
Fiuhhh....
Ini loh rasanya kejujuran
Ini loh rasanya bebas pura-pura
Ini loh rasanya ambil konsekuensi
Jujur...
Tidak bohong....
Tanpa pura-pura....
Mengerti semua....
Pahami semua....
Apa adanya....
Selami jiwa dan nurani
Tuk dapatkan indahnya....
Terkadang sulit untuk dapatkan kejujuran diri
Yang sungguh jujur dari hati nurani
Ketika tahu akan mau sendiri
Belum tentu dapat dorong hati nurani tuk akui
Ternyata...
Jujur terhadap diri lebih sulit daripada terhadap sesama
Saat itu nurani benar-benar dipertaruhkan
Untuk lihat maksud terdalam
Kesampingan egois diri dan sombong hati
Lega rasa saat temukan beraninya rasa
Tuk runtuhkan ego akui semua
Fiuhhh....
Ini loh rasanya kejujuran
Ini loh rasanya bebas pura-pura
Ini loh rasanya ambil konsekuensi
Jujur...
Tidak bohong....
Tanpa pura-pura....
Mengerti semua....
Pahami semua....
Apa adanya....
Selami jiwa dan nurani
Tuk dapatkan indahnya....
Monday, June 13, 2005
TERSERAH...!!!
Kesel...sebel...
Rasanya sulit hidup ini
Saat harus berbagi
Saat harus berkompromi
Saat harus tentukan pilihan
Entah apa rasa di hati
Marah
Benci
Kesal
Jadi satu
Mengapa harus kulalui ini
Tidak bisakah gunakan otak sendiri untuk tentukan tujuan!
Apa yang jadi prioritas!
Aku...
Benci saat harus memilih
Penuh tanggung jawab
Apalagi menyangkut orang lain dan di luar kehendakku
Apa kata orang saat pilihan itu malah menjerumuskan
Marah
Benci
Kesal
Entah harus kutujukan pada siapa?
Diri sendiri...?
Ini BUKAN masalahku..!!!
Dia...?
Apalagi....!
Wong aku yang tentukan pilihan...
Kisruh di hati
Malas lagi keluarkan kata-kata
TERSERAH...
Rasanya sulit hidup ini
Saat harus berbagi
Saat harus berkompromi
Saat harus tentukan pilihan
Entah apa rasa di hati
Marah
Benci
Kesal
Jadi satu
Mengapa harus kulalui ini
Tidak bisakah gunakan otak sendiri untuk tentukan tujuan!
Apa yang jadi prioritas!
Aku...
Benci saat harus memilih
Penuh tanggung jawab
Apalagi menyangkut orang lain dan di luar kehendakku
Apa kata orang saat pilihan itu malah menjerumuskan
Marah
Benci
Kesal
Entah harus kutujukan pada siapa?
Diri sendiri...?
Ini BUKAN masalahku..!!!
Dia...?
Apalagi....!
Wong aku yang tentukan pilihan...
Kisruh di hati
Malas lagi keluarkan kata-kata
TERSERAH...
Tuesday, May 17, 2005
Puisi Tentang Rasa
Rasa....
Datang dan pergi dalam hidupku
Rasa....
Beri arti setiap jejak langkahku
Rasa...
Buat ku tahu akan tiap makna
Ku pikir dapat taklukkan rasa
Lampaui kehendak seluruh rasa
Tutupi semua agar jadi sempurna
Pendam semua agar tak jadi derita
Nyatanya...
Kini kurasa semua
Semua yang dahulu dianggap tak bermakna
Semua yang dahulu terlihat mudah saja
Semua yang wakili egoisnya rasa
Saat cintaimu
Saat sayangimu
Saat rasa kecup indahmu
Saat rasa peluk hangatmu
Kumasuki dunia
Tinggalkan hal maya
Yang telah mengukung rasa hati
Menjadi tinggi diri
Kulihat indahnya dunia
Yang penuh liku dan problematika
Yang penuh dusta Tapi tanpa pura-pura
Datang dan pergi dalam hidupku
Rasa....
Beri arti setiap jejak langkahku
Rasa...
Buat ku tahu akan tiap makna
Ku pikir dapat taklukkan rasa
Lampaui kehendak seluruh rasa
Tutupi semua agar jadi sempurna
Pendam semua agar tak jadi derita
Nyatanya...
Kini kurasa semua
Semua yang dahulu dianggap tak bermakna
Semua yang dahulu terlihat mudah saja
Semua yang wakili egoisnya rasa
Saat cintaimu
Saat sayangimu
Saat rasa kecup indahmu
Saat rasa peluk hangatmu
Kumasuki dunia
Tinggalkan hal maya
Yang telah mengukung rasa hati
Menjadi tinggi diri
Kulihat indahnya dunia
Yang penuh liku dan problematika
Yang penuh dusta Tapi tanpa pura-pura
Sunday, May 15, 2005
MenCINTAi dan diCINTAi orang lain
Satu hal yang tidak dapat kita pungkiri adalah ketika kita telah mulai merasa jatuh cinta pada orang lain. Cinta sejuta maknanya...sejuta rasanya...itu yang dikatakan oleh kebanyakan orang.
Entah kenapa akhir – akhir ini saya semakin menyadari rasanya dicintai dan menyintai. Pengalaman akan dicintai dan mencintai orang lain secara tulus membuat saya belajar untuk mau jujur dan semakin memahami serta mengerti tentang perasaan yang ada di hati saya. Pengalaman dan sensasi ini membuat saya masuk dalam suatu dunia di mana tanpa kepura-puraan. Dunia di mana semua jujur dan saling terbuka satu sama lain agar mudahlah proses pengenalan masing – masing pribadi.
Dalam proses pengenalan pribadi oleh dua insan saling mencintai, yang lazim disebut pacaran ini, pasti akan terjadi macam – macam liku dan dilema. Di artikel saya yang berjudul “...Suka...Cinta...Sayang...”, diungkapkan bahwa pada tahap seseorang mencintai orang lain pasti dia akan mulai merasa untuk tidak mau kehilangan orang lain sebagai ungkapan rasa cintanya. Dengan berbagai usaha orang akan berjuang mati-matian agar dia tidak kehilangan orang yang dicintainya. Salah satunya adalah dengan membiarkan orang lain itu tahu pribadi dan besarnya perasaan pada orang itu. Dan hal tersebut akan dapat terjadi bila ada kejujuran terhadap perasaan dan hati nurani terdalam.
Saya sekarang memiliki seorang teman dekat. Hubungan kami sudah lima bulan berjalan dari 25 November 2004 yang lalu. Tentunya dalam lima bulan ini saya mencoba untuk terbuka dan jujur akan diri saya serta perasaan ini terhadap pacar saya itu. Baru – baru ini secara tidak sengaja saya mengungkap suatu hal yang mungkin menurut orang kebanyakan tidak masuk akal di depannya. Dan seperti kebanyakan orang lainnya, pacar saya terkejut mendengar kenyataan yang saya utarakan itu. Hari itu pun berakhir dengan tidak mengenakkan.
Saya sungguh sangat amat menyesal telah mengungkap hal yang seharusnya tidak perlu dia ketahui, karena hal ini merupakan suatu dari pribadi diri saya yang saya tutupi agar orang dapat memandang saya sebagai seorang manusia biasa seperti pada ukuran normalnya.
Semalaman saya memutar otak dan begitu menyesali kenyataan akan keadaan yang baru menimpa saya. Dan sampailah pada kesimpulan bahwa saya harus menyaring untuk menceritakan siapa saya seperti yang selama ini telah saya lakukan terhadap teman – teman saya.
Keesokan harinya, dengan segala kekalutan hati ini saya curhat pada sahabat saya. Dengan semua uneg – uneg di hati, saya menceritakan hal yang menimpa hubungan saya. Sebelum sahabat saya mengatakan kesimpulan atas masalah saya, saya mendahului dengan mengatakan kesimpulan yang sudah saya rumuskan sepanjang waktu istirahat malam saya. Sahabat saya pun langsung mengiyakan pendapat saya itu. Tapi setelah itu ada satu hal dari pendapat sahabat saya itu yang membuat saya terkejut. Dia mengatakan bahwa dia memang setuju pendapat saya, bila memang masalah itu bukan menimpa pada hubungan saya dan pacar saya, tapi bila saya berhubungan dengan orang lain di sekitar saya. Tapi ini berbeda, saya harus tetap jujur apapun kenyataannya terhadap orang yang menjalin hubungan khusus dengan saya. Ini merupakan proses pengenalan pribadi. Kalau memang ternyata pacar saya tidak dapat menerima kenyataan akan diri saya, berarti memang dia bukanlah orang yang tepat untuk saya.
Karena dalam suatu hubungan antar dua insan yang saling terikat dalam rasa cinta diperlukan kejujuran dan keterbukaan satu sama lain. Sehingga hal ini dapat saling memperkaya satu sama lain.
Dedicated to Hendro Ardianto...you know that i love you much...
Entah kenapa akhir – akhir ini saya semakin menyadari rasanya dicintai dan menyintai. Pengalaman akan dicintai dan mencintai orang lain secara tulus membuat saya belajar untuk mau jujur dan semakin memahami serta mengerti tentang perasaan yang ada di hati saya. Pengalaman dan sensasi ini membuat saya masuk dalam suatu dunia di mana tanpa kepura-puraan. Dunia di mana semua jujur dan saling terbuka satu sama lain agar mudahlah proses pengenalan masing – masing pribadi.
Dalam proses pengenalan pribadi oleh dua insan saling mencintai, yang lazim disebut pacaran ini, pasti akan terjadi macam – macam liku dan dilema. Di artikel saya yang berjudul “...Suka...Cinta...Sayang...”, diungkapkan bahwa pada tahap seseorang mencintai orang lain pasti dia akan mulai merasa untuk tidak mau kehilangan orang lain sebagai ungkapan rasa cintanya. Dengan berbagai usaha orang akan berjuang mati-matian agar dia tidak kehilangan orang yang dicintainya. Salah satunya adalah dengan membiarkan orang lain itu tahu pribadi dan besarnya perasaan pada orang itu. Dan hal tersebut akan dapat terjadi bila ada kejujuran terhadap perasaan dan hati nurani terdalam.
Saya sekarang memiliki seorang teman dekat. Hubungan kami sudah lima bulan berjalan dari 25 November 2004 yang lalu. Tentunya dalam lima bulan ini saya mencoba untuk terbuka dan jujur akan diri saya serta perasaan ini terhadap pacar saya itu. Baru – baru ini secara tidak sengaja saya mengungkap suatu hal yang mungkin menurut orang kebanyakan tidak masuk akal di depannya. Dan seperti kebanyakan orang lainnya, pacar saya terkejut mendengar kenyataan yang saya utarakan itu. Hari itu pun berakhir dengan tidak mengenakkan.
Saya sungguh sangat amat menyesal telah mengungkap hal yang seharusnya tidak perlu dia ketahui, karena hal ini merupakan suatu dari pribadi diri saya yang saya tutupi agar orang dapat memandang saya sebagai seorang manusia biasa seperti pada ukuran normalnya.
Semalaman saya memutar otak dan begitu menyesali kenyataan akan keadaan yang baru menimpa saya. Dan sampailah pada kesimpulan bahwa saya harus menyaring untuk menceritakan siapa saya seperti yang selama ini telah saya lakukan terhadap teman – teman saya.
Keesokan harinya, dengan segala kekalutan hati ini saya curhat pada sahabat saya. Dengan semua uneg – uneg di hati, saya menceritakan hal yang menimpa hubungan saya. Sebelum sahabat saya mengatakan kesimpulan atas masalah saya, saya mendahului dengan mengatakan kesimpulan yang sudah saya rumuskan sepanjang waktu istirahat malam saya. Sahabat saya pun langsung mengiyakan pendapat saya itu. Tapi setelah itu ada satu hal dari pendapat sahabat saya itu yang membuat saya terkejut. Dia mengatakan bahwa dia memang setuju pendapat saya, bila memang masalah itu bukan menimpa pada hubungan saya dan pacar saya, tapi bila saya berhubungan dengan orang lain di sekitar saya. Tapi ini berbeda, saya harus tetap jujur apapun kenyataannya terhadap orang yang menjalin hubungan khusus dengan saya. Ini merupakan proses pengenalan pribadi. Kalau memang ternyata pacar saya tidak dapat menerima kenyataan akan diri saya, berarti memang dia bukanlah orang yang tepat untuk saya.
Karena dalam suatu hubungan antar dua insan yang saling terikat dalam rasa cinta diperlukan kejujuran dan keterbukaan satu sama lain. Sehingga hal ini dapat saling memperkaya satu sama lain.
Dedicated to Hendro Ardianto...you know that i love you much...
Sepenggal Rasa Untuk Sahabat
(dedicated to Olivia Sulistyo, Marsela Lestari, dan Yohanes Rafael Kristanto)
Pada teorinya manusia adalah makhluk sosial yang mau ga mau harus bisa bersosialisasi dan hidup bersama dengan orang lain. Hmmm...memang kadang kita ga bisa langsung menerima atau langsung dekat dengan orang yang baru kita kenal. Dan ga setiap orang bisa dekat dengan kita.
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengungkapkan pengalaman saya hidup dengan orang lain. Seumur hidup saya, saya bukanlah orang yang cepat dekat dengan orang lain. Emang sih untuk bergaul dan kenal dengan orang lain bukanlah merupakan hal yang sulit untuk saya. Tapi untuk berhubungan dekat dengan orang lain, baik itu perempuan maupun laik – laki, merupakan hal yang sulit untuk saya. Entah kenapa, sepertinya saya merasa memiliki dunia sendiri.
Untuk kenal dan berbicara dengan orang lain, merupakan hal yang menyenangkan untuk saya. Saya suka mendengarkan orang berbicara tentang mereka, saya suka ber-Sharing tentang pengalaman – pengalaman saya kepada orang lain. Banyak orang yang menganggap saya supel, mudah bergaul, ramah, dan ceria. Tapi sejujurnya saya bukanlah orang yang mudah untuk “ngomong” tentang diri saya. Saya bukanlah tipe peng-OBRAL yang dengan mudahnya bercerita dan curhat ke semua orang.
Saya adalah orang yang mengandalkan intuisi saya dalam berhubungan dengan orang di sekitar saya. Dalam hidup saya sedikit sekali orang yang benar – benar mengenal pribadi saya, selain keluarga saya tentunya. Betapa senangnya saya ketika bertemu orang yang memang mau dekat dengan saya apa adanya tanpa kepur-puraan. Saat saya sedih, dia tanpa basa-basi sepertinya tahu bagaimana membuat saya untuk mengeluarkan serta mengekpresikan perasaan saya. Saat saya merasa jatuh, dia dapat dengan menyenangkannya membangkitkan kembali semangat saya.
Sobat atau sahabat merupakan orang yang sangat berarti dalam hidup saya. Sahabat tahu kapan pasang dan surut hidup saya. Sahabat memberikan banyak inspirasi bagi hidup saya. Terima kasih pada Tuhan yang telah memberikan hidup yang indah dengan mengenal sahabat yang menemani perjalan hidup saya... Saya selalu berdoa pada yang Di Atas agar selalu menlindungi dan menjagamu dalam perjalanan hidupmu...
Pada teorinya manusia adalah makhluk sosial yang mau ga mau harus bisa bersosialisasi dan hidup bersama dengan orang lain. Hmmm...memang kadang kita ga bisa langsung menerima atau langsung dekat dengan orang yang baru kita kenal. Dan ga setiap orang bisa dekat dengan kita.
Dalam kesempatan ini, saya ingin mengungkapkan pengalaman saya hidup dengan orang lain. Seumur hidup saya, saya bukanlah orang yang cepat dekat dengan orang lain. Emang sih untuk bergaul dan kenal dengan orang lain bukanlah merupakan hal yang sulit untuk saya. Tapi untuk berhubungan dekat dengan orang lain, baik itu perempuan maupun laik – laki, merupakan hal yang sulit untuk saya. Entah kenapa, sepertinya saya merasa memiliki dunia sendiri.
Untuk kenal dan berbicara dengan orang lain, merupakan hal yang menyenangkan untuk saya. Saya suka mendengarkan orang berbicara tentang mereka, saya suka ber-Sharing tentang pengalaman – pengalaman saya kepada orang lain. Banyak orang yang menganggap saya supel, mudah bergaul, ramah, dan ceria. Tapi sejujurnya saya bukanlah orang yang mudah untuk “ngomong” tentang diri saya. Saya bukanlah tipe peng-OBRAL yang dengan mudahnya bercerita dan curhat ke semua orang.
Saya adalah orang yang mengandalkan intuisi saya dalam berhubungan dengan orang di sekitar saya. Dalam hidup saya sedikit sekali orang yang benar – benar mengenal pribadi saya, selain keluarga saya tentunya. Betapa senangnya saya ketika bertemu orang yang memang mau dekat dengan saya apa adanya tanpa kepur-puraan. Saat saya sedih, dia tanpa basa-basi sepertinya tahu bagaimana membuat saya untuk mengeluarkan serta mengekpresikan perasaan saya. Saat saya merasa jatuh, dia dapat dengan menyenangkannya membangkitkan kembali semangat saya.
Sobat atau sahabat merupakan orang yang sangat berarti dalam hidup saya. Sahabat tahu kapan pasang dan surut hidup saya. Sahabat memberikan banyak inspirasi bagi hidup saya. Terima kasih pada Tuhan yang telah memberikan hidup yang indah dengan mengenal sahabat yang menemani perjalan hidup saya... Saya selalu berdoa pada yang Di Atas agar selalu menlindungi dan menjagamu dalam perjalanan hidupmu...
Subscribe to:
Posts (Atom)